my plane

Jumat, 03 Juli 2015



WANITA TIDAK BISA SALAH JIKA SEDANG MARAH

            Suatu saat, salah seorang teman wanita pernah menyatakan satu hal yang menarik pada saya, katanya, “G, nanti kalau kamu bertengkar dengan istrimu, diiyakan saja, wanita itu tidak pernah bisa disalahkan kalau lagi marah-marah.” Well, kita tahu, konteks percakapan tersebut adalah situasi bercanda. Teman saya yang lain, pria, menanggapi, “Benar itu! Saudaraku perempuan kalau marah-marah juga parah! Pokoknya dia harus selalu benar, kaya kalkulator saja.” Kami semua tertawa renyah.  
Tulisan ini tidak bermaksud menjadi tulisan bernada diskriminasi gender yang menyalahkan kaum hawa karena menurut kitab suci ia adalah orang pertama yang mengambil buah terlarang, atau karena menurut mitos, wanita adalah kaum yang lemah secara emosional, bukan seperti itu. Tulisan ini bermaksud membahas peran emosi dalam pendidikan kehidupan manusia. Sederhananya, apabila ada pertanyaan seperti ”Apa penyebab perceraian?”, “Apa penyebab perang?”, “Apa penyebab penderitaan?”, ”Apa penyebab perkelahian antar pelajar?”, dan seterusnya. Jawaban penulis hanya satu: ketidakmampuan mengendalikan emosi.
Tentu ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi bisa terjadi pada siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan, tua-muda, besar-kecil, siapapun itu. Hanya saja lebih menarik apabila kita berfokus pada tema pengendalian emosi pada “wanita”. Kenapa wanita? Karena tanpa wanita, dunia tak berharga=).
Pertama-tama, penulis ingin menggarisbawahi bahwa pengendalian emosi penting dilakukan oleh wanita, siapapun Anda. Wanita adalah calon ibu. Ibu adalah orang pertama yang berdiri untuk mendidik anak-anaknya. Ibu adalah orang pertama yang menjaga suaminya dari segala keletihan karena bekerja. Ada alasan mulia kenapa bangsa kita memilih menamakan Ibu Pertiwi sebagai personifikasi bangsa daripada bapak Pertiwi. Indonesia juga lebih perduli terhadap hari Ibu pada tanggal 22 Desember, daripada hari Ayah, yang tidak pernah dirayakan. 
Berbicara tentang pengendalian emosi, ketahuilah bahwa emosi positif membawa pemaknaan hidup individu ke arah yang positif (dewasa) dan emosi negatif membawa pemaknaan hidup individu ke arah negatif (tidak dewasa). Seligman dalam bukunya Authentic Happiness (2002) menggolongkan emosi positif dalam tiga kategori sebagai berikut; emosi terhadap masa lalu, emosi terhadap masa sekarang, emosi terhadap masa depan.
Emosi terhadap masa lalu yang bersifat positif mengandung unsur-unsur seperti: kepuasan, kebanggaan, ketentraman, ketenangan, kedamaian, kepenuhan, serta semua emosi positif yang dihasilkan dari interaksi antara individu dengan pengalaman masa lalu. Emosi terhadap pengalaman masa lalu yang bersifat negatif mengandung unsur-unsur seperti; ketidakpuasan, luka batin, dendam, kebencian, serta kecemasan yang dihasilkan dari pengalaman negatif masa lalu.  
Emosi positif terhadap masa sekarang mengandung dua unsur ini: kesenangan indrawi dan kenyamanan psikis yang dialami di masa sekarang akibat interaksi individu dengan pengalaman di masa sekarang. Kebalikan dari emosi positif terhadap masa sekarang, yaitu emosi negatif di masa sekarang. Emosi ini disebabkan oleh pengalaman negatif akibat interaksi individu dengan pengalaman traumatis baru-baru ini, yang disebabkan kontak fisik seseorang dengan kegagalan, penindasan, maupun kecemasan.
Emosi terhadap masa depan adalah kualitas harapan seseorang di masa depan. Semakin banyak individu mengalami emosi positif, semakin besar harapan hidupnya. Emosi negatif terhadap masa depan dapat dialami apabila seseorang tidak lagi mempunyai harapan untuk masa depannya. Banyaknya kumpulan rekaman emosi negatif dari masa lalu sampai dengan sekarang menjadi penyebabnya (Seligman, 2002, h. 10-20).
       Wanita yang banyak merekam emosi-emosi positif dalam dirinya berpotensi besar menjadi wanita yang dewasa.Wanita yang banyak merekam emosi-emosi negatif dalam dirinya berpotensi besar menjadi wanita yang tidak dewasa. Selanjutnya, anda bisa menebak, wanita-wanita tidak dewasa akan mendidik generasi bangsa ini dengan penanaman emosi negatif seperti kemarahan, kebencian, dendam, iri hati dan seterusnya. Wanita yang mempunyai terlalu banyak emosi negatif dirinya perlu mengadakan penyembuhan luka batin, atau rekonsiliasi terhadap masa lalu sebelum mendidik anaknya.
         Bagaimana mendapatkan dan merekam lebih banyak emosi positif? Hanya satu saran penulis, carilah komunitas yang memberikan anda kekuatan untuk menjadi lebih baik. Cermati keluarga, teman-teman, sahabat-sahabat, orang yang anda sayangi. Apakah dengan adanya interaksi antara Anda dan mereka, Anda merekam emosi yang menentramkan anda? Atau malah lebih meresahkan Anda? Jika cenderung meresahkan, wanita yang bijak perlu segera mengambil sikap dengan mencari komunitas baru yang mendukung kepribadiannya.
Sangat penting bagi para wanita untuk banyak-banyak merekam emosi yang positif, yang cenderung menentramkan, mendamaikan, daripada merekam emosi yang meresahkan. Hindari juga “hedonism treadmill”, pola hidup hedonisme yang hanya memberi ketentraman sementara, dan lebih banyak memberi kehausan selamanya. Jika anda sudah menemukan komunitas yang cukup menentramkan dan banyak memberikan emosi positif pada Anda, anak-anak atau calon anak-anak yang akan anda didik akan berada dalam lingkungan pendidikan yang aman. Sebaliknya, apabila anda masih bertekun dalam komunitas yang banyak meresahkan anda, memberikan anda rasa tidak aman, anda harus bersiap, karena anda akan mendidik anak-anak anda dengan ketidakmampuan anda mengendalikan emosi.   


Salam “Solidaritas”
Mr. G
Founder of “Primagama English Kertanegara”
Jl. Kertanegara iv no 10 Semarang (7 menit dari Simpang Lima)
Email = gregdaru@gmail.com




4 komentar:

  1. Pak Bagaimana cara mengatasi pacar yang sedang marah marah kepada saya? Padahal pacar saya jelas jelas salah . Dan saya sudah mencoba untuk mengiyakan saja dan mencoba mengalah. tetapi pihak wanita tetap marah marah terus. Padahal sabarkan juga ada batasnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sorry Dedy, baru bisa balas. First thing first.
      Dedy adalah laki-laki, maka bersikaplah sebagai laki-laki. Apa artinya? Berilah penghargaan pada sahabat ataupun pacarmu apapun yang terjadi. Tetapi Dedy perlu mempunyai prinsip sebagai pribadi. Sejauh saya tahu, semarah apapun wanita, mereka menghargai lelaki yang penyayang dan lelaki yang punya prinsip.

      Bisa jadi.....ini kemungkinan, kemarahan wanita pacar Dedy atau sahabat dedy karena Dedy masih belum amat sangat tangguh dalam memegang prinsip atau menghargai wanita.

      Great wishes!

      Hapus
  2. Maaf Pak Daru, saya ingin bertanya.. bagaimana jika emosi yang timbul itu tidak disengaja? Seperti, aslinya tidak ingin marah, tapi karena ada hal yang membuat seperti ingin menangis, lalu diluapkan dengan emosi, padahal sudah berusaha untuk tidak marah, dan orang sekitar bisanya hanya menyalahkan dan menyalahkan yang sedang emosi itu, lalu bagaimana sarannya pak? terimakasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak ada manusia sempurna Fajrin. Ini penting didalami. Banyak manusia belum mampu mengendalikan emosi karena mereka belum menerima diri apa adanya.

      Saranku, pertama, terima diri apa adanya.
      Dua, secara jujur, perbaiki diri sebagaimana bisa.

      Enjoy your life Fajrin. WYAB

      Hapus