my plane

Selasa, 28 Juni 2016

MENDIDIK ANAK “BANDEL”
Gregorius Daru Wijoyoko, S.S., M.Si


Artikel ini berbicara mengenai “pendidikan anak”. Bisa dikatakan bahwa tulisan ini berupa sharing dari pengalaman-pengalaman penulis di masa lalu. Penulis adalah manajer Kertanegara Learning Center dan sekaligus dosen. Sebelum menjadi manajer dan dosen, penulis pernah menjadi guru bahasa Inggris puluhan Playgroup dan TK di Semarang. Pengalaman unik yang tidak semua orang memilikinya. Nah, siapa tahu sharing ini bisa berguna. Ready? Let’s began!

Pertama, penulis ingin menegaskan kepercayaan penulis bahwa tidak ada anak “bandel” di dunia. Bandel itu hanya sejauh stereotip belaka. Bandel adalah paradigma yang semu, tidak lebih, tidak kurang. Secara psikologis, memang ada anak dengan kecenderungan psikis tertentu seperti hiper aktif, autis, dan sebagainya. Apapun itu, penulis percaya bahwa anak “bandel” itu secara genetis tidak ada, meskipun anak bandel bisa tercipta setelah anak melalui berbagai pengalaman hidup yang menegaskan karakter-karakter tertentu yang dicap orang “bandel”. Okay, penulis mengakui bahwa kadang-kadang anak bisa berbuat “bandel”, tetapi itu hanya sementara, tidak mungkin selamanya.

Sebelum Anda memberi stereotip “idealis” kepada saya, mari kita diskusikan definisi anak yang “bandel”. “Bandel” menurut KBBI adalah sikap keras kepala, tidak mau mendengar nasihat orang lain, melawan kata atau nasihat orang tua. Ya, kadang secara temporer, saya menemui anak laki-laki yang suka berkelahi, anak yang tidak mau belajar, anak yang “suka bercanda minta ampun” ketika di dalam kelas, anak yang disuruh disiplin tidak mau, anak yang melawan guru, anak yang menampar orang tua, dan seterusnya. Tetapi, sekali lagi, ini bersifat temporer atau sementara. Sejauh yang saya mengerti, kadang anak yang di”cap” “bandel” pada waktu TK atau SD, berubah menjadi manusia berprestasi dengan prinsip yang teguh di masa depan. Sejauh saya mengerti, bandel, adalah sementara.  Ada begitu banyak contoh anak yang dicap “bandel” di masa kecil, termasuk saya yang paling sering dihukum guru pada waktu SD, mengalami perubahan kehidupan, dan kemudian menjadi pribadi dewasa di masa depan. Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastuti, juga menjadi contoh lain pribadi yang “bandel” terhadap orangtua di waktu SMA dan menjadi pemimpin dewasa skala nasional di masa sekarang. 

Berbicara tentang “bandel”, kita perlu memahami bahwa tulisan ini ingin lebih fokus membahas mengenai bagaimana anak belajar dari “kebandelan sementara”nya dan kemudian berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Bagi penulis, perubahan kebandelan seorang anak, ditentukan dari tiga perspektif, yakni sumber perubahan, pola perubahan, dan konsekuensi dari perubahan sikap “bandel” dari anak tersebut. Dari berbagai studi, penulis memahami bahwa tiga unsur tersebut bisa dipertemukan dalam satu kata sederhana: KONFLIK.

Betul! Konflik bisa merubah pribadi menjadi lebih dewasa. Konflik bisa menjadi sumber perubahan 
kepribadian anak menjadi lebih baik, konflik-konflik bisa menentukan pola perubahan kepribadian anak dan konflik sekaligus menjadi konsekuensi dari kebandelan anak tersebut. Hal ini penting dipahami agar para orangtua maupun pendidik anak menempatkan konflik yang dialami anak “bandel” sebagai proses pendewasaan dan tidak melulu sebagai pemicu kecemasan terhadap masa depan anak.

Dahulu waktu SD, saya sangat kesal setiap kali dihukum berkali-kali karena saya belum mengerti makna disiplin. Sekarang, saya bisa berterimakasih terhadap guru-guru SD saya yang menghukum saya untuk ngosek WC siswa dan guru (membersihkan toilet siswa dan guru yang baunya minta ampun sampai bersih) setiap kali saya datang terlambat. Saya juga berterimakasih terhadap orangtua saya yang tidak pernah protes ketika saya dihukum.

Di waktu itu, saya mengalami konflik. Di satu sisi, saya kesal dan marah setengah mati karena harus membersihkan WC yang luas dan bau pesing setengah mati, di lain sisi, guru-guru seolah-olah tidak kapok menghukum saya ketika saya tidak disiplin dan orangtua saya tidak membela saya. Seolah, pada waktu itu, saya merasa dihukum sendirian. Saya baru menyadari ketika saya beranjak dewasa, guru-guru saya mendidik saya untuk disiplin dalam berbuat. Di masa depan, jika Anda tidak disiplin, Anda tidak akan bisa bersaing dengan orang-orang kompeten. Di masa depan, tanpa disiplin, Anda tidak mungkin bisa berhasil dalam hal apapun. Sekarang saya mengerti, jika saja ketika saya kecil guru dan orangtua saya tidak dengan keras mendidik saya supaya disiplin, saya mungkin saja akan berbuat seenak hati di masa tua saya.  

Sebagai ilustrasi, seorang ilmuwan alam, menggambarkan fungsi gempa bumi, yang baru-baru ini dianggap secara mengagumkan menggambarkan apa yang bisa dianggap fungsi konflik. 'Tidak ada yang tidak normal tentang gempa bumi. Bumi yang tidak tergoyahkan akan menjadi bumi yang mati. Sebuah gempa adalah cara bumi mempertahankan titik keseimbangannya, suatu bentuk penyesuaian yang memungkinkan kerak untuk menghasilkan ke tekanan yang cenderung untuk membenahi dan mendistribusikan bahan yang itu terdiri .... Semakin besar pergeseran, semakin kekerasan gempa, dan lebih sering bergeser, yang mengakibatkan semakin keras goncangan. Tetapi, semakin keras goncangan, semakin bumi mendapatkan keseimbangan stabil yang baru (Lewis A Coser).

Tulisan ini sekaligus kritik terhadap para orangtua yang dengan dalih “kasih sayang” memanjakan anak-anak mereka dan mengurung anak-anak dalam “sangkar emas” tanpa konflik. Misalnya orangtua yang menuntut setiap guru yang memberi sanksi indisipliner terhadap anak. Atau lebih parah, orangtua yang mendiamkan anaknya karena terlalu sibuk. Pada intinya, setiap orang akan mengalami konflik. Setiap anak akan mengalami pendewasaan.  Anda suka atau tidak, perubahan dalam hidup adalah sesuatu yang pernah terjadi, sedang terjadi dan akan tetap terjadi. Ini terjadi pada saya, Anda, dan pasti anak anda.

Perubahan kehidupan adalah kepastian kebenaran. Ada baiknya anak-anak kita dididik untuk tangguh menghadapi perubahan. Caranya adalah bukan dengan memanjakan atau mengacuhkan anak ketika konflik datang kepada mereka tetapi mendampingi mereka menghadapi konflik-konflik hidup yang mendewasakan mereka. Biarlah anak-anak yang dicap “bandel” menjadi tangguh dan dewasa dengan cara mereka.

    

NB: Sorry, beberapa pertanyaan di masa lalu belum bisa terjawab karena blog saya tidak aktif....Sekarang blog saya aktif lagi. Silahkan berinteraksi. Thanks! Wish You All The Best! 


Mr. G, 
Manager of Kertanegara Learning Center
Menerima Kursus Bahasa Inggris, musik (piano) dan semapel 
TOEFL preparation, TOEIC preparation, professional Conversation.

Jl. Kertanegara IV no 10 Semarang
telp: 08112991500
email: gregdaru@gmail.com