my plane

Minggu, 03 Agustus 2014

paper filsafat psikologi


1.      APA ITU ILMU PSIKOLOGI?

1.1.        Definisi Ilmu
 Ilmu Psikologi terdiri dari dua kata, ilmu dan psikologi. Ilmu itu sendiri adalah kata turunan atau terjemahan dari bahasa Inggris, science (berasal dari bahasa latin dari kata Scio, Scire yang berarti tahu), yang sering disinonimkan dengan kata knowledge (pengetahuan). Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia, Ilmu  adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu  dibidang (pengetahuan) itu. Sebagai perbandingan, ada berbagai definisi tentang science. Science is knowledge arranged in a system, especially obtained by observation and testing of fact (An English reader’s dictionary); Science is a systematized knowledge obtained by study, observation, experiment” (Webster’s super New School and Office Dictionary). Jadi, ada beberapa indikator sesuatu hal disebut ilmu: ia menambah pengetahuan manusia, ia mempunyai sistem dan metode, dan bisa dipelajari (misalnya melalui observasi dan eksperimen).
Para ahli mendiskusikan ciri-ciri ilmu. The Liang Gie (Uhar, 2004) secara lebih khusus menyebutkan ciri-ciri ilmu sebagai berikut : empiris (berdasarkan pengamatan dan percobaan), sistematis (tersusun secara logis serta mempunyai hubungan saling bergantung dan teratur), objektif (terbebas dari persangkaan dan kesukaan pribadi), analitis (menguraikan persoalan menjadi bagian-bagian yang terinci), verifikatif (dapat diperiksa kebenarannya). Sementara itu Beerling menyebutkan ciri ilmu (pengetahuan ilmiah) adalah mempunyai dasar pembenaran, bersifat sistematik, bersifat intersubjektif.
Ilmu pengetahuan mempunyai suatu tujuan. Braithwaite mengatakan bahwa the function of science… is to establish general laws covering the behaviour of the empirical events or objects with which the science in question is concerned, and thereby to enable us to connect together our knowledge of the separately known events, and to make reliable predictions of events as yet unknown.Artinya, ilmu mempunyai fungsi yang amat penting bagi kehidupan manusia, Ilmu dapat membantu untuk memahami, menjelaskan, mengatur dan memprediksi berbagai kejadian baik yang bersifat kealaman maupun sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia. Sebagai perbandingan, Sheldon G. Levy menyatakan bahwa science has three primary goals. The first is to be able to understand what is observed in the world. The second is to be able to predict the events and relationships of the real world. The third is to control aspects of the real world.
Dengan pengetahuan, setiap masalah yang dihadapi manusia selalu diupayakan untuk dipecahkan agar dapat dipahami, dan setelah itu manusia menjadi mampu untuk mengaturnya serta dapat memprediksi (sampai batas tertentu) kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan pemahaman yang dimilikinya.
Kesimpulannya, tujuan dari ilmu adalah untuk memahami, memprediksi, dan mengatur berbagai aspek kejadian di dunia, berdasarkan teori pengetahuan yang ditemukan. Teori itu sendiri pada dasarnya merupakan suatu penjelasan yang didapat dari metode ilmiah yang bisa diverifikasi kebenarannya sehingga dapat diperoleh kefahaman, dan dengan kepahaman maka prediksi kejadian dapat dilakukan dan diusahakan untuk dikendalikan atau diantisipasi.
Psikologi bisa dikatakan ilmu karena memenuhi syarat ilmu pengetahuan. Psikologi bisa menambah pengetahuan manusia, mempunyai sistem dan metode, serta bisa diobservasi. Dari sisi tujuan, dengan ilmu psikologi kita juga juga bisa lebih memahami kepribadian manusia, dan mampu mengantisipasi perilaku-perilaku manusia berdasarkan pengetahuan psikologi yang dimiliki.

1.2.         Definisi Psikologi
Psikologi adalah kata yang terbangun dari dua frasa dasar psyche  yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Secara sederhana, kita bisa mendefinisikan psikologi sebagai segala ilmu yang berbicara tentang jiwa manusia. Ilmu psikologi perlu memenuhi kriteria ilmu pengetahuan yang mampu diverifikasi kebenarannya. Karena itulah subjek ilmu psikologi bukanlah jiwa atau ruh dalam arti metafisika yang tidak bisa diteliti, melainkan kepribadian manusia yang bisa diukur dari apa biasa yang dia lakukan (behaviour dari seseorang).
Pada dasarnya, semua permasalahan psikologis, akan bersumber pada tiga penyebab: penyebab genetis (penyebab intrinsic), penyebab interaksi sosial (penyebab extrinsic), dan gabungan antara keduanya. Para ahli, sesuai dengan aliran ilmu mereka masing-masing pada tiga golongan itu  mempunyai konsep-konsep tersendiri mengenai teori yang bisa saling melengkapi atau saling bertentangan. Ada kemungkinan muncul kebenaran paradoks pada masing-masing aliran (artinya bisa saling bertentangan meski sama benar). Agar lebih jelas, penulis sertakan perbandingan pembahasan teori psikologis beberapa tokoh yang mewakili tiga golongan: intrinsic, ekstrinsic, dan gabungan dari keduanya di bawah ini.


1.2.1  Penjelasan Psikologi Aliran Intrinstic  
Psikologi aliran Intrinsic percaya dan senantiasa membuktikan dengan metodenya bahwa perilaku manusia didasari oleh motivasi intrinsic. Freud (H.L Kalia, 1998: 522) adalah tokoh pertama yang mewakili golongan yang percaya bahwa perilaku manusia terutama ditentukan oleh faktor intrinsic. Ia yang terkenal dengan teori id, ego dan superego, dengan analisa psikologis-genetisnya, akan mengatakan bahwa perilaku manusia sangat bergantung pada banyak-sedikitnya dorongan individu (impulse) yang terpenuhi. Dalam bahasa sederhana, impulse ini disebut nafsu. Menurut Freud, manusia perlu selalu menuruti dan memenuhi dorongan-dorongan tersebut agar ia sehat dan menjadi manusia normal. Ironisnya, dorongan-dorongan psikis tersebut sering dibatasi oleh aturan masyarakat. Masyarakat menyebabkan manusia menjadi manusia normal karena banyaknya larangan sosial yang disebut dengan “aturan moral”. Aturan moral inilah yang menyebabkan dorongan kesenangan (pleasure principle) sulit dipenuhi sehingga semakin bermoral seseorang maka dirinya akan semakin jauh dari manusia normal.
Kritik terhadap teori ini cukup banyak dari golongan behaviourisme dan kognitif. Misalnya Brickman dan Camp (1971) mengatakan adanya fenomena “hedonic treadmill”. Mereka mengatakan bahwa pencarian kenikmatan indrawi tidak akan membawa manusia pada kemanuisaan yang normal karena kenikmatan indrawi itu adalah proses yang tak bisa dipuaskan. Setiap kali manusia mencapai kenikmatan indrawi tertentu, ia akan mencari lagi yang lebih nikmat. Jika level kenikmatan itu sudah tercapai lagi. Ia akan mencari lagi hal yang membuat ia lebih nikmat dari sebelumnya. Dan itu tak terhentikan. Eksplorasi kenikmatan indrawi akan menjebak manusia pada kecanduan menikmati tanpa henti dan ini tidak membedakan kemanusiaan dari kebinatangan.
Tambahan teori terhadap faktor intrinsic perilaku manusia kemudian dinyatakan oleh tokoh-tokoh psikolog humanistik. Pencetus psikologi humanis adalah Abraham Maslow. Teori ini muncul sekitar tahun 1950-an. Psikologi Humanis menyatakan bahwa perilaku manusia tidak hanya dibatasi oleh impulse, melainkan juga faktor kehendak bebas, pertumbuhan pribadi, kegembiraan, kemampuan untuk pulih kembali setelah mengalami ketidakbahagiaan, serta keberhasilan dalam merealisasikan potensi manusia semaksimal mungkin (Tageson, 1982). Psikologi humanistik sendiri berpijak dari filsafat eksistensialisme yang dipelopori oleh Soren Kierkegard, Camus dan Nietsche.
      
1.2.2. Penjelasan Psikologi Aliran Ekstrinsic
Psikologi aliran Ekstrinsic percaya dan senantiasa membuktikan dengan metodenya bahwa perilaku manusia didasari oleh motivasi ekstrinsic. Faktor ekstrinsic bisa berupa : pengaruh stimulus sosio-politik dan budaya di sekitar subjek (Alan Carr, 2004), relasi terhadap orang orang terdekat (Alan Carr, 2004), proses persahabatan (Alan Carr, 2004), pengaruh agama atau religiusitas yang diyakini, kesejahteraan yang cukup (Alan Carr, 2004).
Penulis mengajukan pendapat Skinner misalnya, yang termasuk dalam golongan Behavior (Harry F. Harlow, 1997). Menurutnya perilaku manusia akan tergantung dari stimulus yang diberikan. Manusia akan menerukan perilakunya apabila setiap perilakunya mendapatkan hadiah atau setidaknya mengarah pada hadiah tertentu. Konsep ini kemudian menjelaskan adanya fenomena, bahwa ada orang yang berusaha mencari prestasi setinggi-tingginya (stimulusnya adalah pengakuan identitas) untuk merasakan suatu kebahagiaan.
Hadiah memang tidak hanya berbentuk barang atau materi, hadiah dapat berupa pujian, penghargaan, penghormatan, dan lainnya. Ketika seseorang telah bekerja keras kemudian hasil yang didapat membuatnya memperoleh penghargaan maka menurut golongan ini, kebahagiaan kiranya melekat pada penghargaan tersebut. Ini yang membuat manusia meneruskan perilakunya, stimulus yang membuat manusia merasa nyaman dan bahagia, serta puas.
Kritik terhadap teori ini datang dari Aristoteles dan psikolog yang menggeluti psikologi kognitif-humanis. Paham mereka mengatakan bahwa perilaku manusia yang selalu mencari kebahagiaan dan kenyamanan tidak semata-mata datang dari hadiah maupun relasi sosial. Manusia mempunyai kemampuan untuk membahagiakan dirinya sendiri. Ini akan dibahas pada subbab berikut ini.
1.2.3. Penjelasan Psikologi Aliran Gabungan Ekstrinsic dan Intrinsic
Psikologi aliran gabungan ini percaya dan senantiasa membuktikan dengan metodenya bahwa perilaku manusia didasari oleh dua motivasi tersebut sekaligus. Teori Aristoteles menyatakan, bahwa kepribadian maupun perilaku manusia terarah pada tujuan kemanusiaan. Bagi Aristoteles, perilaku manusia, entah individual maupun secara sosial, selalu bertujuan untuk memenuhi kebahagiaan. Ia berpendapat, rupanya perilaku tersebut tidak hanya dimotivasi oleh  pemenuhan dorongan-dorongan dalam diri, atau pemenuhan kebutuhan diri individual ataupun pemenuhan kebutuhan untuk berkelompok. Kebahagiaan ternyata tidak cukup hanya berdasar pada pemenuhan kebutuhan fisiologis dan psikis. Kebahagiaan manusia memerlukan unsur kesadaran manusia (melibatkan aspek kognitif, afektif, aspek spiritual) dan ketekunan untuk membiasakan diri terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang ditentukan dari kesepakatan sosial yang universal. Jadi ada faktor intrinstic, yakni kesadaran manusia dan faktor ekstrinsic, yakni nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

2.      SEJAUH MANA KEBENARAN ILMIAH DAPAT DITERIMA SEBAGAI KEBENARAN?

Pertama, ilmu perlu dasar empiris, atau mampu untuk dikaji dan diamati, jika tidak maka ilmu itu tidak bisa dikatakan benar atau bukanlah suatu ilmu maupun pengetahuan ilmiah, melainkan suatu perkiraan atau pengetahuan biasa yang lebih didasarkan pada keyakinan tanpa peduli apakah faktanya demikian atau tidak (sebagai contoh adalah ilmu filsafat metafisis dan agama). Keberadaan fakta-fakta memang merupakan ciri empiris dari ilmu. Masih dalam kerangka metode empiris, penting untuk memperhatikan bagaimana fakta-fakta itu dibaca atau dipelajari jelas memerlukan cara yang logis dan sistematis, dalam arti urutan cara berfikir dan mengkajinya tertata dengan logis sehingga setiap orang dapat menggunakannya dalam melihat realitas faktual yang ada. Kesalahan dalam metode, adalah ketidakbenaran ilmu.
Disamping itu, ilmu juga harus objektif dalam arti mengabaikan perasaan suka-tidak suka, senang-tidak senang. Kesimpulan atau penjelasan ilmiah harus mengacu hanya pada fakta yang ada, sehingga setiap orang dapat melihatnya secara sama pula tanpa melibatkan perasaan pribadi yang ada pada saat itu. Analitis merupakan ciri ilmu lainnya, artinya bahwa penjelasan ilmiah perlu terus mengurai masalah secara rinci sepanjang hal itu masih berkaitan dengan dunia empiris, sedangkan verifikatif berarti bahwa ilmu atau penjelasan ilmiah harus memberi kemungkinan untuk dilakukan pengujian di lapangan sehingga kebenarannya bisa benar-benar memberi keyakinan.
Dari uraian di atas, nampak bahwa kebenaran ilmu bisa dilihat dari dua sudut peninjauan, yaitu kebenaran ilmu sebagai produk/hasil, dan kebanaran ilmu sebagai suatu proses yang benar. Sebagai produk ilmu dikatakan benar jika merupakan kumpulan pengetahuan yang tersistematisir dan terorganisasikan secara logis, seperti jika kita mempelajari ilmu ekonomi, sosiologi, biologi. Sedangkan kebenaran ilmu sebagai proses adalah ilmu dilihat dari upaya perolehannya melalui cara-cara tertentu yang benar dan logis. ini menyangkut ilmu sebagai metodologi dalam arti bagaimana cara-cara yang mesti dilakukan untuk memperoleh suatu kesimpulan atau teori tertentu untuk mendapatkan, memperkuat/menolak suatu teori dalam ilmu tertentu. Maka diperlukan upaya penelitian sebagai verifikasi kebenaran dengan melihat fakta-fakta, konsep yang dapat membentuk suatu teori tertentu.

3.      BAGAIMANA PREDIKSI WAJAH PSIKOLOGI DI MASA MENDATANG?
Menurut saya, semua permasalahan psikologis, tidak akan berubah dan masih akan bersumber pada tiga penyebab: penyebab genetis (penyebab intrinsic), penyebab interaksi sosial (penyebab extrinsic), dan gabungan antara keduanya. Para ahli, juga akan tetap mempunyai konsep-konsep tersendiri mengenai teori yang bisa saling melengkapi atau saling bertentangan. Ada kemungkinan muncul kebenaran paradoks pada masing-masing aliran.
Hanya saja, masing-masing aliran akan ber-evolusi atau ber-revolusi sesuai dengan zaman ini. Akan ada tambahan peran teknologi terhadap masing-masing aliran. Neuropsikologi misalnya, penemuan terbaru tentang bagaimana kerja elektron dan proton dalam syaraf otak meyakinkan aliran psikologi intrinsic, bahwa segala perilaku manusia, baik manusia normal ataupun sakit jiwa, ditentukan oleh keadaan otaknya. Terapi-terapi kejiwaan manusia juga berkembang pesat dengan adanya teknologi.
Jadi, esensi dari aliran psikologi tetap sama. Masih ada tiga aliran yakni psikologi intrinsic, ekstrinsic dan gabungan dari keduanya. Namun demikian eksistensi dari psikologi jauh berkembang. Pengukuran kebenaran lebih akurat, kecepatan verifikasi data lebih cepat, dan metode ilmiah psikologi lebih detail.
4.      FOKUS, HASIL DAN PENDEKATAN SEPERTI APA YANG HENDAK DICARI SETELAH MEMPELAJARI BERBAGAI MAZHAB PSIKOLOGI?
Fokus atau inti dari psikologi menurut penulis adalah pengetahuan proses konsep diri. Proses konsep diri terkait erat dengan tiga istilah ini: atensi, persepsi, memori (psikologi kognitif-intrinsic), pengaruh sosial (psikologi ekstrinsic-sosial) dan interaksi antara keduanya. Interaksi antara ketiga hal inilah yang membuat individu memahami siapa dirinya setelah menyerap informasi-informasi dari pengaruh sosial. Penulis meyakini, untuk mengetahui kepribadian manusia yang utuh memerlukan analisa psikologi yang berdasarkan pada pendekatan tiga aliran tersebut.
4.1.        Proses Konsep Diri (Pendekatan Persepsi Kognitif – Humanistik)
Atensi adalah suatu usaha mengendalikan fungsi pikiran secara nyata dan jelas terhadap beberapa  kemungkinan objek secara simultan atau terhadap rangkaian pemikiran. Ini memerlukan pengalihan dari suatu hal agar secara efektif dapat berinteraksi dengan hal yang diberi perhatian (W. James, 1980). Seseorang bisa memberikan dua macam atensi: pertama focused attension yang berarti kita memilih satu macam  untuk diberi perhatian sedangkan yang lainnya dialihkan; kedua divided attention yang berarti kita membagi perhatian kita pada beberapa subjek sekaligus.
Persepsi secara etimologis berasal dari bahasa Latin (perceptio, percipio) adalah proses menerima kesadaran atau pengertian akan lingkungan dengan mengoordinir dan menginterpretasikan apa yang didapat dari informasi sensorik. Ini adalah suatu aktivitas kolektif yang melibatkan bermilyar-milyar neuron dalam otak untuk mengenali dan memahami suatu objek atau pengetahuan (Walter J. Freeman, 1991).
Memory adalah suatu proses yang ada dalam otak manusia untuk menerima, mengolah, menyimpan, dan untuk kemudian digunakan kembali di kemudian hari. Ada tiga macam proses utama dalam memory : encoding, storage and retrieval.
Baik sistem atensi, persepsi, dan memory saling membutuhkan satu sama lain dan saling bekerjasama satu sama lain. Apabila persepsi bekerja, ia membutuhkan memory dan atensi. Memory juga membutuhkan pencerapan informasi yang berasal dari atensi dan persepsi, persepsi juga membutuhkan informasi awal dari atensi untuk kemudian disimpan dalam memory. Interaksi dari ketiganya terhadap objek secara terus menerus inilah yang membuat manusia menyusun kepribadiannya.  



Gambar proses pencerapan informasi manusia
 




Abraham Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Atensi, persepsi dan memori, serta proses antara mereka bertujuan untuk memenuhi hirarki kebutuhan tersebut.  Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Apabila kebutuhan-kebutuhan manusia tersebut tidak terpenuhi, manusia akan mengalami “sakit psikis”.
Dari buku Handbook of Psychology, penulis menambahkan pendapat Serge Moscovici seorang psikolog sosial perancis yang menyatakan bahwa psikologi sosial adalah jembatan diantara cabang-cabang pengetahuan sosial lainnya. Penulis juga setuju, karena itu persepsi psikologi sosial perlu ditambahkan dalam paper ini.
Contoh pendekatan psikologi sosial yang tak bisa dibantah oleh kaum humanis adalah bahwa analisa psikologi sosial mengenai tindak kriminal. Pendekatan psikologi sosial cenderung menunjukkan adanya kaitan antara tingkat kejahatan yang tinggi dengan kemiskinan, urbanisasi yang cepat, dan industrialisasi dalam suatu masyarakat. Untuk membuktikan kesimpulan ini, mereka menunjukkan beberapa fakta tertentu : orang yang miskin lebih sering melakukan kejahatan; kejahatan lebih banyak timbul di daerah kumuh ketimbang di lingkungan elit; kriminalitas meningkat pada masa resesi ekonomi dan menurun di saat kondisi ekonomi membaik. Sementara pendekatan individual dalam bidang psikologi yang lain (psikologi kepribadian, perkembangan dan klinis) cenderung menjelaskan kriminalitas berdasarkan karakteristik dan pengalaman kriminal individu yang unik. Dua-duanya mempunyai kebenaran dari sudut pandang yang berbeda.
Billig (1976) pernah mengatakan bahwa Individu mempunyai  kecenderungan  berkelompok. Kelompok tersebut adalah kumpulan orang-orang yang setiap anggotanya sadar atau tahu akan adanya satu identitas sosial tertentu. Pada diri individu terjadi terjadi proses kategorisasi sosial  yang memiliki fungsi diferensiasi sosial (kesadaran bahwa identitas sosialnya berbeda dengan identitas sosial yang lain) dan integrasi ideologi (individu mengintegrasikan cara berpikir dan berperilaku seperti orang-orang dalam kelompok).

Dalam hal ini, perlu kiranya konsep psikologi sosial digunakan untuk melengkapi ilmu psikologi intrinsik.









DAFTAR PUSTAKA:
Stanford Encyclopedia of Philosophy, 2006. Wilhelm Maximilian Wundt. Standford University. United States.
Lee., Steven. W. 2005. Encyclopedia of School Psychology. University of Kansas. US
Carole Wade dan Carol Travis. 2011. Psychology. www.pearson customlibrary.com
N. Reynolds, William, Miller, Gloria.E, Weiner, Irving. B.2003.  Handbook  of Psychology John Wiley and Sons Inc. Canada
Uhar Suharsaputra, Drs.,M.Pd., 2004. Filsafat Ilmu Jilid 1. Universitas Kuningan
Alan Carr, 2004, Positive Psychology, Brunner-Routledge, New York.


Pemikiran tentang pendidikan anak berbakat


Pemikiran Pendidikan Anak Gifted
Oleh: Gregorius Daru Wijoyoko (10.92.0045)

Latar Belakang

Tugas mewawancarai anak berbakat adalah tugas yang relatif sulit. Ini bagi penulis pribadi. Ini disebabkan karena anak berbakat adalah anak yang tidak begitu mudah ditemukan. Ibaratnya mencari jarum di antara tumpukan jerami. Penulis tidak bisa begitu saja menanyakan kepada responden, “Apakah Anda anak berbakat?” cara itu tentu bukan cara efektif. Namun demikian tugas kuliah inilah yang menyebabkan penulis berusaha mencari anak berbakat atau dalam bahasa Inggris disebut anak gifted.
Tetapi sudah menjadi kewajiban para pengajar  untuk mencari tahu karakteristik para siswa. Ini dilakukan untuk mengetahui metode terbaik mengajar para siswa terutama dengan karakteristik gifted yang tidak bisa disamakan dengan siswa lain. Satu hal yang penulis jadikan ukuran pencarian adalah pendapat dari Prof. Dr. S.C. Utami.  Menurut pakar psikologi pendidikan, Prof. Dr. S.C. Utami Munandar (2010), anak berbakat berbeda dengan anak pintar. “Bakat berarti punya potensi. Sedangkan pintar bisa didapat dari tekun mempelajari sesuatu,”. Dari pernyataan beliau tersebut, saya berusaha mencari anak berprestasi tetapi tidak tekun belajar. Semoga saja apa yang penulis temukan dapat sesuai dengan yang diharapkan.
Wawancara dilakukan penulis sebagai data pelengkap setelah responden (information supplyer) dinilai mempunyai ciri-ciri anak berbakat seperti di bawah ini:

Ciri-Ciri Anak Berbakat
Ciri yang biasanya dimiliki anak berbakat yaitu IQ yang tinggi. Anak berbakat umumnya menunjukkan IQ di atas rata-rata, yaitu minimal 130. “Namun tak berarti anak dengan IQ rata-rata, yaitu 90-110, tak akan berbakat,” kata Prof.Utami.. Ada faktor lain lagi, yaitu CQ atau kreativitas, yang juga harus di atas rata-rata, minimal 250. Selain itu, masih menurut Prof. Utami, “Ia juga harus memiliki task commitment, yakni kemampuan pengikatan diri terhadap tugas atau motivasi. Jadi, ada keinginan dan ketekunan untuk menyelesaikan sesuatu.”

Ciri lain untuk mengetahui keberbakatan anak  adalah dari perkembangan motoriknya.  Anak berbakat, perkembangan motoriknya lebih cepat dibanding anak biasa. Misalnya, umur 3 tahun  sudah bisa membaca jalan (normalnya, usia 6-7 tahun). Contoh lain, sudah bisa berjalan sebelum waktunya, selain itu, ia juga cepat dalam memegang sesuatu dan membedakan bentuk serta warna.
Anak berbakat sangat senang bereksplorasi atau menjajaki. Misalnya bisa dilihat dari caranya mempreteli mainan, atau barang-barang di sekitarnya. Ini karena rasa ingin tahunya begitu besar. Pada anak berbakat, mereka lebih intens mengamati sesuatu daripada anak-anak biasa. Hal lain yang menjadi ciri anak berbakat ialah bicaranya tidak sama dengan anak biasa. Pertanyaannya sering menggelitik dan tak terduga. Kadang ia tak puas dengan jawaban yang diberikan, sehingga terus berusaha mencari jawaban-jawaban lain.

Ciri-ciri Intelektual/Belajar
Anak berbakat mudah menangkap materi pengajaran, ingatan baik, perbendaharaan kata banyak, penalaran tajam (berpikir logis-kritis, memahami hubungan sebab-akibat), daya konsentrasi baik (perhatian tak mudah teralihkan), menguasai banyak bahan tentang macam-macam topik, senang dan sering membaca, ungkapan diri lancar dan jelas, pengamat yang cermat, senang mempelajari kamus maupun peta dan ensiklopedi. Cepat memecahkan soal, cepat menemukan kekeliruan atau kesalahan, cepat menemukan asas dalam suatu uraian, mampu membaca pada usia lebih muda, daya abstraksi tinggi, selalu sibuk menangani berbagai hal.

Ciri-ciri Kreativitas
Anak berbakat memiliki dorongan ingin tahu yang besar, sering mengajukan pertanyaan  yang  kritis, memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah, bebas dalam menyatakan pendapat, mempunyai rasa keindahan, menonjol dalam salah satu bidang seni, mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya serta tak mudah terpengaruh orang lain, rasa humor tinggi, daya imajinasi kuat, keaslian (orisinalitas) tinggi (tampak dalam ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya. Dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal yang jarang diperlihatkan anak-anak lain), dapat bekerja sendiri, senang mencoba hal-hal baru, kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi).

Ciri-ciri Motivasi
Anak berbakat mempunyai motivasi diri yang tinggi. Ini bisa diamati dari ketekunannya menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu lama, tak berhenti sebelum selesai), ulet menghadapi kesulitan (tak lekas putus asa), tak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi, ingin mendalami bahan/bidang pengetahuan yang diberikan, selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin (tak cepat puas dengan prestasinya), menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah “orang dewasa” (misalnya terhadap pembangunan, korupsi, keadilan, dan sebagainya). Senang dan rajin belajar serta penuh semangat, dapat mempertahankan pendapat-pendapatnya (jika sudah yakin akan sesuatu, tak mudah melepaskan hal yang diyakini itu), mengejar tujuan-tujuan jangka panjang (dapat menunda pemuasan kebutuhan sesaat yang ingin dicapai kemudian), senang mencari dan memecahkan soal-soal.
Realita Wawancara
Namun demikian, dalam realita wawancara, bisa jadi responden tidak seratus persen sesuai dengan teori. Misalnya Nie Levin, responden penulis. Dia adalah anak yang tampaknya biasa saja. Jarang belajar, yang menunjukkan kurangnya motivasi berprestasi. Namun, dia sering dimintai untuk mengikuti lomba, di bidang kimia, komputer, bahasa Inggris, dan dia sering juara. Di kelas, terakhir di semester satu kemarin dia rangking 5. Ini dia dapatkan dengan jarang belajar. Demikian juga dengan resonden yang berikutnya, Marshel, secara akademik dia biasa saja. Namun demikian, jika dihadapkan di permainan catur, dia cukup luar biasa (lihat hasil prestasi di lampiran wawancara).

Personalitas Non-Kognitif
Ada beberapa aspek yang bisa dilihat dalam area ini. Dua informan supplyer jarang menunjukkan kepekaan terhadap stress, karena mungkin tidak pernah stress. Motivasi berprestasinya biasa saja, mereka bukan tipe orang berbakat yang ambisius, dan juga tidak mempunyai strategi khusus dalam belajar. Dua-duanya bisa belajar sambil berdiskusi, bisa juga belajar sendiri, hanya saja kemampuan mengingat Levin cukup tajam. Mengenai rasa takut terhadap ujian, Levin dan Marshel tidak memilikinya. Kontrol terhadap harapan, mereka sendiri merasa belum maksimal dalam mengembangkan kemampuannya, jadi dia belum maksimal dalam mengontrol harapan-harapannya.

Faktor-Faktor Keberbakatan
Levin lebih berbakat pada bidang-bidang yang mengandalkan kapasitas intelektual, teknik, intelegensi praktikal, memorinya cukup tajam. Sedangkan bidang-bidang psikomotor, kepekaan  musik, kompetensi sosial, Levin cenderung biasa saja, dalam artian normal seperti teman-teman lainnya. Marshel sendiri minatnya selain catur belum jelas. Namun demikian nilai terbaiknya adalah di bidang eksakta dan bahasa.

Lingkungan (Moderator)
Keluarga mendukung Levin untuk mengembangkan bakatnya. Namun demikian Levin menanggapinya secara biasa saja. Apabila tidak diminta, maka Levin cenderung tidak mengajukan diri. Sekolah juga mendukung bakat-bakat Levin. Itulah mengapa Levin sering juara dalam beberapa lomba yang diikutinya. Namun, Levin belum menunjukkan antusiasme yang luar biasa.
Sementara Marshel, rupanya keluarganya mendukung kemauan Marshel. Hanya saja karena bakat paling jelas Marshel adalah di bidang catur, maka bidang itulah yang didukung keluarganya.

Bidang-Bidang Prestasi
Prestasi yang jelas telah diraih oleh Levin adalah di bidang komputer, bahasa Inggris dan Matematika. Levin juga sering diajukan dalam lomba Kimia. Ini rekomendasi dari sekolah, yang berarti kemampuan dia di bidang sains juga cukup diakui. Marshel, tidak terkalahkan di bidang catur (SMA se-Semarang). Dia belum serius di bidang lain.

Ulasan Sistem Pendidikan Bagi Anak Gifted
Penulis percaya bahwa mereka, anak-anak gifted tersebut mampu belajar dengan sistem behaviour, kognitif, maupun humanistik. Potensi yang mereka miliki memungkinkan mereka untuk beradaptasi dengan sistem belajar apapun. Tetapi, penulis juga yakin bahwa sistem terbaik untuk memaksimalkan potensi mereka adalah dengan sistem pembelajaran humanis. Sistem ini mengembangkan potensi siswa berdasarkan pengolahan emosi siswa. Aspek-aspek kepekaan sosial, rasa kemanusiaan, perlu ditanamkan kepada para siswa gifted, karena salah satu kelemahan mereka adalah kurang bersosialisasi (bisa dilihat dari wawancara bahwa Levin dan Marshel mempunyai sedikit teman).  
Teori ini terbangun berdasarkan pendapat para ahli yang humanis. Mereka ingin membuat sistem pendidikan yang manusiawi. Mereka tidak setuju dengan sistem teori pembelajaran yang menempatkan manusia sebagai mesin dari sistem belajar (behavioristik), sementara di lain sisi rupanya aliran ini tidak puas dengan pandangan kogitivisme yang sangat menekankan pada dimensi kognitif dengan mengabaikan pengaruh dari lingkungan terhadap individu.
Abraham Maslow adalah salah satu tokoh aliran ini. Ia menyatakan bahwa yang terpenting dalam diri manusia adalah potensi yang dimilikinya. Melanjutkan teori “Psikoanalisa Freud” yang bergelut dengan dunia “sakit jiwa” manusia, Maslow ingin menekankan bahwa manusia yang “sehat” perlu membangun dirinya untuk melakukan hal-hal positif. Ini dimulai dengan proses belajar manusia.
Pembangunan kemampuan positif manusia kiranya menjadi fokus para ahli yang mendukung teori humanistik. Pembangunan ini erat kaitannya dengan pembangunan emosi positif dalam individu, misalnya keterampilan membangun dan menjaga relasi yang hangat, mengajarkan kepercayaan, kesadaran, kejujuran interpersonal, dan pengetahuan positif yang mendukung nilai-nilai kemanusiaan. Intinya adalah peningkatan kualitas positif manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Abraham Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Atensi, persepsi dan memori, serta proses antara mereka bertujuan untuk memenuhi hirarki kebutuhan tersebut.  Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Apabila kebutuhan-kebutuhan manusia tersebut tidak terpenuhi, manusia akan mengalami “sakit psikis”.
Jenis kebutuhan ini berkaitan erat dengan keinginan untuk mewujudkan dan mengembangkan potensi diri. Kepribadian bisa mencapai peringkat teratas ketika aktualisasi diri seseorang akan bisa memanfaatkan faktor potensialnya secara sempurna. Siswa terhambat kepribadiannya karena dia tidak mampu mengaktualisasikan dirinya dalam lingkungannya.
Jadi, apabila behaviorisme menekankan tentang pentingnya pengendalian aspek perilaku siswa (motorik), kognitif menekankan pentingnya peningkatan aspek  kognitif siswa (akal), aliran humanisme lebih menekankan pentingnya meningkatkan aspek afektif siswa (emosi positif). Berbicara masalah peningkatan kualitas “hati” manusia dalam merespon hal-hal yang ia pelajari. Apabila Freudian melihat aspek “emosi” sebaga masalah yang mengganggu kepribadian manusia, Maslow lebih melihat “emosi” sebagai keunggulan manusia dalam merespon yang terjadi dalam hidupnya.
Tokoh lain yang mengolah perkembangan teori humanis ini adalah Arthur Combs (1912-1999) dan Donald Snygg (1904-1967) yang memberi konsep bahwa pembelajaran siswa ditentukan oleh persepsi siswa yang pasti unik antara siswa satu dengan yang lain. Carl Rogers (1902-1987) menambahkan mengenai  pembelajaran berarti pendewasaan. Dalam artian, proses pembelajaran siswa perlu memperhatikan proses pematangan yang alami sesuai dengan daya pengertian siswa, dan siswa tidak perlu dipaksakan untuk memahami sesuatu yang kadang tidak bermakna.

Kelebihan:
1.      Membuat siswa lebih aktif (belajar mengolah emosi) daripada pasif. Dalam artian, siswa diminta mengikuti tahap pembelajaran dengan kemampuan afeksi / emosi positif untuk memahami, mencerna materi kemudian mengaplikasikannya sesuai pemahaman mereka. Ruang pemaknaan dengan hati sangat diberi tempat dalam sistem ini. Untuk siswa gifted yang sangat cerdas secara kognitif, pengolahan emosi agar mempunyai kepekaan sosial ini diperlukan agar kecerdasan mereka bermanfaat bagi banyak orang dan tidak dimiliki sendiri.
2.      Sistem ini sangat mengutamakan proses pendewasaan emosi  siswa. Dengan demikian nilai-nilai pemaknaan siswa terhadap materi sungguh diberi ruang. Apabila dilakukan menjadi tradisi pendidikan, sistem ini akan mendorong bertumbuhnya nilai-nilai kebijaksanaan dalam sekolah. Misalnya, siswa gifted diberi kebebasan apakah akan meneruskan kelasnya di kelas akselerasi, olimpiade, atau imersi. Meski, setelah itu mereka dituntut untuk bertanggungjawab atas pilihan mereka tersebut.  
3.      Siswa akan terbiasa dengan memaknai materi secara mandiri. Bukan semata-mata benar-salah secara kognitif, tetapi terutama memaknai peristiwa dari nilai-nilai kemanusiaan. Mereka dibiasakan memaknai materi dengan pengembangan dari apa yang telah diberikan  sistem atau guru. Budaya kritis dianjurkan. Kepercayaan diri, kemerdekaan, proses mendengar hati nurani, akan berkembang.
Kekurangan:
1.      Kesulitan perencanaan sistem pembelajaran akan terjadi. Proses humanisme pendidikan seperti konseling siswa, ranah pengemabangan bakat dan minat siswa adalah hal-hal yang tidak bisa digeneralisasi dalam SAP ataupun  RPP. Guru-guru yang tidak kreatif akan sulit berkreasi di luar perangkat belajar mengajar dengan standard yang teratur (silabus, SAP. Supervisi pembelajaran, dll), tatacara monitoring, serta tatacara evaluasi terhadap siswa hingga sedetil mungkin. Bagaimanapun, perencanaan proses pendidikan seperti RPP, Sap, silabus perlu untuk memastikan kesiapan pengajar. Diperlukan banyak kesungguhan untuk menjalani sistem ini. Perlu banyak waktu dan energi dikeluarkan untuk proses konseling demi pendewasaan siswa.
2.      Bagi guru yang tidak kreatif ataupun kecerdasan emosinya rendah, akan sulit mengikuti perkembangan siswa kreatif. Karena bisa jadi kemampuan problem solving antara siswa dan guru berbeda. Keluhan siswa-siswa kreatif dalam proses pendidikan adalah jika bertemu guru yang membosankan (lihat lampiran wawancara). Ini penting untuk membuat pengajar dan siswa mengerti apa yang akan dilakukan, materi yang dipelajari,  dan mengevaluasi yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran. Fakta di lapangan mengatakan tidak semua guru kreatif.
3.      Dalam praktek, kelas-kelas yang berisi banyak siswa dengan berbagai tingkat kepandaian dan karakteristik membutuhkan kejelasan aturan pembelajaran bersama agar para siswa mampu berkonsentrasi belajar dengan baik. Penulis membayangkan jika siswa-siswa gifted ini termasuk golongan siswa yang nakal dan kreatif. Bis jadi sangat repot mengelola kelas tersebut. Reinforcement dan punishment (penguatan/imbalan dan hukuman) adalah konsep yang realistis . bagi kelas bersiswa banyak, konsep pembelajaran humanistik  yang mengabaikan reinforcement dan punishment dikhawatirkan  akan mengakibatkan ketidakteraturan dalam proses pembelajaran.


Penutup
Secara praktis, pembelajaran manusia adalah wilayah psikologi. Penerapannya sistem pembelajaran bisa dilakukan oleh para pelaku pendidikan, tetapi pengukuran terhadap pembelajaran, analisa terhadap penyebab manusia belajar sesuatu, pengamatan terhadap proses dan dampak pembelajaran akan lebih nyata apabila dilakukan oleh mereka yang berkecimpung di area ilmu psikologi. Penulis adalah pelaku pendidikan yang belajar di area psikologi. Karangan ini dimaksudkan untuk menggali makna pembelajaran bagi siswa gifted. Teori-teori pembelajaran manusia yang diulas dalam mata kuliah Psikologi Pembelajaran oleh Pak Rahmat Djati dan tim dosen Unika Soegijapranoto menginspirasi penulis untuk meneliti dan merekonfirmasi teori pembelajaran dengan pengalaman subjek, yang masih remaja.
Semua penelitian penulis terutama untuk kepentingan dunia pendidikan. Penulis ingin mendalami dunia pendidikan yang mampu membahagiakan. Baik bagi siswa maupun pengajar. Penulis memilih aliran humanistik karena menurut penulis aliran ini memanusiawikan sistem pendidikan, meski, tentu saja perlu dilengkapi dengan aliran kognitif dan behaviourisme. Adalah tidak realistis sistem pendidikan yang ditopang satu pilar aliran saja.









Lampiran Wawancara dengan Anak Gifted
Nama                                      : Nie, Levin Kusuma Adiatma
Alamat                                                : Jl. Cendrawasih Selatan 12
Nomer yang bisa dihubungi   : 081914568585
Kapan bisa membaca             : Playgroup
IQ                                            : 139
Prestasi                                   : lomba komputer(SD), lomba b.Inggris (SD), lomba matematika (SD)
Hobby                                     : Sepak Bola, Main Komputer
Minatmu untuk berprestasi  di bidang                                               :Komputer, sepak bola
Apakah kamu mempunyai banyak teman yang usianya di atas kamu         : sedikit
Apakah kamu suka mempelajari sesuatu yang baru                         : kadang-kadang
Apakah kamu mengerjakan tugas dengan  baik dan efisien             : kurang baik, sering merasa malas
Bagaimana kamu belajar sehari-hari                                                            : sering tidak belajar, belajar hanya jika ada ulangan
Tingkat kemandirianmu (skala 1-10?), jelaskan dengan singkat      : 8, bisa masak sendiri, pergi sendiri,  cukup bisa diandalkan
Bagaimana reaksi keluarga terhadap prestasi                                              : cukup menghargai, kadang merasa bisa lebih baik lagi
Bagaimana reaksi sekolah terhadap kemampuanmu                                    : cukup baik
Apa hambatan yang dapat menghambat proses semua bakat dan kemampuanmu?          
1.       intern        : rasa malas
2.      Ekstern      : ajakan teman untuk tidak belajar
Bagaimana kamu bersosialisasi di lingkungan tempat tinggalmu?               :
Kurang sosialisasi
Bagaimana kamu bersosialisasi di sekolah?                                      :
Lumayan, sering bercanda dengan teman, bermain bersama, ada sahabat laki-laki & perempuan
Apakah kamu bisa fokus belajar?                                                     :
Bisa, tapi kadang-kadang perhatian bisa teralih oleh hal yang lain (game, ngobrol, bercanda)
Apa yang membuat kamu sulit belajar?                                                        :
1.      Intern               : malas mengikuti pelajaran
2.      Ekstern                        : guru tidak menarik
Menurutmu bagaimana sistem pendidikan yang dapat memacu anak2 cerdas seperti tipe kalian ini mampu lebih berprestasi?               
Lebih menarik, guru jangan terlalu kolot/membosankan
Apakah kamu senang berkompetisi?                                                
cukup senang
Apakah kamu mempunyai ide-ide orisinil (asli, kreativitas tertentu) yang belum terekspose?
Tidak ada
Jelaskan, jika ada.

Apakah kamu mempunyai minat tertentu yang sangat menarik perhatianmu sampai kamu rela menghabiskan waktu berjam-jam pada bidang itu? Bidang apa itu?           :
Komputer, game, sepak bola

Ceritakan profil dirimu secara singkat kurang lebih setengah halaman:
Saya orang yang cukup mandiri, tapi sering malas, perlu motivasi dari diri sendiri untuk rajin. Sebenarnya bisa untuk rajin, tetapi seringkali malas belajar, lebih banyak bermain komputer. Cukup berani untuk mengambil keputusan, cukup bertanggung jawab, berusaha untuk lebih jujur. Sering merenung untuk mengingat-ingat, mengintrospeksi diri sebelum tidur, atau ketika sendirian.


Perbandingan  Wawancara dengan Marshel

NAMA            :           MARSHEL   ANDHIKA
SEKOLAH       :           SMA  SEDES  SAPIENTIAE
JURUSAN       :           BAHASA
UMUR             :           18 TH
PRESTASI            :      Pada kelas 1 SMA bermain seri dengan Master Catur “ Farid Firmansyah”,        menjadi  pemenang  dalam  pertandingan persahabatan catur dengan SMA Loyola mewakili SMA Sedes Sapientiae, dapat menyelesaikan kasus rubik dalam  15 detik (tahun 2012 di bawah 10 detik).
Hobby             :           catur, game

WAWANCARA
Wawancara dilakukan di sekolah SMA Sedes Sapientiae, jam setelah pulang Sekolah, pada Selasa 12 April 2011.  Wawancara dilakukan kepada subjek dengan suasana informal setelah Marshel makan siang (campus interview). Tidak ada kondisi paksaan, Marshel melakukan wawancara dengan sukarela.
1.      Pernah tes IQ?  Berapa  skor IQ  yang pernah diterima?
a.       Pernah
b.      Skor waktu SD  145
c.       Skor waktu SMA  128
2.      Bagaimana reaksi orangtuamu  setelah memahami bahwa  kecerdasanmu di atas rata-rata?
a.       Mereka memberi support  semampu mereka
b.      Tidak ada paksaan  dari orangtua  supaya Marshel mendukung  ide-ide dari orangtuanya
c.       Cenderung memberi kebebasan kepada Marshel untuk mengembangkan  bakat-bakatnya
3.      Bagaimana reaksimu  setelah  kamu tahu kecerdasanmu  di atas rata-rata?
a.       Biasa saja
b.      Masih ada yang lebih cerdas
4.      Apa hambatan-hambatanmu untuk mengembangkan  kecerdasanmu?
a.       Marshel kesulitan untuk fokus terhadap  hal-hal atau pelajaran yang tidak disenangi
5.      Yang mengherankan adalah prestasi studimu biasa saja, meski beberapa guru memahami kamu sebagai orang yang kecerdasannya di atas rata-rata. Mengapa?
a.       Tidak suka pelajaran sekolah
b.      Pelajaran sekolah tidak menantang
c.       Tidak pernah belajar, kecuali  sekitar 15 menit sebelum ulangan
d.      Tidak ada motivasi besar untuk berprestasi di dalam hal akademik sekolah
6.      Apakah ada temanmu  yang  memahami  bahwa kau cerdas?
a.       “Ada, beberapa  teman (IPA, Bahasa) meminta  pengajaran masalah Matematika atau Bahasa Indonesia (pemahaman bacaan), karena teman-teman mengatakan Marshel dapat menjelaskan  bab-bab tertentu secara lebih jelas dan ringkas (induktif, dan bukan deduktif) daripada guru di sekolah. “
7.      Apa cita-citamu?
a.       “Belum ada yang pasti, jadi orang berguna di masa depan.”
8.      Ingin meneruskan kuliah di mana?
a.       “HI”
9.      Mengapa?
a.       “Karena mungkin itu yang cocok”
10.  Ok! Kamu mengatakan kalau kamu kesulitan untuk berfokus dengan hal-hal yang kamu tidak sukai. Bagaimana dengan  fokus terhadap hal-hal yang disukai?
a.       “Kalau itu jangan ditanya pak! Saya bisa lalap habis buku-buku tebal kejuaraan catur berhari-hari”, kata Marshel.
b.      “Ketika SD  saya pernah  dengan antusias membuat  robot-robotan yang canggih. Tapi sekarang saya lupa pak.”
11.  Menurutmu, bagaimana kamu dapat meningkatkan daya fokusmu supaya prestasimu meningkat?
a.       “Ga tau pak, jalani ajalah. “




DAFTAR PUSTAKA
Bu Cicila, Pak Djati, Bu Ery.2012. Bahan-Bahan Kuliah Psikologi Pembelajaran MSI  UNIKA. Semarang: UNIKA
Hamalik Omar. 2007.Psikologi Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo Offset
Rida Ulfa, Athik Winarsih, Kuteb Syarifuddin, Devi A. 2009. Makalah Teori Belajar Aliran Psikologi Behaviouristik, Kognitifistik dan Humanistik.  Surabaya: IAIN Sunan Ampel.
Tabloid Nova.com. Kamis, 25 Maret 2010. “Si Cilik Pintar atau Berbakat?”