my plane

Kamis, 18 Juni 2015




Memahami Mahasiswa Sebagai Subjek Pendidikan
Pendidikan merupakan proses perubahan tata laku seseorang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (definisi pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991). Hal ini dialami dari siswa PAUD sampai dengan mahasiswa di Perguruan Tinggi. Bisa dikatakan bahwa dengan mengalami pendidikan, anak sedang menuju pemaknaan dewasa yang stabil. Cukup wajar jika siswa yang mengalami proses pendidikan kadang mengalami ketidakstabilan dalam bidang komitmen dan kedewasaan. Akibatnya, mereka mengalami ketidakstabilan tanggung jawab belajar. Hal yang tidak wajar adalah apabila pihak-pihak yang berwenang dalam mikrosistem pendidikan membiarkan ketidakstabilan ini. 
Menjadi pengajar dalam proses pendidikan terhadap manusia yang labil tentu suatu hal yang tidak mudah. Pengajar perlu memperhatikan faktor-faktor yang membuat daya komitmen membesar. Komitmen besar bisa didapatkan dengan memperkuat kedewasaan mahasiswa. Mahasiswa juga memerlukan faktor kebahagiaan untuk menunjang motivasi belajarnya.
Kebahagiaan ini bisa didapat dari dukungan positif dari mikrosistem (keluarga, sahabat) terhadap mahasiswa untuk meningkatkan pola hidup sehat yang teratur, kebiasaan-kebiasaan untuk mempersiapkan segala sesuatu dengan baik, melaksanakan sesuai rencana, mengevaluasi pelaksanaan hal-hal yang berkaitan dengan hidup mahasiswa. Mikrosistem perlu berinteraksi untuk memastikan bahwa mahasiswa tidak kesepian. Mahasiswa perlu mendapat dukungan yang cukup demi menjadikan dia bertanggung jawab terhadap hidupnya.
Hal ini bisa dimulai dengan hal sederhana, misalnya dengan secara konsisten mempersiapkan aktivitas harian, melaksanakan aktivitas harian, mengevaluasi aktivitas harian. Perilaku seperti merapikan tempat tidur setelah bangun, membersihkan diri secara teratur, membuat jadwal harian pribadi, menulis buku diari atau buku evaluasi jurnal harian, sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. 

Saran Terhadap Mikrosistem Pendidikan
Mikrosistem melibatkan lingkungan yang berinteraksi langsung dengan individu. Peneliti ingin fokus memberi saran kepada elemen keluarga sebagai elemen mikrosistem terpenting mahasiswa.
Seperti diketahui secara umum bahwa gen dari ayah dan ibu akan membentuk dasar kepribadian anak dan terlibat dalam pembentukan pemaknaan hidup individu. Saran pertama, adalah bahwa sudah sepatutnya ayah dan ibu individu menjaga kesehatan mereka sebaik-baiknya, baik kesehatan fisik maupun mental. Orangtua perlu mengatur kesehatan mereka sebaik-baiknya. Pola hidup tidak sehat seperti merokok, tidak disiplin mengelola ritme kerja tubuh, pola makan yang tidak seimbang, dan pola hidup membahayakan kesehatan fisik dan mental perlu dihilangkan sedini mungkin, atau minimal sejak menikah. Semua usaha untuk meminimalisir resiko melahirkan individu yang tidak sehat secara fisik, mental maupun genetis perlu diterapkan dengan disiplin.
Kedua, pemaknaan individu alami ini kemudian berinteraksi dengan mikrosistem di sekitar individu sepanjang waktu, terutama dengan keluarga. Banyak mahasiswa bisa saja melupakan sebagian besar guru-guru TK, SD, SMP, dan SMK mereka tetapi mereka tidak pernah melupakan orangtua mereka. Keluarga adalah elemen mikrosistem terpenting dalam interaksi ekologis mereka. Saran penulis, keluarga perlu mengembangkan sistem komunikasi yang intens, berorientasi pada rekonsiliasi serta saling mendukung satu dengan yang lain. Faktor komunikasi yang intens menjadi penentu menguat atau melemahnya tanggung jawab belajar individu. Kasih sayang yang adil antara anggota keluarga wajib direkomendasikan.
Beberapa mahasiswa masih merasa kesepian meskipun mereka mempunyai orangtua yang lengkap. Unsur komunikasi seperti kejujuran, pengertian, maaf, penghargaan, perhatian, kepercayaan, dukungan adalah hal-hal yang direkomendasikan oleh penulis diterapkan setiap hari di tengah kesibukan para anggota keluarga. Penting untuk tidak membiarkan salah satu anggota keluarga mengalami kesepian.
Apabila perilaku komunikasi intens diterapkan setiap hari, konsekuensinya, dinamika emosi yang dialami dan terekam, kekuatan psikologis diri yang terbangun akan berkembang membentuk pemaknaan hidup individu yang dewasa dan berkomitmen.

Senin, 01 Juni 2015

MEMPERINGATI KELAHIRAN PANCASILA 
DAN 
"KEMUNDURAN" MAHASISWA INDONESIA

Apabila berbicara tentang KELAHIRAN PANCASILA, penulis ingat pidato menggebu-gebu dari Alm. presiden Soekarno...1 Juni 1945...

".......Kita melihat dalam dunia ini, bahwa banyak negeri-negeri yang merdeka, dan banyak di antara negeri-negeri yang merdeka itu berdiri di atas “Weltanschauung”. Hitler mendirikan Jermania di atas “national-sozialistische Weltanscahuung”, ....... Nippon mendirikan negara Dai Nippon di atas “Weltanschauung”, yaitu yang dinamakan “Tenoo Koodoo Seishin”. ......Saudi Arabia, Ibn Saud, mendirikan negara Arabia di atas satu “Weltanschauung”, bahkan di atas satu dasar agama, yaitu Islam. Demikian itulah, yang diminta oleh Paduka tuan Ketua yang mulia: Apakah “Weltanschauung” kita, jikalau kita hendak mendirikan Indonesia yang merdeka?"

Selama 4 tahun berpartisipasi dalam pendidikan mahasiswa di kampus, kok sepertinya pendidikan Indonesia belum mempunyai  “Weltanschauung” yang diidam-idamkan. Sudah 70 tahun Indonesia merdeka, pendidikan Indonesia masih berjalan di tempat. Data penelitian nasional menyatakan kualitas pembelajaran kampus Indonesia berada di peringkat 49, dari 50 negara yang diteliti. Data lain mengatakan bahwa pendidikan Indonesia masuk dalam peringkat 64, dari 65 negara yang dikeluarkan oleh lembaga Programme for International Study Assessment (PISA), pada tahun 2012. Untuk diketahui, kinerja pendidikan Indonesia pada pemetaan PISA pada tahun 2000, 2003, 2006, 2009, dan 2012, cenderung stagnan (Kompas, 1 Desember 2014). Secara umum, rendahnya peringkat kualitas pendidikan nasional dibandingkan dengan negara lain menyajikan tantangan tersendiri. Pancasila, toh ternyata belum berbicara banyak di bidang pendidikan. Dalam dunia pendidikan sebenarnya tidak ada istilah "diam di tempat". Jika pendidikan anda tidak maju, itu berarti pendidikan anda mundur. 

Kalau Indonesia saja belum "luwes" mengaplikasikan “Weltanschauung” Pancasila dalam dunia pendidikan, bagaimana dengan mahasiswanya? Apakah Mahasiswa mempunyai “Weltanschauung” mereka dalam belajar? Penulis selalu menemui dua pengalaman yang sama per semesternya. Pertama, penulis mengajar kelompok mahasiswa yang bertanggung jawab. Penulis menganggap mahasiswa tersebut sudah mempunyai “Weltanschauung” mereka. Kelompok mahasiswa ini datang tepat waktu, mengerjakan tugas sesuai instruksi, tertib dalam mengikuti peraturan kampus dan biasanya mereka mendapat hasil studi yang cukup memuaskan. Kedua, penulis mengajar kelompok mahasiswa yang tidak bertanggung jawab. Kelompok ini kadang datang terlambat, atau bahkan membolos pada waktu kuliah, lupa mengerjakan tugas, tidak terlalu tertib mengikuti peraturan kampus, dan biasanya mereka perlu berjuang keras  dalam mendapat hasil studi yang maksimal. Sebagai pendidik, penulis mempunyai keinginan mendalam untuk menambah jumlah kelompok mahasiswa bertanggung jawab sebanyak mungkin dan menghilangkan kelompok mahasiswa tidak bertanggung jawab dengan  “Weltanschauung” yang benar-benar mampu diaplikasikan.

1.“Weltanschauung” TANGGUNG JAWAB 
Dalam konteks psikologi pendidikan, definisi tanggungjawab adalah kehendak bebas mendengarkan dan melakukan aturan sosial yang berkaitan dengan pembelajaran serta menanggung konsekuensi perbuatan yang individu lakukan (Suharso dan Ana, 2005, Mc Clelland, 1971, Renzulli, 1981). Dengan kata lain, pribadi yang bertanggungjawab berarti pribadi yang dengan maksimal secara kognitif-afektif-motorik merencanakan aksi untuk mendapatkan konsekuensi, melaksanakan kegiatan yang mendatangkan konsekuensi tersebut, serta mengevaluasi hasil konsekuensi tersebut demi perkembangan dirinya selanjutnya. Mahasiswa yang bertanggung jawab berarti mahasiswa yang merencanakan, melaksanakan serta mengevaluasi kegiatan belajarnya dengan maksimal.

Tanggungjawab belajar mahasiswa sebenarnya adalah hal yang sangat sederhana. Mahasiswa cukup berbuat 3 hal yang SIMPLE: satu, MERENCANAKAN belajar yang baik sesuai potensinya, dua, MELAKSANAKAN rencana belajar tersebut dengan sebaik-baiknya, serta tiga, MENGEVALUASI hasil prestasi tersebut untuk mendapatkan prestasi lebih baik lagi. akan tetapi yang SERING terjadi adalah sebaliknya, mahasiswa  tidak mempunyai rencana belajar, tidak pernah melakukan pembelajaran, dan tidak mengevaluasi pembelajaran yang telah  dilakukan.

Tanggung jawab belajar mengandaikan kepribadian yang sehat dari individu. Kepribadian yang sehat berarti individu mampu mandiri dalam kehidupannya, tanpa menyalahkan pihak lain tentang apa yang terjadi pada dirinya di sini dan kini. Menurut Schultz, pribadi yang bertanggung jawab berarti tidak secara neurotis tergantung kejadian masa lampau sebagai penyebab apa yang terjadi pada hidup individu sekarang. Seorang "ANAK MAMI", "ANAK PAPI", atau mahasiswa yang selalu menggantungkan nasibnya pada keputusan WALINYA, atau pacarnya, atau siapapun selain dirinya sendiri, tidak akan pernah bisa menjadi mahasiswa yang BERTANGGUNG JAWAB. Masalahnya memang kadang orangtua memang tanpa sadar menjadikan anak mereka "CACAT" (secara psikologis) dengan terlalu MEMANJAKAN mereka. 

2.  “Weltanschauung”  Komitmen atau Flow
Kualitas komitmen akan mempengaruhi kualitas tanggung jawab mahasiswa. Teori tentang Flow, atau komitmen, dikemukakan oleh Csikszentmihalyi dan Nakamura (2002, h. 65). Flow adalah daya seseorang untuk mengikatkan diri (berkomitmen) pada sesuatu, beradaptasi sekaligus tertantang untuk menyelesaikan sesuatu itu karena adanya motivasi dari dalam diri. Flow atau komitmen menuntut seseorang untuk memberikan target tertentu serta memberikan tingkat konsentrasi yang tinggi dalam menyelesaikan masalah hidupnya. Komitmen membantu seseorang memberi prioritas perhatian penuh terhadap permasalahan utama dirinya dan tidak larut dalam masalah yang mengalihkannya dari penyelesaian masalah tersebut.
Komitmen tidak muncul secara tiba-tiba. Setiap orang memerlukan proses untuk mendapatkan komitmen. Proses ini berawal dari munculnya sumber daya komitmen, yaitu motivasi dari dalam diri. Kemunculan motivasi dari dalam diri berbanding lurus dengan tumbuhnya ketertarikan, rasa puas, kebanggaan, kesadaran, serta kematangan seorang individu ketika melakukan aktivitas pilihannya.
KOMITMEN TIDAK TERCIPTA DENGAN SENDIRINYA, DAN TIDAK MUNCUL SECARA TIBA-TIBA. Diperlukan mikrosistem yang baru untuk MEMPERKUAT atau memperlemah komitmen individu. Kisah calon mahasiswa dari mikrosistem 3T Papua yang mampu memenangkan olimpiade tahun 2011 dapat menjadi contoh perubahan komitmen individu. Mereka berpindah dari mikrosistem lama, yakni keluarga, teman di kampung  dan sekolah di Papua untuk hidup di asrama olimpiade selama beberapa bulan untuk meningkatkan motivasi belajar dan komitmen terhadap dunia Sains. Usaha mereka berhasil.
Contoh lain adalah kisah hidup Robert Wilson (lahir 1960). Ia adalah seorang mantan eksekutif muda yang karismatik dan tampan, hidup di (mikrosistem) keluarga yang sejahtera, pandai, lulus dengan gelar MBA dari Harvard, pada tahun 1985. Robert akhirnya harus dipenjara lama dan kehilangan semua yang ia punyai karena ia mengalami perubahan komitmen drastis akibat tidak mampu melepaskan diri dari kecanduan narkoba pada tahun 1991. Sebelum berinteraksi langsung dengan narkoba dan mikrosistem yang melingkupinya, Robert merupakan salah satu lulusan Harvard terbaik, cerdas, pandai, disiplin dan ambisius. Ia hanya memerlukan faktor narkoba untuk membuatnya meninggalkan mikrosistem lama dan hidup dalam mikrosistem baru yang menghilangkan motivasi hidup serta merendahkan komitmennya terhadap kesuksesan dunia kerja. Ada kemungkinan kisah Robert juga dialami oleh 1,3 juta mahasiswa Indonesia yang mengalami ketergantungan terhadap narkoba (www.timlo.net, 19 Desember 2012). 
Pengukuran besar kecilnya KOMITMEN belajar mahasiswa dapat dilakukan dengan mendalami bagaimana rencana, usaha, dan kesungguhan mereka dalam mencapai nilai yang lebih baik (Alan Carr, h. 47). Besar kecilnya nilai komitmen individu tergantung dari interaksi individu dengan lingkungan sosial yang ia hidupi. APAKAH KELUARGA individu selama ini juga mempunyai KOMITMEN untuk menjadi keluarga terbaik yang mereka bisa? Jika keluarga sendiri tidak mempunyai komitmen untuk berusaha menjadi yang terbaik, pasti mahasiswa sebagai anggoita keluarga juga 99% tidak akan mempunyai komitmen untuk menjadi pribadi yang jelas arahnya. Kita bisa menambahkan daftar pertanyaan dengan: APAKAH mahasiswa MEMPUNYAI SAHABAT-SAHABAT terbaik? mempunyai KAMPUS yang berusaha sungguh-sungguh meningkatkan kualitasnya? dan seterusnya....jika tidak maka....jelas mahasiswa akan menjadi tidak jelas!.  
3. “Weltanschauung” Pemaknaan Hidup
Ada satu variabel lagi yang mempengaruhi pertumbuhan tanggungjawab individu. Variabel ini adalah pemaknaan hidup. Ada dua faktor yang mempengaruhi pemaknaan hidup seseorang, yaitu intrinsik (berdasarkan pengaruh karakter genetis dari leluhurnya) dan ekstrinsik (berdasarkan pengaruh ekologi sosial yang ia alami)
Lebih jauh lagi, pembahasan teori pemaknaan hidup dimulai dengan memahami dua elemen yang menjadi dasar kepribadian manusia, yakni emosi (teori Seligman) dan kekuatan diri (teori Alan Car) sebagai akibat dari interaksi individu dengan ekologi. Dinamika emosi dan kekuatan diri sepanjang sejarah kehidupan individu akan mempengaruhi karakter dan komitmen individu. Setiap mahasiswa memiliki pemaknaan hidup yang khas sesuai interaksi individu dengan lingkungan sosial/ekologi di sekeliling mereka. Ringkasnya, mahasiswa hanya mampu bertanggung jawab jika ia sudah menyembuh dari luka-luka batin, trauma-trauma yang menghambat perkembangan, minder karena dianggap miskin, dan terbebas dari hal-hal neurotis akibat interaksi ekologis di masa lalu. 

Mahasiswa dikatakan memiliki pemaknaan hidup positif berarti mahasiswa memandang dirinya sebagai siswa yang mempunyai self efficacy. Artinya, mahasiswa merasa mampu menjadi manusia yang utuh yang mampu menghadapi tantangan di hari ini dan di masa depan. Di sisi lain, mahasiswa yang memiliki pemaknaan hidup negatif berarti siswa memandang dirinya sebagai mahasiswa yang tidak mempunyai self eficacy, atau merasa tidak mampu menghadapi tantangan hari ini dan di masa depan. 
BAGAIMANA DENGAN ANDA? YAKIN ANDA MEMPUNYAI MASA DEPAN? Jika Anda belum cukup yakin, bisa jadi anda termasuk golongan orang yang belum bertanggung jawab. 

MR. G, founder of "Primagama English Kertanegara Course"
Jl. Kertanegara iv no 10 Semarang (085727200588/ gregdaru@gmail.com)