PEMIMPIN YANG MEMBAHAGIAKAN RAKYAT
(Gregorius Daru Wijoyoko, dosen AKFAR Theresiana Semarang)
Setiap kali diadakan proses pemilihan pemimpin baru, akan muncul harapan
baru. Umumnya, ada dua harapan yang muncul. Pertama, harapan untuk hidup lebih
baik bagi mereka yang optimis, kedua, harapan untuk hidup lebih buruk bagi
mereka yang pesimis. LSI mengatakan akan ada 41% swing voters (Kompas.com, 21 Mei 2014). Jika lembaga survei tersebut benar, ada kemungkinan 60% rakyat
optimis dan 40% rakyat yang pesimis atau minimal menimbang-nimbang akan
kebahagiaan di masa depan mereka, karena dipimpin oleh pemimpin yang baru.
Angka tersebut bisa bergeser, presentase pihak optimis semakin membesar atau
pihak pesimis yang meningkat.
Terbaru, pihak pesimis maupun optimis dapat mengevaluasi debat capres
cawapres yang diadakan KPU. Dari 12,2 juta penonton televisi, acara debat tersebut
sempat menggeser berbagai acara unggulan hiburan televisi. Debat ini berada di peringkat
dua acara favorit pemirsa pada prime time
tanggal 9 Juni 2014 lalu (Si Momot.com, 16 Juni 2014). Dari data ini, bisa dimengerti
bahwa dua capres dan cawapres terpilih mampu menghibur rakyat, akan tetapi, mengenai
kemampuan dua capres dan cawapres ini membahagiakan rakyat, adalah persoalan
lain.
Bila misalnya, presiden dan wakil presiden terpilih mampu membahagiakan
rakyat, perlu rakyat menyimak, kebahagiaan seperti apa yang ditawarkan. Psikolog
terkenal, Sigmund Freud, menyatakan kebahagiaan
manusia ditentukan oleh faktor kepuasan id (Freud,
1962). Id bisa diartikan sebagai hasrat animal
manusia. Freud berpendapat bahwa supaya orang semakin berbahagia, ia
semakin perlu untuk menyalurkan id. Ia yang terkenal
dengan teori id, ego dan superego, dengan
analisa psikologis-genetisnya, akan mengatakan bahwa kebahagiaan sangat
bergantung pada banyak-sedikitnya dorongan individu (impulse) yang terpenuhi (Freud). Freud cenderung menyamakan arti kepuasan manusia dengan
kebahagiaan manusia. Secara ilmiah, hal ini dibuktikan Freud. Manusia tidak bisa
lepas dari id mereka. Jika manusia
tidak mampu menyalurkan hasrat animal mereka,
mereka akan mengalami depresi. Secara alami, manusia perlu makan kenyang,
manusia perlu menyalurkan hasrat seksual, manusia perlu untuk menyalurkan
nafsunya dengan cara yang diyakini, atau depresi akan melanda.
Para pengkritik Freud (tokoh psikologi humanistik) menyadari bahwa teori
ini lemah. Mereka mengakui bahwa manusia memerlukan proses alami menyalurkan libido
dan nafsu agar lepas dari depresi, tetapi tidak memanjakan id. Memanjakan id akan membuat mereka jatuh dalam hedonism treadmill, atau cara hidup pemuasan nafsu diri yang tidak
mungkin dapat terpuaskan. Semakin manusia memenuhi dorongan nafsunya, semakin
manusia haus akan pemenuhan nafsu (Alan Car, 2004). Di zaman sekarang, id akan terwakili dengan penghamburan
uang, penghamburan anggaran, penghamburan harta kekayaan yang dimiliki tanpa
sistem superego (pengendalian diri) yang jelas
Pemimpin yang meyakini ide ini akan banyak berbicara tentang penghamburan
uang negara untuk rakyat. Ini dilakukan agar rakyat dapat makan, mampu
membelanjakan uang demi keluarga mereka, sepuas yang mereka inginkan tanpa
membicarakan sistem pengendalian pembelanjaan uang tersebut. Rakyat perlu
menyalurkan “dendam kemiskinan” mereka karena selama ini kekayaan negara
dikuasai oleh kekuatan di luar rakyat. Pembicaraan tema-tema seperti ini
mendukung penyaluran id rakyat. Jika
tanpa diimbangi sistem kontrol yang jelas, rakyat bisa jatuh dalam hedonism treadmill.
Tokoh-tokoh psikolog humanistik memberikan pendapat yang berbeda.
Psikologi humanis
adalah ilmu psikologi yang
menekankan kebahagiaan sebagai
perwujudan kehendak bebas manusia, pertumbuhan
pribadi, kemampuan memulihkan
diri, dan
kemampuan dalam mewujudkan potensi manusia
secara maksimal (James
Bugental, 2000). Golongan ini percaya bahwa kebahagiaan pertama-tama adalah
masalah kemanusiaan, dan tidak bisa
disamakan dengan kebahagiaan binatang yang puas ketika dipenuhi kebutuhan impulse-nya.
Kebahagiaan ini tergantung bagaimana individu berelasi positif dengan
faktor-faktor dalam diri seperti
misalnya kesehatan, keturunan, karakter seseorang yang dibentuk dari faktor
genetis dan konteks sosial, penerimaan diri
dan kehendak bebas (James Bugental, 2000).
Pemimpin yang mempunyai visi membahagiakan rakyat versi kebahagiaan humanis
ini, kiranya akan banyak membicarakan tentang sistem kesehatan rakyat,
memperhatikan keadaan keluarga-keluarga yang akan menghasilkan generasi penerus,
pendidikan, hak asasi untuk menyalurkan pendapat, penyembuhan diri dari trauma
masa lalu, dan keadaan sosial yang lebih baik. Sistem menjadi pokok pembicaraan
daripada tujuan.
Tokoh-tokoh psikologi behaviouristik tidak
mempercayai kebahagiaan intrinsik. Hasil percobaan ilmiah mereka akan mengatakan
bahwa kebahagiaan manusia ditentukan oleh faktor ekstrinsik. Beri manusia rewards, maka manusia bahagia. Beri
manusia punishment, dia tidak akan
bahagia. Pemimpin yang banyak membicarakan tema-tema punishment, atau yang mempercayai bahwa dengan menghukum banyak
penjahat, seperti koruptor, atau pelaku money
laundry, atau pelaku kriminal yang lain, maka rakyat akan bahagia, percaya
dengan paham ini. Logikanya, berarti mereka kurang percaya bahwa kebahagiaan
mampu tumbuh dari dalam (intrinsik) dengan kemampuan manusiawi seperti
pengampunan, pemulihan diri, kehendak bebas, penerimaan diri.
Penulis menganjurkan, para pemilih hendaknya cerdas
mencermati kebahagiaan seperti apa yang ditawarkan oleh para capres dan
cawapres dalam program mereka ke depan. Apakah kebahagiaan id atau semata superego? Atau
kebahagiaan intrinsik? Kebahagiaan humanis? Atau kebahagiaan ekstrinsik? Dan
apakah para pemilih secara jujur mengakui bahwa kebahagiaan seperti itu yang
diinginkan? Semoga saja para pemilih tidak menyesal akan pilihan mereka nanti,
dan harapan kebahagiaan mereka mampu terwujud.
Daftar Pustaka
1.
Alan Carr, 2004. Positive Psychology, New York:
Brunner-Routledge.
2.
Freud, Sigmund, 1962, The Ego and the Id, New York: Norton Library.
3.
James.
F.T.Bugental, 2000, The Search for Existensial Identity, San Fransisco:Jossey Bass.
4.
Kompas.com, 21 Mei 2014, “Survey LSI, Jokowi Masih
Unggul, Prabowo Masih punya Peluang”
5.
Si Momot.com, 16 Juni 2014, “Debat Capres Menggeser
Mahabarata dan Mahadewa”.