Memahami Mahasiswa Sebagai Subjek Pendidikan
Pendidikan merupakan proses
perubahan tata laku seseorang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan pelatihan (definisi
pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991). Hal ini dialami dari siswa PAUD sampai dengan
mahasiswa di Perguruan Tinggi. Bisa dikatakan bahwa dengan mengalami
pendidikan, anak sedang menuju pemaknaan dewasa yang stabil. Cukup wajar jika siswa yang mengalami proses pendidikan
kadang mengalami ketidakstabilan
dalam bidang komitmen dan kedewasaan. Akibatnya, mereka mengalami
ketidakstabilan tanggung jawab belajar. Hal yang tidak
wajar adalah apabila pihak-pihak yang berwenang dalam mikrosistem pendidikan
membiarkan ketidakstabilan ini.
Menjadi pengajar dalam proses pendidikan terhadap
manusia yang labil tentu suatu hal yang tidak mudah. Pengajar perlu memperhatikan faktor-faktor yang membuat
daya komitmen membesar. Komitmen besar bisa didapatkan dengan memperkuat kedewasaan mahasiswa. Mahasiswa juga memerlukan faktor
kebahagiaan untuk menunjang motivasi belajarnya.
Kebahagiaan ini bisa didapat dari
dukungan positif dari mikrosistem (keluarga, sahabat) terhadap mahasiswa untuk
meningkatkan pola hidup sehat yang teratur, kebiasaan-kebiasaan untuk
mempersiapkan segala sesuatu dengan baik, melaksanakan sesuai rencana,
mengevaluasi pelaksanaan hal-hal yang berkaitan dengan hidup mahasiswa.
Mikrosistem perlu berinteraksi untuk memastikan bahwa mahasiswa tidak kesepian.
Mahasiswa perlu mendapat dukungan yang cukup demi menjadikan dia bertanggung
jawab terhadap hidupnya.
Hal ini bisa dimulai dengan hal
sederhana, misalnya dengan secara konsisten mempersiapkan aktivitas harian,
melaksanakan aktivitas harian, mengevaluasi aktivitas harian. Perilaku seperti
merapikan tempat tidur setelah bangun, membersihkan diri secara teratur,
membuat jadwal harian pribadi, menulis buku diari atau buku evaluasi jurnal
harian, sangat dianjurkan untuk dilaksanakan.
Saran Terhadap Mikrosistem Pendidikan
Mikrosistem melibatkan lingkungan yang berinteraksi langsung dengan individu.
Peneliti ingin fokus memberi saran kepada elemen keluarga sebagai elemen
mikrosistem terpenting mahasiswa.
Seperti
diketahui secara umum bahwa gen dari ayah dan ibu akan membentuk dasar
kepribadian anak dan terlibat dalam pembentukan pemaknaan hidup
individu. Saran pertama, adalah bahwa sudah sepatutnya ayah dan ibu individu
menjaga kesehatan mereka sebaik-baiknya, baik kesehatan fisik maupun mental.
Orangtua perlu mengatur kesehatan mereka sebaik-baiknya. Pola hidup tidak sehat
seperti merokok, tidak disiplin mengelola ritme kerja tubuh, pola makan yang
tidak seimbang, dan pola hidup membahayakan kesehatan fisik dan mental perlu
dihilangkan sedini mungkin, atau minimal sejak menikah. Semua usaha untuk
meminimalisir resiko melahirkan individu yang tidak sehat secara fisik, mental
maupun genetis perlu diterapkan dengan disiplin.
Kedua,
pemaknaan individu alami ini kemudian berinteraksi dengan mikrosistem di
sekitar individu sepanjang waktu, terutama dengan keluarga. Banyak mahasiswa
bisa saja melupakan sebagian besar guru-guru TK, SD, SMP, dan SMK mereka tetapi
mereka tidak pernah melupakan orangtua mereka. Keluarga adalah elemen
mikrosistem terpenting dalam interaksi ekologis mereka. Saran penulis, keluarga
perlu mengembangkan sistem komunikasi yang intens, berorientasi pada
rekonsiliasi serta saling mendukung satu dengan yang lain. Faktor komunikasi
yang intens menjadi penentu menguat atau melemahnya tanggung jawab belajar
individu. Kasih sayang yang adil antara anggota keluarga wajib
direkomendasikan.
Beberapa
mahasiswa masih merasa kesepian meskipun mereka mempunyai orangtua yang
lengkap. Unsur komunikasi seperti kejujuran, pengertian, maaf, penghargaan,
perhatian, kepercayaan, dukungan adalah hal-hal yang direkomendasikan oleh
penulis diterapkan setiap hari di tengah kesibukan para anggota keluarga.
Penting untuk tidak membiarkan salah satu anggota keluarga mengalami kesepian.
Apabila
perilaku komunikasi intens diterapkan setiap hari, konsekuensinya, dinamika
emosi yang dialami dan terekam, kekuatan psikologis diri yang terbangun akan
berkembang membentuk pemaknaan hidup individu yang dewasa dan berkomitmen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar