my plane

Selasa, 28 Juni 2016

MENDIDIK ANAK “BANDEL”
Gregorius Daru Wijoyoko, S.S., M.Si


Artikel ini berbicara mengenai “pendidikan anak”. Bisa dikatakan bahwa tulisan ini berupa sharing dari pengalaman-pengalaman penulis di masa lalu. Penulis adalah manajer Kertanegara Learning Center dan sekaligus dosen. Sebelum menjadi manajer dan dosen, penulis pernah menjadi guru bahasa Inggris puluhan Playgroup dan TK di Semarang. Pengalaman unik yang tidak semua orang memilikinya. Nah, siapa tahu sharing ini bisa berguna. Ready? Let’s began!

Pertama, penulis ingin menegaskan kepercayaan penulis bahwa tidak ada anak “bandel” di dunia. Bandel itu hanya sejauh stereotip belaka. Bandel adalah paradigma yang semu, tidak lebih, tidak kurang. Secara psikologis, memang ada anak dengan kecenderungan psikis tertentu seperti hiper aktif, autis, dan sebagainya. Apapun itu, penulis percaya bahwa anak “bandel” itu secara genetis tidak ada, meskipun anak bandel bisa tercipta setelah anak melalui berbagai pengalaman hidup yang menegaskan karakter-karakter tertentu yang dicap orang “bandel”. Okay, penulis mengakui bahwa kadang-kadang anak bisa berbuat “bandel”, tetapi itu hanya sementara, tidak mungkin selamanya.

Sebelum Anda memberi stereotip “idealis” kepada saya, mari kita diskusikan definisi anak yang “bandel”. “Bandel” menurut KBBI adalah sikap keras kepala, tidak mau mendengar nasihat orang lain, melawan kata atau nasihat orang tua. Ya, kadang secara temporer, saya menemui anak laki-laki yang suka berkelahi, anak yang tidak mau belajar, anak yang “suka bercanda minta ampun” ketika di dalam kelas, anak yang disuruh disiplin tidak mau, anak yang melawan guru, anak yang menampar orang tua, dan seterusnya. Tetapi, sekali lagi, ini bersifat temporer atau sementara. Sejauh yang saya mengerti, kadang anak yang di”cap” “bandel” pada waktu TK atau SD, berubah menjadi manusia berprestasi dengan prinsip yang teguh di masa depan. Sejauh saya mengerti, bandel, adalah sementara.  Ada begitu banyak contoh anak yang dicap “bandel” di masa kecil, termasuk saya yang paling sering dihukum guru pada waktu SD, mengalami perubahan kehidupan, dan kemudian menjadi pribadi dewasa di masa depan. Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastuti, juga menjadi contoh lain pribadi yang “bandel” terhadap orangtua di waktu SMA dan menjadi pemimpin dewasa skala nasional di masa sekarang. 

Berbicara tentang “bandel”, kita perlu memahami bahwa tulisan ini ingin lebih fokus membahas mengenai bagaimana anak belajar dari “kebandelan sementara”nya dan kemudian berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Bagi penulis, perubahan kebandelan seorang anak, ditentukan dari tiga perspektif, yakni sumber perubahan, pola perubahan, dan konsekuensi dari perubahan sikap “bandel” dari anak tersebut. Dari berbagai studi, penulis memahami bahwa tiga unsur tersebut bisa dipertemukan dalam satu kata sederhana: KONFLIK.

Betul! Konflik bisa merubah pribadi menjadi lebih dewasa. Konflik bisa menjadi sumber perubahan 
kepribadian anak menjadi lebih baik, konflik-konflik bisa menentukan pola perubahan kepribadian anak dan konflik sekaligus menjadi konsekuensi dari kebandelan anak tersebut. Hal ini penting dipahami agar para orangtua maupun pendidik anak menempatkan konflik yang dialami anak “bandel” sebagai proses pendewasaan dan tidak melulu sebagai pemicu kecemasan terhadap masa depan anak.

Dahulu waktu SD, saya sangat kesal setiap kali dihukum berkali-kali karena saya belum mengerti makna disiplin. Sekarang, saya bisa berterimakasih terhadap guru-guru SD saya yang menghukum saya untuk ngosek WC siswa dan guru (membersihkan toilet siswa dan guru yang baunya minta ampun sampai bersih) setiap kali saya datang terlambat. Saya juga berterimakasih terhadap orangtua saya yang tidak pernah protes ketika saya dihukum.

Di waktu itu, saya mengalami konflik. Di satu sisi, saya kesal dan marah setengah mati karena harus membersihkan WC yang luas dan bau pesing setengah mati, di lain sisi, guru-guru seolah-olah tidak kapok menghukum saya ketika saya tidak disiplin dan orangtua saya tidak membela saya. Seolah, pada waktu itu, saya merasa dihukum sendirian. Saya baru menyadari ketika saya beranjak dewasa, guru-guru saya mendidik saya untuk disiplin dalam berbuat. Di masa depan, jika Anda tidak disiplin, Anda tidak akan bisa bersaing dengan orang-orang kompeten. Di masa depan, tanpa disiplin, Anda tidak mungkin bisa berhasil dalam hal apapun. Sekarang saya mengerti, jika saja ketika saya kecil guru dan orangtua saya tidak dengan keras mendidik saya supaya disiplin, saya mungkin saja akan berbuat seenak hati di masa tua saya.  

Sebagai ilustrasi, seorang ilmuwan alam, menggambarkan fungsi gempa bumi, yang baru-baru ini dianggap secara mengagumkan menggambarkan apa yang bisa dianggap fungsi konflik. 'Tidak ada yang tidak normal tentang gempa bumi. Bumi yang tidak tergoyahkan akan menjadi bumi yang mati. Sebuah gempa adalah cara bumi mempertahankan titik keseimbangannya, suatu bentuk penyesuaian yang memungkinkan kerak untuk menghasilkan ke tekanan yang cenderung untuk membenahi dan mendistribusikan bahan yang itu terdiri .... Semakin besar pergeseran, semakin kekerasan gempa, dan lebih sering bergeser, yang mengakibatkan semakin keras goncangan. Tetapi, semakin keras goncangan, semakin bumi mendapatkan keseimbangan stabil yang baru (Lewis A Coser).

Tulisan ini sekaligus kritik terhadap para orangtua yang dengan dalih “kasih sayang” memanjakan anak-anak mereka dan mengurung anak-anak dalam “sangkar emas” tanpa konflik. Misalnya orangtua yang menuntut setiap guru yang memberi sanksi indisipliner terhadap anak. Atau lebih parah, orangtua yang mendiamkan anaknya karena terlalu sibuk. Pada intinya, setiap orang akan mengalami konflik. Setiap anak akan mengalami pendewasaan.  Anda suka atau tidak, perubahan dalam hidup adalah sesuatu yang pernah terjadi, sedang terjadi dan akan tetap terjadi. Ini terjadi pada saya, Anda, dan pasti anak anda.

Perubahan kehidupan adalah kepastian kebenaran. Ada baiknya anak-anak kita dididik untuk tangguh menghadapi perubahan. Caranya adalah bukan dengan memanjakan atau mengacuhkan anak ketika konflik datang kepada mereka tetapi mendampingi mereka menghadapi konflik-konflik hidup yang mendewasakan mereka. Biarlah anak-anak yang dicap “bandel” menjadi tangguh dan dewasa dengan cara mereka.

    

NB: Sorry, beberapa pertanyaan di masa lalu belum bisa terjawab karena blog saya tidak aktif....Sekarang blog saya aktif lagi. Silahkan berinteraksi. Thanks! Wish You All The Best! 


Mr. G, 
Manager of Kertanegara Learning Center
Menerima Kursus Bahasa Inggris, musik (piano) dan semapel 
TOEFL preparation, TOEIC preparation, professional Conversation.

Jl. Kertanegara IV no 10 Semarang
telp: 08112991500
email: gregdaru@gmail.com

Jumat, 03 Juli 2015



WANITA TIDAK BISA SALAH JIKA SEDANG MARAH

            Suatu saat, salah seorang teman wanita pernah menyatakan satu hal yang menarik pada saya, katanya, “G, nanti kalau kamu bertengkar dengan istrimu, diiyakan saja, wanita itu tidak pernah bisa disalahkan kalau lagi marah-marah.” Well, kita tahu, konteks percakapan tersebut adalah situasi bercanda. Teman saya yang lain, pria, menanggapi, “Benar itu! Saudaraku perempuan kalau marah-marah juga parah! Pokoknya dia harus selalu benar, kaya kalkulator saja.” Kami semua tertawa renyah.  
Tulisan ini tidak bermaksud menjadi tulisan bernada diskriminasi gender yang menyalahkan kaum hawa karena menurut kitab suci ia adalah orang pertama yang mengambil buah terlarang, atau karena menurut mitos, wanita adalah kaum yang lemah secara emosional, bukan seperti itu. Tulisan ini bermaksud membahas peran emosi dalam pendidikan kehidupan manusia. Sederhananya, apabila ada pertanyaan seperti ”Apa penyebab perceraian?”, “Apa penyebab perang?”, “Apa penyebab penderitaan?”, ”Apa penyebab perkelahian antar pelajar?”, dan seterusnya. Jawaban penulis hanya satu: ketidakmampuan mengendalikan emosi.
Tentu ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi bisa terjadi pada siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan, tua-muda, besar-kecil, siapapun itu. Hanya saja lebih menarik apabila kita berfokus pada tema pengendalian emosi pada “wanita”. Kenapa wanita? Karena tanpa wanita, dunia tak berharga=).
Pertama-tama, penulis ingin menggarisbawahi bahwa pengendalian emosi penting dilakukan oleh wanita, siapapun Anda. Wanita adalah calon ibu. Ibu adalah orang pertama yang berdiri untuk mendidik anak-anaknya. Ibu adalah orang pertama yang menjaga suaminya dari segala keletihan karena bekerja. Ada alasan mulia kenapa bangsa kita memilih menamakan Ibu Pertiwi sebagai personifikasi bangsa daripada bapak Pertiwi. Indonesia juga lebih perduli terhadap hari Ibu pada tanggal 22 Desember, daripada hari Ayah, yang tidak pernah dirayakan. 
Berbicara tentang pengendalian emosi, ketahuilah bahwa emosi positif membawa pemaknaan hidup individu ke arah yang positif (dewasa) dan emosi negatif membawa pemaknaan hidup individu ke arah negatif (tidak dewasa). Seligman dalam bukunya Authentic Happiness (2002) menggolongkan emosi positif dalam tiga kategori sebagai berikut; emosi terhadap masa lalu, emosi terhadap masa sekarang, emosi terhadap masa depan.
Emosi terhadap masa lalu yang bersifat positif mengandung unsur-unsur seperti: kepuasan, kebanggaan, ketentraman, ketenangan, kedamaian, kepenuhan, serta semua emosi positif yang dihasilkan dari interaksi antara individu dengan pengalaman masa lalu. Emosi terhadap pengalaman masa lalu yang bersifat negatif mengandung unsur-unsur seperti; ketidakpuasan, luka batin, dendam, kebencian, serta kecemasan yang dihasilkan dari pengalaman negatif masa lalu.  
Emosi positif terhadap masa sekarang mengandung dua unsur ini: kesenangan indrawi dan kenyamanan psikis yang dialami di masa sekarang akibat interaksi individu dengan pengalaman di masa sekarang. Kebalikan dari emosi positif terhadap masa sekarang, yaitu emosi negatif di masa sekarang. Emosi ini disebabkan oleh pengalaman negatif akibat interaksi individu dengan pengalaman traumatis baru-baru ini, yang disebabkan kontak fisik seseorang dengan kegagalan, penindasan, maupun kecemasan.
Emosi terhadap masa depan adalah kualitas harapan seseorang di masa depan. Semakin banyak individu mengalami emosi positif, semakin besar harapan hidupnya. Emosi negatif terhadap masa depan dapat dialami apabila seseorang tidak lagi mempunyai harapan untuk masa depannya. Banyaknya kumpulan rekaman emosi negatif dari masa lalu sampai dengan sekarang menjadi penyebabnya (Seligman, 2002, h. 10-20).
       Wanita yang banyak merekam emosi-emosi positif dalam dirinya berpotensi besar menjadi wanita yang dewasa.Wanita yang banyak merekam emosi-emosi negatif dalam dirinya berpotensi besar menjadi wanita yang tidak dewasa. Selanjutnya, anda bisa menebak, wanita-wanita tidak dewasa akan mendidik generasi bangsa ini dengan penanaman emosi negatif seperti kemarahan, kebencian, dendam, iri hati dan seterusnya. Wanita yang mempunyai terlalu banyak emosi negatif dirinya perlu mengadakan penyembuhan luka batin, atau rekonsiliasi terhadap masa lalu sebelum mendidik anaknya.
         Bagaimana mendapatkan dan merekam lebih banyak emosi positif? Hanya satu saran penulis, carilah komunitas yang memberikan anda kekuatan untuk menjadi lebih baik. Cermati keluarga, teman-teman, sahabat-sahabat, orang yang anda sayangi. Apakah dengan adanya interaksi antara Anda dan mereka, Anda merekam emosi yang menentramkan anda? Atau malah lebih meresahkan Anda? Jika cenderung meresahkan, wanita yang bijak perlu segera mengambil sikap dengan mencari komunitas baru yang mendukung kepribadiannya.
Sangat penting bagi para wanita untuk banyak-banyak merekam emosi yang positif, yang cenderung menentramkan, mendamaikan, daripada merekam emosi yang meresahkan. Hindari juga “hedonism treadmill”, pola hidup hedonisme yang hanya memberi ketentraman sementara, dan lebih banyak memberi kehausan selamanya. Jika anda sudah menemukan komunitas yang cukup menentramkan dan banyak memberikan emosi positif pada Anda, anak-anak atau calon anak-anak yang akan anda didik akan berada dalam lingkungan pendidikan yang aman. Sebaliknya, apabila anda masih bertekun dalam komunitas yang banyak meresahkan anda, memberikan anda rasa tidak aman, anda harus bersiap, karena anda akan mendidik anak-anak anda dengan ketidakmampuan anda mengendalikan emosi.   


Salam “Solidaritas”
Mr. G
Founder of “Primagama English Kertanegara”
Jl. Kertanegara iv no 10 Semarang (7 menit dari Simpang Lima)
Email = gregdaru@gmail.com




Kamis, 02 Juli 2015



Akibat Kesepian Bagi Para Pelajar

Ketika penulis SMA, penulis mempunyai seorang sahabat, sebut saja namanya X. Ia adalah seorang anak orang kaya, pandai mencari teman, cerdas dan tampan. Sekilas, tahun pertama SMA, hidupnya sempurna. Tidak saya duga, dua tahun kemudian, X akhirnya harus berpisah dengan kami karena harus menjalani rehabilitasi karena ia mengalami ketergantungan terhadap narkoba.
            Kisah lain yang sedikit berbeda datang dari mahasiswi bernama Mawar, nama samaran. Mawar adalah pribadi yang sexy, manis, pendiam, pemalu, baik hati dan setia. Konon, Mawar mempunyai seorang pacar. Pada 6 bulan pertama hubungan mereka, semuanya baik-baik saja. Tetapi satu tahun setelahnya Mawar mengalami tindak kekerasan berkali-kali. Kepalanya dipukul, lengannya dicengkeram, bahkan Mawar pernah dilempar pisau dan melukai salah satu bagian tubuhnya. Untungnya Mawar selamat.
Dua-duanya adalah kisah nyata. Mungkin ada juga dari Anda yang mengalaminya mengingat 1,3 juta pelajar pertahun terlibat narkoba dan ada sekitar ribuan kasus kekerasan antar pelajar pertahun terjadi di Indonesia. Apa persamaan dari dua kisah di atas? Ada satu hal yang ingin penulis sampaikan. Kedua kisah tersebut mempunyai satu akar penyebab yang sama.
Sebelum mengalami masalah yang rumit, X dan Mawar sama-sama mengalami kesepian. Mengapa mereka mengalami kesepian? Karena orangtua mereka yang sangat mereka sayangi tidak peduli terhadap mereka. Kisah ini cukup unik karena menurut mereka, yang menjadi penyebab mereka jatuh ke dalam penderitaan masa muda adalah: kesepian yang tidak dengan segera mereka tangani.   
Kesepian adalah suatu perasaan ditinggalkan atau ditolak oleh komunitas terdekat kita. Penulis percaya setiap dari kita pernah mengalami suatu saat down yang mengakibatkan kesepian. Kesepian mempunyai banyak akibat ke depannya. Penulis menyarankan, siapapun Anda, hindari kesepian, atasi kesepian, bagaimanapun caranya, secepatnya. Apalagi jika anda adalah pelajar. Usia-usia pelajar adalah usia dimana hubungan sosial menjadi situasi yang penting.
Salah satu akibat dari kesepian adalah melemahnya kedewasaan. Semakin lemah kedewasaan seseorang, semakin rendah tanggung jawab individu (Ryan dan Deci,2000, h. 4, 13, 60). Rendahnya kedewasaan dan tanggung jawab bisa memicu depresi, memperlemah antibodi, penyakit-penyakit psikosomatis seperti maag atau migrain, mempercepat tumbuhnya sel kanker, bahkan sampai dengan kematian. Oleh sebab itu, apabila komunitas terdekat Anda menolak jati diri Anda, sebaiknya Anda segera menerima komunitas baru yang bisa mendukung jati diri Anda. Sahabat Anda menolak Anda? Segera cari sahabat baru. Pacar Anda menolak Anda? Segera cari pacar baru yang lebih baik. Orangtua Anda menolak Anda? Anda perlu mencari relasi yang menggantikan relasi “orangtua-anak” tersebut dengan pribadi baru yang mensupport Anda secepatnya, atau kalau tidak, Anda mengalami kesepian akut.  
Masalahnya, penelitian penulis baru-baru ini menyatakan apabila para pelajar yang kesepian cenderung lebih suka mengurung diri dan meratapi kesepiannya daripada berusaha menemukan lingkungan yang mendukung perkembangan kedewasaannya. “Aku memang bodoh”, “Aku memang jelek”, “Aku memang jahat”, “Aku memang berdosa”, dan konsep-konsep diri negatif tersebut tidak akan berubah apabila para pelajar yang kesepian tidak segera mencari komunitas yang menerima siapa dia dengan kelebihan-kekurangan yang dia punyai.
Jika pun pelajar tersebut mencari komunitas untuk mengatasi kesepiannya, mereka yang mengalami kesepian akan cenderung bergabung dengan komunitas yang menerima konsep diri negatifnya saja. Akibatnya, konsep negatif tersebut sulit berubah. Jadi, pelajar yang telah memberi konsep “bodoh” pada dirinya akan menjadi tidak nyaman bergaul dengan komunitas “pintar”. Pelajar yang memberi konsep “nakal” pada dirinya akan sulit bergaul dengan komunitas yang “murah hati”. Singkatnya, pelajar yang merasa dirinya “bodoh” akan mencari pergaulan komunitas “bodoh”, anak-anak “nakal akan bergabung membentuk komunitas “nakal”, sehingga konsep diri negatif tersebut akan tetap melekat dan semakin kuat dalam dirinya. Sekarang anda bisa bayangkan apabila seorang pelajar mempunyai konsep diri “jahat, jenius, pemarah” mengalami kesepian karena dia mengalami penolakan oleh teman-temannya dan menerima pengacuhan dari orangtua yang terlalu sibuk dengan keegoisan mereka dan akhirnya cerai. Apa yang akan ia lakukan? Bisa jadi kasus-kasus psikopat baru akan lahir (lih. kasus Thomas, http://www.sott.net/article/178476).    
Kesimpulannya adalah, semua orang, apalagi pelajar, perlu mengatasi kesepiannya dengan cara mencari mikrosistem baru yang mensupport dirinya sebagaimana dia apa adanya. “Solidaritas” merupakan kata kunci yang tepat. Bagaimana anda sudah pasti tahu menemukan sahabat-sahabat yang tepat? Anda bisa yakin menemukan komunitas yang tepat bagi Anda, apabila anda yang tadinya merasa “jelek” atau “jahat”, atau “gendut” atau “bodoh” atau apapun konsep negatif yang anda yakini, menjadi pudar setelah bergabung dalam komunitas tersebut. Anda menjadi merasa lebih percaya diri dengan anda apa adanya meski secara fisik, anda adalah orang yang sama. Pastikan bahwa komunitas Anda membuat anda memiliki kekuatan kontekstual (*kekuatan yang berasal dari dukungan komunitas) yang mendukung hidup anda memiliki masa depan yang lebih baik. Atau kalau tidak, sahabat Anda adalah kesepian.

Great Luck 4 ur life!


Salam “Solidaritas”
Mr. G
Founder of “Primagama English Kertanegara”
Jl. Kertanegara iv no 10 Semarang (7 menit dari Simpang Lima)
Email = gregdaru@gmail.com


Kamis, 18 Juni 2015




Memahami Mahasiswa Sebagai Subjek Pendidikan
Pendidikan merupakan proses perubahan tata laku seseorang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (definisi pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991). Hal ini dialami dari siswa PAUD sampai dengan mahasiswa di Perguruan Tinggi. Bisa dikatakan bahwa dengan mengalami pendidikan, anak sedang menuju pemaknaan dewasa yang stabil. Cukup wajar jika siswa yang mengalami proses pendidikan kadang mengalami ketidakstabilan dalam bidang komitmen dan kedewasaan. Akibatnya, mereka mengalami ketidakstabilan tanggung jawab belajar. Hal yang tidak wajar adalah apabila pihak-pihak yang berwenang dalam mikrosistem pendidikan membiarkan ketidakstabilan ini. 
Menjadi pengajar dalam proses pendidikan terhadap manusia yang labil tentu suatu hal yang tidak mudah. Pengajar perlu memperhatikan faktor-faktor yang membuat daya komitmen membesar. Komitmen besar bisa didapatkan dengan memperkuat kedewasaan mahasiswa. Mahasiswa juga memerlukan faktor kebahagiaan untuk menunjang motivasi belajarnya.
Kebahagiaan ini bisa didapat dari dukungan positif dari mikrosistem (keluarga, sahabat) terhadap mahasiswa untuk meningkatkan pola hidup sehat yang teratur, kebiasaan-kebiasaan untuk mempersiapkan segala sesuatu dengan baik, melaksanakan sesuai rencana, mengevaluasi pelaksanaan hal-hal yang berkaitan dengan hidup mahasiswa. Mikrosistem perlu berinteraksi untuk memastikan bahwa mahasiswa tidak kesepian. Mahasiswa perlu mendapat dukungan yang cukup demi menjadikan dia bertanggung jawab terhadap hidupnya.
Hal ini bisa dimulai dengan hal sederhana, misalnya dengan secara konsisten mempersiapkan aktivitas harian, melaksanakan aktivitas harian, mengevaluasi aktivitas harian. Perilaku seperti merapikan tempat tidur setelah bangun, membersihkan diri secara teratur, membuat jadwal harian pribadi, menulis buku diari atau buku evaluasi jurnal harian, sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. 

Saran Terhadap Mikrosistem Pendidikan
Mikrosistem melibatkan lingkungan yang berinteraksi langsung dengan individu. Peneliti ingin fokus memberi saran kepada elemen keluarga sebagai elemen mikrosistem terpenting mahasiswa.
Seperti diketahui secara umum bahwa gen dari ayah dan ibu akan membentuk dasar kepribadian anak dan terlibat dalam pembentukan pemaknaan hidup individu. Saran pertama, adalah bahwa sudah sepatutnya ayah dan ibu individu menjaga kesehatan mereka sebaik-baiknya, baik kesehatan fisik maupun mental. Orangtua perlu mengatur kesehatan mereka sebaik-baiknya. Pola hidup tidak sehat seperti merokok, tidak disiplin mengelola ritme kerja tubuh, pola makan yang tidak seimbang, dan pola hidup membahayakan kesehatan fisik dan mental perlu dihilangkan sedini mungkin, atau minimal sejak menikah. Semua usaha untuk meminimalisir resiko melahirkan individu yang tidak sehat secara fisik, mental maupun genetis perlu diterapkan dengan disiplin.
Kedua, pemaknaan individu alami ini kemudian berinteraksi dengan mikrosistem di sekitar individu sepanjang waktu, terutama dengan keluarga. Banyak mahasiswa bisa saja melupakan sebagian besar guru-guru TK, SD, SMP, dan SMK mereka tetapi mereka tidak pernah melupakan orangtua mereka. Keluarga adalah elemen mikrosistem terpenting dalam interaksi ekologis mereka. Saran penulis, keluarga perlu mengembangkan sistem komunikasi yang intens, berorientasi pada rekonsiliasi serta saling mendukung satu dengan yang lain. Faktor komunikasi yang intens menjadi penentu menguat atau melemahnya tanggung jawab belajar individu. Kasih sayang yang adil antara anggota keluarga wajib direkomendasikan.
Beberapa mahasiswa masih merasa kesepian meskipun mereka mempunyai orangtua yang lengkap. Unsur komunikasi seperti kejujuran, pengertian, maaf, penghargaan, perhatian, kepercayaan, dukungan adalah hal-hal yang direkomendasikan oleh penulis diterapkan setiap hari di tengah kesibukan para anggota keluarga. Penting untuk tidak membiarkan salah satu anggota keluarga mengalami kesepian.
Apabila perilaku komunikasi intens diterapkan setiap hari, konsekuensinya, dinamika emosi yang dialami dan terekam, kekuatan psikologis diri yang terbangun akan berkembang membentuk pemaknaan hidup individu yang dewasa dan berkomitmen.