my plane

Sabtu, 05 Juli 2014

PEMIMPIN YANG MEMBAHAGIAKAN RAKYAT
(Gregorius Daru Wijoyoko, dosen AKFAR Theresiana Semarang)

Setiap kali diadakan proses pemilihan pemimpin baru, akan muncul harapan baru. Umumnya, ada dua harapan yang muncul. Pertama, harapan untuk hidup lebih baik bagi mereka yang optimis, kedua, harapan untuk hidup lebih buruk bagi mereka yang pesimis. LSI mengatakan akan ada 41% swing voters (Kompas.com, 21 Mei 2014). Jika lembaga survei tersebut benar, ada kemungkinan 60% rakyat optimis dan 40% rakyat yang pesimis atau minimal menimbang-nimbang akan kebahagiaan di masa depan mereka, karena dipimpin oleh pemimpin yang baru. Angka tersebut bisa bergeser, presentase pihak optimis semakin membesar atau pihak pesimis yang meningkat.
Terbaru, pihak pesimis maupun optimis dapat mengevaluasi debat capres cawapres yang diadakan KPU. Dari 12,2 juta penonton televisi, acara debat tersebut sempat menggeser berbagai acara unggulan hiburan televisi. Debat ini berada di peringkat dua acara favorit pemirsa pada prime time tanggal 9 Juni 2014 lalu (Si Momot.com, 16 Juni 2014). Dari data ini, bisa dimengerti bahwa dua capres dan cawapres terpilih mampu menghibur rakyat, akan tetapi, mengenai kemampuan dua capres dan cawapres ini membahagiakan rakyat, adalah persoalan lain.
Bila misalnya, presiden dan wakil presiden terpilih mampu membahagiakan rakyat, perlu rakyat menyimak, kebahagiaan seperti apa yang ditawarkan. Psikolog terkenal, Sigmund Freud, menyatakan kebahagiaan manusia ditentukan oleh faktor kepuasan id  (Freud, 1962). Id bisa diartikan sebagai hasrat animal manusia. Freud berpendapat bahwa supaya orang semakin berbahagia, ia semakin perlu untuk menyalurkan id. Ia yang terkenal dengan teori id, ego dan superego, dengan analisa psikologis-genetisnya, akan mengatakan bahwa kebahagiaan sangat bergantung pada banyak-sedikitnya dorongan individu (impulse) yang terpenuhi  (Freud). Freud cenderung menyamakan arti kepuasan manusia dengan kebahagiaan manusia. Secara ilmiah, hal ini dibuktikan Freud. Manusia tidak bisa lepas dari id mereka. Jika manusia tidak mampu menyalurkan hasrat animal mereka, mereka akan mengalami depresi. Secara alami, manusia perlu makan kenyang, manusia perlu menyalurkan hasrat seksual, manusia perlu untuk menyalurkan nafsunya dengan cara yang diyakini, atau depresi akan melanda.
Para pengkritik Freud (tokoh psikologi humanistik) menyadari bahwa teori ini lemah. Mereka mengakui bahwa manusia memerlukan proses alami menyalurkan libido  dan nafsu agar lepas dari depresi, tetapi tidak memanjakan id. Memanjakan id akan membuat mereka jatuh dalam hedonism treadmill, atau cara hidup pemuasan nafsu diri yang tidak mungkin dapat terpuaskan. Semakin manusia memenuhi dorongan nafsunya, semakin manusia haus akan pemenuhan nafsu (Alan Car, 2004). Di zaman sekarang, id akan terwakili dengan penghamburan uang, penghamburan anggaran, penghamburan harta kekayaan yang dimiliki tanpa sistem superego (pengendalian diri) yang jelas
Pemimpin yang meyakini ide ini akan banyak berbicara tentang penghamburan uang negara untuk rakyat. Ini dilakukan agar rakyat dapat makan, mampu membelanjakan uang demi keluarga mereka, sepuas yang mereka inginkan tanpa membicarakan sistem pengendalian pembelanjaan uang tersebut. Rakyat perlu menyalurkan “dendam kemiskinan” mereka karena selama ini kekayaan negara dikuasai oleh kekuatan di luar rakyat. Pembicaraan tema-tema seperti ini mendukung penyaluran id rakyat. Jika tanpa diimbangi sistem kontrol yang jelas, rakyat bisa jatuh dalam hedonism treadmill.  
Tokoh-tokoh psikolog humanistik memberikan pendapat yang berbeda. Psikologi humanis adalah ilmu psikologi yang menekankan kebahagiaan sebagai perwujudan kehendak bebas manusia, pertumbuhan pribadi, kemampuan memulihkan diri, dan kemampuan dalam mewujudkan potensi manusia secara maksimal (James Bugental, 2000). Golongan ini percaya bahwa kebahagiaan pertama-tama adalah masalah kemanusiaan, dan tidak bisa disamakan dengan kebahagiaan binatang yang puas ketika dipenuhi kebutuhan impulse-nya. Kebahagiaan ini tergantung bagaimana individu berelasi positif dengan faktor-faktor dalam diri  seperti misalnya kesehatan, keturunan, karakter seseorang yang dibentuk dari faktor genetis dan konteks sosial, penerimaan diri  dan kehendak bebas (James Bugental, 2000).
Pemimpin yang mempunyai visi membahagiakan rakyat versi kebahagiaan humanis ini, kiranya akan banyak membicarakan tentang sistem kesehatan rakyat, memperhatikan keadaan keluarga-keluarga yang akan menghasilkan generasi penerus, pendidikan, hak asasi untuk menyalurkan pendapat, penyembuhan diri dari trauma masa lalu, dan keadaan sosial yang lebih baik. Sistem menjadi pokok pembicaraan daripada tujuan. 
Tokoh-tokoh psikologi behaviouristik tidak mempercayai kebahagiaan intrinsik. Hasil percobaan ilmiah mereka akan mengatakan bahwa kebahagiaan manusia ditentukan oleh faktor ekstrinsik. Beri manusia rewards, maka manusia bahagia. Beri manusia punishment, dia tidak akan bahagia. Pemimpin yang banyak membicarakan tema-tema punishment, atau yang mempercayai bahwa dengan menghukum banyak penjahat, seperti koruptor, atau pelaku money laundry, atau pelaku kriminal yang lain, maka rakyat akan bahagia, percaya dengan paham ini. Logikanya, berarti mereka kurang percaya bahwa kebahagiaan mampu tumbuh dari dalam (intrinsik) dengan kemampuan manusiawi seperti pengampunan, pemulihan diri, kehendak bebas, penerimaan diri.  
Penulis menganjurkan, para pemilih hendaknya cerdas mencermati kebahagiaan seperti apa yang ditawarkan oleh para capres dan cawapres dalam program mereka ke depan. Apakah kebahagiaan id atau semata superego? Atau kebahagiaan intrinsik? Kebahagiaan humanis? Atau kebahagiaan ekstrinsik? Dan apakah para pemilih secara jujur mengakui bahwa kebahagiaan seperti itu yang diinginkan? Semoga saja para pemilih tidak menyesal akan pilihan mereka nanti, dan harapan kebahagiaan mereka mampu terwujud.



Daftar Pustaka

1.    Alan Carr, 2004. Positive Psychology, New York: Brunner-Routledge.
2.    Freud, Sigmund, 1962, The Ego and the Id, New York: Norton Library.
3.    James. F.T.Bugental,  2000, The Search for Existensial Identity, San Fransisco:Jossey Bass.
4.    Kompas.com, 21 Mei 2014, “Survey LSI, Jokowi Masih Unggul, Prabowo Masih punya Peluang”
5.    Si Momot.com, 16 Juni 2014, “Debat Capres Menggeser Mahabarata dan Mahadewa”.


lihat tulisan allan nairn