MEMPERINGATI KELAHIRAN PANCASILA
DAN
"KEMUNDURAN" MAHASISWA INDONESIA
Apabila berbicara tentang KELAHIRAN PANCASILA, penulis ingat pidato menggebu-gebu dari Alm. presiden Soekarno...1 Juni 1945...
".......Kita melihat dalam dunia ini, bahwa banyak negeri-negeri yang merdeka, dan banyak di antara negeri-negeri yang merdeka itu berdiri di atas “Weltanschauung”. Hitler mendirikan Jermania di atas “national-sozialistische Weltanscahuung”, ....... Nippon mendirikan negara Dai Nippon di atas “Weltanschauung”, yaitu yang dinamakan “Tenoo Koodoo Seishin”. ......Saudi Arabia, Ibn Saud, mendirikan negara Arabia di atas satu “Weltanschauung”, bahkan di atas satu dasar agama, yaitu Islam. Demikian itulah, yang diminta oleh Paduka tuan Ketua yang mulia: Apakah “Weltanschauung” kita, jikalau kita hendak mendirikan Indonesia yang merdeka?"
Selama 4 tahun berpartisipasi dalam pendidikan mahasiswa di kampus, kok sepertinya pendidikan Indonesia belum mempunyai “Weltanschauung” yang diidam-idamkan. Sudah 70 tahun Indonesia merdeka, pendidikan Indonesia masih berjalan di tempat. Data penelitian nasional menyatakan kualitas pembelajaran kampus Indonesia berada di peringkat 49, dari 50 negara yang diteliti. Data lain mengatakan bahwa pendidikan Indonesia masuk dalam peringkat 64, dari 65 negara yang dikeluarkan oleh lembaga Programme for International Study Assessment (PISA), pada tahun 2012. Untuk diketahui, kinerja pendidikan Indonesia pada pemetaan PISA pada tahun 2000, 2003, 2006, 2009, dan 2012, cenderung stagnan (Kompas, 1 Desember 2014). Secara umum, rendahnya peringkat kualitas pendidikan nasional dibandingkan dengan negara lain menyajikan tantangan tersendiri. Pancasila, toh ternyata belum berbicara banyak di bidang pendidikan. Dalam dunia pendidikan sebenarnya tidak ada istilah "diam di tempat". Jika pendidikan anda tidak maju, itu berarti pendidikan anda mundur.
Kalau Indonesia saja belum "luwes" mengaplikasikan “Weltanschauung” Pancasila dalam dunia pendidikan, bagaimana dengan mahasiswanya? Apakah Mahasiswa mempunyai “Weltanschauung” mereka dalam belajar? Penulis selalu menemui dua pengalaman yang sama per semesternya. Pertama, penulis mengajar kelompok mahasiswa yang bertanggung jawab. Penulis menganggap mahasiswa tersebut sudah mempunyai “Weltanschauung” mereka. Kelompok mahasiswa ini datang tepat waktu, mengerjakan tugas sesuai instruksi, tertib dalam mengikuti peraturan kampus dan biasanya mereka mendapat hasil studi yang cukup memuaskan. Kedua, penulis mengajar kelompok mahasiswa yang tidak bertanggung jawab. Kelompok ini kadang datang terlambat, atau bahkan membolos pada waktu kuliah, lupa mengerjakan tugas, tidak terlalu tertib mengikuti peraturan kampus, dan biasanya mereka perlu berjuang keras dalam mendapat hasil studi yang maksimal. Sebagai pendidik, penulis mempunyai keinginan mendalam untuk menambah jumlah kelompok mahasiswa bertanggung jawab sebanyak mungkin dan menghilangkan kelompok mahasiswa tidak bertanggung jawab dengan “Weltanschauung” yang benar-benar mampu diaplikasikan.
1.“Weltanschauung” TANGGUNG JAWAB
Dalam konteks psikologi pendidikan, definisi
tanggungjawab adalah kehendak bebas mendengarkan dan melakukan aturan sosial yang berkaitan
dengan pembelajaran serta menanggung konsekuensi perbuatan yang individu lakukan (Suharso dan Ana, 2005, Mc Clelland,
1971, Renzulli, 1981). Dengan kata
lain, pribadi yang bertanggungjawab berarti pribadi yang dengan maksimal secara kognitif-afektif-motorik
merencanakan aksi untuk mendapatkan konsekuensi, melaksanakan kegiatan yang
mendatangkan konsekuensi tersebut, serta mengevaluasi hasil konsekuensi tersebut demi
perkembangan dirinya selanjutnya. Mahasiswa yang bertanggung jawab berarti
mahasiswa yang merencanakan, melaksanakan serta mengevaluasi kegiatan
belajarnya dengan maksimal.
Tanggungjawab belajar mahasiswa sebenarnya adalah hal yang sangat sederhana. Mahasiswa cukup berbuat 3 hal yang SIMPLE: satu, MERENCANAKAN belajar yang baik sesuai potensinya, dua, MELAKSANAKAN rencana belajar tersebut
dengan sebaik-baiknya, serta tiga, MENGEVALUASI hasil prestasi tersebut untuk
mendapatkan prestasi lebih baik lagi. akan tetapi yang SERING terjadi adalah sebaliknya, mahasiswa tidak mempunyai rencana
belajar, tidak pernah melakukan pembelajaran, dan tidak mengevaluasi pembelajaran
yang
telah dilakukan.
Tanggung jawab belajar mengandaikan kepribadian yang
sehat dari individu. Kepribadian yang sehat berarti individu mampu
mandiri dalam kehidupannya, tanpa menyalahkan pihak lain tentang apa
yang terjadi pada dirinya di sini dan kini. Menurut Schultz, pribadi
yang bertanggung jawab berarti tidak secara neurotis
tergantung kejadian masa lampau sebagai penyebab apa yang terjadi pada hidup
individu sekarang. Seorang "ANAK MAMI", "ANAK PAPI", atau mahasiswa yang selalu menggantungkan nasibnya pada keputusan WALINYA, atau pacarnya, atau siapapun selain dirinya sendiri, tidak akan pernah bisa menjadi mahasiswa yang BERTANGGUNG JAWAB. Masalahnya memang kadang orangtua memang tanpa sadar menjadikan anak mereka "CACAT" (secara psikologis) dengan terlalu MEMANJAKAN mereka.
2. “Weltanschauung” Komitmen
atau Flow
Kualitas komitmen akan mempengaruhi kualitas tanggung
jawab mahasiswa. Teori tentang Flow, atau komitmen, dikemukakan oleh Csikszentmihalyi dan
Nakamura (2002, h. 65). Flow adalah
daya seseorang untuk mengikatkan diri (berkomitmen) pada sesuatu, beradaptasi
sekaligus tertantang untuk menyelesaikan sesuatu itu karena adanya motivasi dari
dalam diri.
Flow atau komitmen menuntut seseorang
untuk memberikan target tertentu serta memberikan tingkat konsentrasi yang
tinggi dalam menyelesaikan masalah hidupnya. Komitmen membantu seseorang
memberi prioritas perhatian penuh terhadap permasalahan utama dirinya dan tidak
larut dalam masalah yang mengalihkannya dari penyelesaian masalah tersebut.
Komitmen
tidak muncul secara tiba-tiba. Setiap orang memerlukan proses
untuk mendapatkan komitmen. Proses ini berawal dari munculnya sumber daya
komitmen, yaitu
motivasi dari dalam diri. Kemunculan motivasi dari dalam
diri berbanding lurus dengan tumbuhnya
ketertarikan, rasa puas, kebanggaan, kesadaran, serta kematangan seorang individu ketika melakukan aktivitas pilihannya.
KOMITMEN TIDAK TERCIPTA DENGAN SENDIRINYA, DAN TIDAK MUNCUL SECARA TIBA-TIBA. Diperlukan
mikrosistem yang baru untuk MEMPERKUAT atau memperlemah komitmen individu. Kisah
calon mahasiswa dari mikrosistem 3T Papua yang mampu memenangkan olimpiade
tahun 2011 dapat menjadi contoh perubahan komitmen individu. Mereka berpindah
dari mikrosistem lama, yakni keluarga, teman di kampung dan sekolah di Papua untuk hidup di asrama
olimpiade selama beberapa bulan untuk meningkatkan motivasi belajar dan
komitmen terhadap dunia Sains. Usaha mereka berhasil.
Contoh lain adalah
kisah hidup Robert Wilson (lahir 1960). Ia adalah seorang mantan eksekutif muda yang
karismatik dan tampan, hidup di (mikrosistem) keluarga yang sejahtera, pandai, lulus dengan gelar MBA dari
Harvard, pada tahun 1985. Robert akhirnya harus dipenjara lama dan kehilangan semua yang ia punyai karena ia mengalami perubahan
komitmen drastis akibat tidak mampu melepaskan diri dari kecanduan narkoba pada tahun 1991. Sebelum berinteraksi langsung dengan narkoba dan
mikrosistem yang melingkupinya, Robert merupakan salah satu lulusan Harvard
terbaik, cerdas, pandai, disiplin dan ambisius. Ia hanya memerlukan faktor
narkoba untuk membuatnya meninggalkan mikrosistem lama dan hidup dalam
mikrosistem baru yang menghilangkan motivasi hidup serta merendahkan
komitmennya terhadap kesuksesan dunia kerja. Ada kemungkinan kisah Robert juga
dialami oleh 1,3 juta mahasiswa Indonesia yang mengalami ketergantungan
terhadap narkoba (www.timlo.net, 19 Desember
2012).
Pengukuran besar kecilnya KOMITMEN belajar mahasiswa dapat
dilakukan dengan mendalami bagaimana rencana, usaha, dan kesungguhan mereka dalam mencapai nilai yang lebih baik
(Alan Carr, h. 47). Besar kecilnya nilai komitmen individu
tergantung dari interaksi individu dengan lingkungan sosial yang ia hidupi. APAKAH KELUARGA individu selama ini juga mempunyai KOMITMEN untuk menjadi keluarga terbaik yang mereka bisa? Jika keluarga sendiri tidak mempunyai komitmen untuk berusaha menjadi yang terbaik, pasti mahasiswa sebagai anggoita keluarga juga 99% tidak akan mempunyai komitmen untuk menjadi pribadi yang jelas arahnya. Kita bisa menambahkan daftar pertanyaan dengan: APAKAH mahasiswa MEMPUNYAI SAHABAT-SAHABAT terbaik? mempunyai KAMPUS yang berusaha sungguh-sungguh meningkatkan kualitasnya? dan seterusnya....jika tidak maka....jelas mahasiswa akan menjadi tidak jelas!.
3. “Weltanschauung” Pemaknaan Hidup
Ada satu variabel lagi yang
mempengaruhi pertumbuhan tanggungjawab individu. Variabel ini adalah pemaknaan
hidup. Ada dua faktor yang mempengaruhi pemaknaan hidup
seseorang, yaitu intrinsik (berdasarkan pengaruh karakter genetis
dari leluhurnya) dan
ekstrinsik (berdasarkan pengaruh ekologi sosial yang ia alami).
Lebih jauh lagi, pembahasan teori pemaknaan hidup dimulai
dengan memahami dua elemen yang menjadi dasar kepribadian manusia, yakni emosi
(teori Seligman) dan kekuatan diri (teori Alan Car) sebagai akibat dari
interaksi individu dengan ekologi. Dinamika emosi dan kekuatan diri sepanjang
sejarah kehidupan individu akan mempengaruhi karakter dan komitmen individu.
Setiap mahasiswa memiliki pemaknaan hidup yang khas sesuai interaksi individu
dengan lingkungan sosial/ekologi di sekeliling mereka. Ringkasnya, mahasiswa hanya mampu bertanggung jawab jika ia sudah menyembuh dari luka-luka batin, trauma-trauma yang menghambat perkembangan, minder karena dianggap miskin, dan terbebas dari hal-hal neurotis akibat interaksi ekologis di masa lalu.
Mahasiswa
dikatakan memiliki pemaknaan hidup positif berarti mahasiswa memandang
dirinya sebagai siswa yang mempunyai self
efficacy. Artinya,
mahasiswa merasa mampu
menjadi manusia yang utuh yang mampu menghadapi tantangan di hari ini dan di
masa depan. Di sisi lain, mahasiswa yang memiliki pemaknaan hidup
negatif berarti siswa memandang dirinya sebagai mahasiswa yang tidak
mempunyai self eficacy, atau
merasa
tidak mampu menghadapi tantangan hari ini dan di masa depan.
BAGAIMANA DENGAN ANDA? YAKIN ANDA MEMPUNYAI MASA DEPAN? Jika Anda belum cukup yakin, bisa jadi anda termasuk golongan orang yang belum bertanggung jawab.
MR. G, founder of "Primagama English Kertanegara Course"
Jl. Kertanegara iv no 10 Semarang (085727200588/ gregdaru@gmail.com)