MENDIDIK
ANAK “BANDEL”
Gregorius
Daru Wijoyoko, S.S., M.Si
Artikel ini berbicara
mengenai “pendidikan anak”. Bisa dikatakan bahwa tulisan ini berupa sharing
dari pengalaman-pengalaman penulis di masa lalu. Penulis adalah manajer Kertanegara Learning Center dan
sekaligus dosen. Sebelum menjadi manajer dan dosen, penulis pernah menjadi guru
bahasa Inggris puluhan Playgroup dan TK di Semarang. Pengalaman unik yang tidak
semua orang memilikinya. Nah, siapa tahu sharing ini bisa berguna. Ready? Let’s began!
Pertama, penulis ingin
menegaskan kepercayaan penulis bahwa tidak ada anak “bandel” di dunia. Bandel
itu hanya sejauh stereotip belaka. Bandel adalah paradigma yang semu, tidak
lebih, tidak kurang. Secara psikologis, memang ada anak dengan kecenderungan
psikis tertentu seperti hiper aktif, autis, dan sebagainya. Apapun itu, penulis
percaya bahwa anak “bandel” itu secara genetis tidak ada, meskipun anak bandel
bisa tercipta setelah anak melalui berbagai pengalaman hidup yang menegaskan
karakter-karakter tertentu yang dicap orang “bandel”. Okay, penulis mengakui bahwa kadang-kadang anak bisa berbuat
“bandel”, tetapi itu hanya sementara, tidak mungkin selamanya.
Sebelum Anda memberi
stereotip “idealis” kepada saya, mari kita diskusikan definisi anak yang
“bandel”. “Bandel” menurut KBBI adalah sikap keras kepala, tidak mau mendengar
nasihat orang lain, melawan kata atau nasihat orang tua. Ya, kadang secara temporer, saya menemui anak laki-laki
yang suka berkelahi, anak yang tidak mau belajar, anak yang “suka bercanda
minta ampun” ketika di dalam kelas, anak yang disuruh disiplin tidak mau, anak
yang melawan guru, anak yang menampar orang tua, dan seterusnya. Tetapi, sekali
lagi, ini bersifat temporer atau
sementara. Sejauh yang saya mengerti, kadang anak yang di”cap” “bandel” pada
waktu TK atau SD, berubah menjadi manusia berprestasi dengan prinsip yang teguh
di masa depan. Sejauh saya mengerti, bandel, adalah sementara. Ada begitu banyak contoh anak yang dicap
“bandel” di masa kecil, termasuk saya yang paling sering dihukum guru pada
waktu SD, mengalami perubahan kehidupan, dan kemudian menjadi pribadi dewasa di
masa depan. Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastuti, juga menjadi
contoh lain pribadi yang “bandel” terhadap orangtua di waktu SMA dan menjadi
pemimpin dewasa skala nasional di masa sekarang.
Berbicara tentang
“bandel”, kita perlu memahami bahwa tulisan ini ingin lebih fokus membahas
mengenai bagaimana anak belajar dari “kebandelan sementara”nya dan kemudian
berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Bagi penulis, perubahan
kebandelan seorang anak, ditentukan dari tiga perspektif, yakni sumber perubahan, pola perubahan, dan konsekuensi
dari perubahan sikap “bandel” dari anak tersebut. Dari berbagai studi, penulis
memahami bahwa tiga unsur tersebut bisa dipertemukan dalam satu kata sederhana:
KONFLIK.
Betul! Konflik bisa
merubah pribadi menjadi lebih dewasa. Konflik bisa menjadi sumber perubahan
kepribadian anak menjadi lebih baik,
konflik-konflik bisa menentukan pola perubahan
kepribadian anak dan konflik sekaligus menjadi konsekuensi dari kebandelan anak tersebut. Hal ini penting dipahami
agar para orangtua maupun pendidik anak menempatkan konflik yang dialami anak “bandel” sebagai proses pendewasaan dan
tidak melulu sebagai pemicu kecemasan terhadap masa depan anak.
Dahulu waktu SD, saya
sangat kesal setiap kali dihukum berkali-kali karena saya belum mengerti makna
disiplin. Sekarang, saya bisa berterimakasih terhadap guru-guru SD saya yang
menghukum saya untuk ngosek WC siswa
dan guru (membersihkan toilet siswa dan guru yang baunya minta ampun sampai
bersih) setiap kali saya datang terlambat. Saya juga berterimakasih terhadap
orangtua saya yang tidak pernah protes ketika saya dihukum.
Di waktu itu, saya
mengalami konflik. Di satu sisi, saya kesal dan marah setengah mati karena
harus membersihkan WC yang luas dan bau pesing setengah mati, di lain sisi,
guru-guru seolah-olah tidak kapok menghukum saya ketika saya tidak disiplin dan
orangtua saya tidak membela saya. Seolah, pada waktu itu, saya merasa dihukum
sendirian. Saya baru menyadari ketika saya beranjak dewasa, guru-guru saya
mendidik saya untuk disiplin dalam berbuat. Di masa depan, jika Anda tidak
disiplin, Anda tidak akan bisa bersaing dengan orang-orang kompeten. Di masa
depan, tanpa disiplin, Anda tidak mungkin bisa berhasil dalam hal apapun. Sekarang
saya mengerti, jika saja ketika saya kecil guru dan orangtua saya tidak dengan
keras mendidik saya supaya disiplin, saya mungkin saja akan berbuat seenak hati
di masa tua saya.
Sebagai ilustrasi, seorang
ilmuwan alam, menggambarkan fungsi gempa bumi, yang baru-baru ini dianggap
secara mengagumkan menggambarkan apa yang bisa dianggap fungsi konflik. 'Tidak
ada yang tidak normal tentang gempa bumi. Bumi yang tidak tergoyahkan akan
menjadi bumi yang mati. Sebuah gempa adalah cara bumi mempertahankan titik
keseimbangannya, suatu bentuk penyesuaian yang memungkinkan kerak untuk
menghasilkan ke tekanan yang cenderung untuk membenahi dan mendistribusikan
bahan yang itu terdiri .... Semakin besar pergeseran, semakin kekerasan gempa,
dan lebih sering bergeser, yang mengakibatkan semakin keras goncangan. Tetapi,
semakin keras goncangan, semakin bumi mendapatkan keseimbangan stabil yang baru
(Lewis A Coser).
Tulisan ini sekaligus
kritik terhadap para orangtua yang dengan dalih “kasih sayang” memanjakan
anak-anak mereka dan mengurung anak-anak dalam “sangkar emas” tanpa konflik.
Misalnya orangtua yang menuntut setiap guru yang memberi sanksi indisipliner
terhadap anak. Atau lebih parah, orangtua yang mendiamkan anaknya karena
terlalu sibuk. Pada intinya, setiap orang akan mengalami konflik. Setiap anak
akan mengalami pendewasaan. Anda suka
atau tidak, perubahan dalam hidup adalah sesuatu yang pernah terjadi, sedang
terjadi dan akan tetap terjadi. Ini terjadi pada saya, Anda, dan pasti anak
anda.
Perubahan kehidupan
adalah kepastian kebenaran. Ada baiknya anak-anak kita dididik untuk tangguh
menghadapi perubahan. Caranya adalah bukan dengan memanjakan atau mengacuhkan
anak ketika konflik datang kepada mereka tetapi mendampingi mereka menghadapi
konflik-konflik hidup yang mendewasakan mereka. Biarlah anak-anak yang dicap
“bandel” menjadi tangguh dan dewasa dengan cara mereka.
NB: Sorry, beberapa pertanyaan di masa lalu belum bisa terjawab karena blog saya tidak aktif....Sekarang blog saya aktif lagi. Silahkan berinteraksi. Thanks! Wish You All The Best!
Mr. G,
Manager of Kertanegara Learning Center
Menerima Kursus Bahasa Inggris, musik (piano) dan semapel
TOEFL preparation, TOEIC preparation, professional Conversation.
Jl. Kertanegara IV no 10 Semarang
telp: 08112991500
email: gregdaru@gmail.com
