Pemikiran Pendidikan Anak Gifted
Oleh: Gregorius Daru Wijoyoko
(10.92.0045)
Latar Belakang
Tugas mewawancarai
anak berbakat adalah tugas yang relatif sulit. Ini bagi penulis pribadi. Ini disebabkan
karena anak berbakat adalah anak yang tidak begitu mudah ditemukan. Ibaratnya
mencari jarum di antara tumpukan jerami. Penulis tidak bisa begitu saja
menanyakan kepada responden, “Apakah Anda anak berbakat?” cara itu tentu bukan
cara efektif. Namun demikian tugas kuliah inilah yang menyebabkan penulis
berusaha mencari anak berbakat atau dalam bahasa Inggris disebut anak gifted.
Tetapi sudah menjadi kewajiban para pengajar untuk mencari tahu karakteristik para siswa.
Ini dilakukan untuk mengetahui metode terbaik mengajar para siswa terutama
dengan karakteristik gifted yang tidak bisa disamakan dengan siswa lain. Satu
hal yang penulis jadikan ukuran pencarian adalah pendapat dari Prof. Dr. S.C.
Utami. Menurut pakar psikologi pendidikan, Prof. Dr.
S.C. Utami Munandar (2010), anak berbakat berbeda dengan anak pintar. “Bakat
berarti punya potensi. Sedangkan pintar bisa didapat dari tekun mempelajari
sesuatu,”. Dari pernyataan beliau tersebut, saya berusaha mencari anak
berprestasi tetapi tidak tekun belajar. Semoga saja apa yang penulis temukan
dapat sesuai dengan yang diharapkan.
Wawancara dilakukan
penulis sebagai data pelengkap setelah responden (information supplyer) dinilai mempunyai ciri-ciri anak berbakat
seperti di bawah ini:
Ciri-Ciri Anak Berbakat
Ciri yang biasanya dimiliki anak berbakat yaitu IQ yang tinggi. Anak berbakat umumnya
menunjukkan IQ di atas rata-rata, yaitu minimal 130. “Namun tak berarti anak
dengan IQ rata-rata, yaitu 90-110, tak akan berbakat,” kata Prof.Utami.. Ada
faktor lain lagi, yaitu CQ atau kreativitas, yang juga harus di atas rata-rata,
minimal 250. Selain itu, masih menurut Prof. Utami, “Ia juga harus memiliki
task commitment, yakni kemampuan pengikatan diri terhadap tugas atau motivasi.
Jadi, ada keinginan dan ketekunan untuk menyelesaikan sesuatu.”
Ciri lain untuk mengetahui
keberbakatan anak adalah dari
perkembangan motoriknya. Anak berbakat,
perkembangan motoriknya lebih cepat dibanding anak biasa. Misalnya, umur 3
tahun sudah bisa membaca jalan
(normalnya, usia 6-7 tahun). Contoh lain, sudah bisa berjalan sebelum waktunya,
selain itu, ia juga cepat dalam memegang sesuatu dan membedakan bentuk serta
warna.
Anak berbakat sangat
senang bereksplorasi atau menjajaki. Misalnya bisa dilihat dari caranya mempreteli
mainan, atau barang-barang di sekitarnya. Ini karena rasa ingin tahunya begitu
besar. Pada anak berbakat, mereka lebih intens mengamati sesuatu daripada
anak-anak biasa. Hal lain yang menjadi ciri anak berbakat ialah bicaranya tidak
sama dengan anak biasa. Pertanyaannya sering menggelitik dan tak terduga.
Kadang ia tak puas dengan jawaban yang diberikan, sehingga terus berusaha
mencari jawaban-jawaban lain.
Ciri-ciri Intelektual/Belajar
Anak berbakat mudah
menangkap materi pengajaran, ingatan baik, perbendaharaan kata banyak, penalaran
tajam (berpikir logis-kritis, memahami hubungan sebab-akibat), daya konsentrasi
baik (perhatian tak mudah teralihkan), menguasai banyak bahan tentang
macam-macam topik, senang dan sering membaca, ungkapan diri lancar dan jelas,
pengamat yang cermat, senang mempelajari kamus maupun peta dan ensiklopedi.
Cepat memecahkan soal, cepat menemukan kekeliruan atau kesalahan, cepat
menemukan asas dalam suatu uraian, mampu membaca pada usia lebih muda, daya
abstraksi tinggi, selalu sibuk menangani berbagai hal.
Ciri-ciri Kreativitas
Anak berbakat memiliki
dorongan ingin tahu yang besar, sering mengajukan pertanyaan yang kritis, memberikan banyak gagasan dan usul
terhadap suatu masalah, bebas dalam menyatakan pendapat, mempunyai rasa
keindahan, menonjol dalam salah satu bidang seni, mempunyai pendapat sendiri
dan dapat mengungkapkannya serta tak mudah terpengaruh orang lain, rasa humor
tinggi, daya imajinasi kuat, keaslian (orisinalitas) tinggi (tampak dalam
ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya. Dalam pemecahan masalah menggunakan
cara-cara orisinal yang jarang diperlihatkan anak-anak lain), dapat bekerja
sendiri, senang mencoba hal-hal baru, kemampuan mengembangkan atau memerinci
suatu gagasan (kemampuan elaborasi).
Ciri-ciri Motivasi
Anak berbakat mempunyai motivasi diri yang tinggi. Ini bisa
diamati dari ketekunannya menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam
waktu lama, tak berhenti sebelum selesai), ulet menghadapi kesulitan (tak lekas
putus asa), tak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi, ingin
mendalami bahan/bidang pengetahuan yang diberikan, selalu berusaha berprestasi
sebaik mungkin (tak cepat puas dengan prestasinya), menunjukkan minat terhadap
macam-macam masalah “orang dewasa” (misalnya terhadap pembangunan, korupsi, keadilan,
dan sebagainya). Senang dan rajin belajar serta penuh semangat, dapat
mempertahankan pendapat-pendapatnya (jika sudah yakin akan sesuatu, tak mudah
melepaskan hal yang diyakini itu), mengejar tujuan-tujuan jangka panjang (dapat
menunda pemuasan kebutuhan sesaat yang ingin dicapai kemudian), senang mencari
dan memecahkan soal-soal.
Realita Wawancara
Namun demikian, dalam
realita wawancara, bisa jadi responden tidak seratus persen sesuai dengan
teori. Misalnya Nie Levin, responden penulis. Dia adalah anak yang tampaknya
biasa saja. Jarang belajar, yang menunjukkan kurangnya motivasi berprestasi.
Namun, dia sering dimintai untuk mengikuti lomba, di bidang kimia, komputer,
bahasa Inggris, dan dia sering juara. Di kelas, terakhir di semester satu kemarin
dia rangking 5. Ini dia dapatkan dengan jarang belajar. Demikian juga dengan
resonden yang berikutnya, Marshel, secara akademik dia biasa saja. Namun
demikian, jika dihadapkan di permainan catur, dia cukup luar biasa (lihat hasil
prestasi di lampiran wawancara).
Personalitas
Non-Kognitif
Ada beberapa aspek
yang bisa dilihat dalam area ini. Dua informan supplyer jarang menunjukkan
kepekaan terhadap stress, karena mungkin tidak pernah stress. Motivasi
berprestasinya biasa saja, mereka bukan tipe orang berbakat yang ambisius, dan
juga tidak mempunyai strategi khusus dalam belajar. Dua-duanya bisa belajar
sambil berdiskusi, bisa juga belajar sendiri, hanya saja kemampuan mengingat
Levin cukup tajam. Mengenai rasa takut terhadap ujian, Levin dan Marshel tidak
memilikinya. Kontrol terhadap harapan, mereka sendiri merasa belum maksimal
dalam mengembangkan kemampuannya, jadi dia belum maksimal dalam mengontrol
harapan-harapannya.
Faktor-Faktor
Keberbakatan
Levin lebih berbakat
pada bidang-bidang yang mengandalkan kapasitas intelektual, teknik, intelegensi
praktikal, memorinya cukup tajam. Sedangkan bidang-bidang psikomotor, kepekaan musik, kompetensi sosial, Levin cenderung
biasa saja, dalam artian normal seperti teman-teman lainnya. Marshel sendiri minatnya
selain catur belum jelas. Namun demikian nilai terbaiknya adalah di bidang
eksakta dan bahasa.
Lingkungan (Moderator)
Keluarga mendukung
Levin untuk mengembangkan bakatnya. Namun demikian Levin menanggapinya secara
biasa saja. Apabila tidak diminta, maka Levin cenderung tidak mengajukan diri.
Sekolah juga mendukung bakat-bakat Levin. Itulah mengapa Levin sering juara
dalam beberapa lomba yang diikutinya. Namun, Levin belum menunjukkan antusiasme
yang luar biasa.
Sementara Marshel,
rupanya keluarganya mendukung kemauan Marshel. Hanya saja karena bakat paling
jelas Marshel adalah di bidang catur, maka bidang itulah yang didukung
keluarganya.
Bidang-Bidang Prestasi
Prestasi yang jelas
telah diraih oleh Levin adalah di bidang komputer, bahasa Inggris dan
Matematika. Levin juga sering diajukan dalam lomba Kimia. Ini rekomendasi dari
sekolah, yang berarti kemampuan dia di bidang sains juga cukup diakui. Marshel,
tidak terkalahkan di bidang catur (SMA se-Semarang). Dia belum serius di bidang
lain.
Ulasan
Sistem Pendidikan Bagi Anak Gifted
Penulis percaya bahwa mereka,
anak-anak gifted tersebut mampu
belajar dengan sistem behaviour, kognitif, maupun humanistik. Potensi yang
mereka miliki memungkinkan mereka untuk beradaptasi dengan sistem belajar
apapun. Tetapi, penulis juga yakin bahwa sistem terbaik untuk memaksimalkan
potensi mereka adalah dengan sistem pembelajaran humanis. Sistem ini
mengembangkan potensi siswa berdasarkan pengolahan emosi siswa. Aspek-aspek
kepekaan sosial, rasa kemanusiaan, perlu ditanamkan kepada para siswa gifted, karena salah satu kelemahan
mereka adalah kurang bersosialisasi (bisa dilihat dari wawancara bahwa Levin
dan Marshel mempunyai sedikit teman).
Teori
ini terbangun berdasarkan pendapat para ahli yang humanis. Mereka ingin membuat
sistem pendidikan yang manusiawi. Mereka tidak setuju dengan sistem teori
pembelajaran yang menempatkan manusia sebagai mesin dari sistem belajar (behavioristik),
sementara di lain sisi rupanya aliran ini tidak puas dengan pandangan kogitivisme
yang sangat menekankan pada dimensi kognitif dengan mengabaikan pengaruh dari lingkungan
terhadap individu.
Abraham
Maslow adalah salah satu tokoh aliran ini. Ia menyatakan bahwa yang terpenting
dalam diri manusia adalah potensi yang dimilikinya. Melanjutkan teori
“Psikoanalisa Freud” yang bergelut dengan dunia “sakit jiwa” manusia, Maslow
ingin menekankan bahwa manusia yang “sehat” perlu membangun dirinya untuk
melakukan hal-hal positif. Ini dimulai dengan proses belajar manusia.
Pembangunan
kemampuan positif manusia kiranya menjadi fokus para ahli yang mendukung teori
humanistik. Pembangunan ini erat kaitannya dengan pembangunan emosi positif
dalam individu, misalnya keterampilan membangun dan menjaga relasi yang hangat,
mengajarkan kepercayaan, kesadaran, kejujuran interpersonal, dan pengetahuan
positif yang mendukung nilai-nilai kemanusiaan. Intinya adalah peningkatan
kualitas positif manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Abraham Maslow percaya bahwa manusia
tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang
sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan).
Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
hidupnya. Atensi, persepsi dan memori, serta proses antara mereka bertujuan
untuk memenuhi hirarki kebutuhan tersebut.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari
yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi
(aktualisasi diri). Apabila kebutuhan-kebutuhan manusia tersebut tidak
terpenuhi, manusia akan mengalami “sakit psikis”.
Jenis kebutuhan ini berkaitan erat
dengan keinginan untuk mewujudkan dan mengembangkan potensi diri. Kepribadian
bisa mencapai peringkat teratas ketika aktualisasi diri seseorang akan bisa
memanfaatkan faktor potensialnya secara sempurna. Siswa terhambat
kepribadiannya karena dia tidak mampu mengaktualisasikan dirinya dalam
lingkungannya.
Jadi,
apabila behaviorisme menekankan tentang pentingnya pengendalian aspek perilaku
siswa (motorik), kognitif menekankan pentingnya peningkatan aspek kognitif siswa (akal), aliran humanisme lebih
menekankan pentingnya meningkatkan aspek afektif siswa (emosi positif).
Berbicara masalah peningkatan kualitas “hati” manusia dalam merespon hal-hal
yang ia pelajari. Apabila Freudian melihat aspek “emosi” sebaga masalah yang
mengganggu kepribadian manusia, Maslow lebih melihat “emosi” sebagai keunggulan
manusia dalam merespon yang terjadi dalam hidupnya.
Tokoh
lain yang mengolah perkembangan teori humanis ini adalah Arthur Combs
(1912-1999) dan Donald Snygg (1904-1967) yang memberi konsep bahwa pembelajaran
siswa ditentukan oleh persepsi siswa yang pasti unik antara siswa satu dengan
yang lain. Carl Rogers (1902-1987) menambahkan mengenai pembelajaran berarti pendewasaan. Dalam
artian, proses pembelajaran siswa perlu memperhatikan proses pematangan yang
alami sesuai dengan daya pengertian siswa, dan siswa tidak perlu dipaksakan
untuk memahami sesuatu yang kadang tidak bermakna.
Kelebihan:
1. Membuat
siswa lebih aktif (belajar mengolah emosi) daripada pasif. Dalam artian, siswa
diminta mengikuti tahap pembelajaran dengan kemampuan afeksi / emosi positif
untuk memahami, mencerna materi kemudian mengaplikasikannya sesuai pemahaman
mereka. Ruang pemaknaan dengan hati sangat diberi tempat dalam sistem ini. Untuk
siswa gifted yang sangat cerdas
secara kognitif, pengolahan emosi agar mempunyai kepekaan sosial ini diperlukan
agar kecerdasan mereka bermanfaat bagi banyak orang dan tidak dimiliki sendiri.
2. Sistem
ini sangat mengutamakan proses pendewasaan emosi siswa. Dengan demikian nilai-nilai pemaknaan
siswa terhadap materi sungguh diberi ruang. Apabila dilakukan menjadi tradisi
pendidikan, sistem ini akan mendorong bertumbuhnya nilai-nilai kebijaksanaan
dalam sekolah. Misalnya, siswa gifted diberi
kebebasan apakah akan meneruskan kelasnya di kelas akselerasi, olimpiade, atau
imersi. Meski, setelah itu mereka dituntut untuk bertanggungjawab atas pilihan
mereka tersebut.
3. Siswa
akan terbiasa dengan memaknai materi secara mandiri. Bukan semata-mata benar-salah
secara kognitif, tetapi terutama memaknai peristiwa dari nilai-nilai
kemanusiaan. Mereka dibiasakan memaknai materi dengan pengembangan dari apa
yang telah diberikan sistem atau guru.
Budaya kritis dianjurkan. Kepercayaan diri, kemerdekaan, proses mendengar hati
nurani, akan berkembang.
Kekurangan:
1. Kesulitan
perencanaan sistem pembelajaran akan terjadi. Proses humanisme pendidikan
seperti konseling siswa, ranah pengemabangan bakat dan minat siswa adalah
hal-hal yang tidak bisa digeneralisasi dalam SAP ataupun RPP. Guru-guru yang tidak kreatif akan sulit berkreasi
di luar perangkat belajar mengajar dengan standard yang teratur (silabus, SAP.
Supervisi pembelajaran, dll), tatacara monitoring, serta tatacara evaluasi
terhadap siswa hingga sedetil mungkin. Bagaimanapun, perencanaan proses
pendidikan seperti RPP, Sap, silabus perlu untuk memastikan kesiapan pengajar. Diperlukan
banyak kesungguhan untuk menjalani sistem ini. Perlu banyak waktu dan energi
dikeluarkan untuk proses konseling demi pendewasaan siswa.
2. Bagi
guru yang tidak kreatif ataupun kecerdasan emosinya rendah, akan sulit
mengikuti perkembangan siswa kreatif. Karena bisa jadi kemampuan problem
solving antara siswa dan guru berbeda. Keluhan siswa-siswa kreatif dalam proses
pendidikan adalah jika bertemu guru yang membosankan (lihat lampiran
wawancara). Ini penting untuk membuat pengajar dan siswa mengerti apa yang akan
dilakukan, materi yang dipelajari, dan
mengevaluasi yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran. Fakta di lapangan
mengatakan tidak semua guru kreatif.
3.
Dalam praktek, kelas-kelas yang
berisi banyak siswa dengan berbagai tingkat kepandaian dan karakteristik
membutuhkan kejelasan aturan pembelajaran bersama agar para siswa mampu
berkonsentrasi belajar dengan baik. Penulis membayangkan jika siswa-siswa gifted ini termasuk golongan siswa yang
nakal dan kreatif. Bis jadi sangat repot mengelola kelas tersebut. Reinforcement dan punishment
(penguatan/imbalan dan hukuman) adalah konsep yang realistis . bagi kelas
bersiswa banyak, konsep pembelajaran humanistik
yang mengabaikan reinforcement dan
punishment dikhawatirkan akan
mengakibatkan ketidakteraturan dalam proses pembelajaran.
Penutup
Secara praktis,
pembelajaran manusia adalah wilayah psikologi. Penerapannya sistem pembelajaran
bisa dilakukan oleh para pelaku pendidikan, tetapi pengukuran terhadap
pembelajaran, analisa terhadap penyebab manusia belajar sesuatu, pengamatan
terhadap proses dan dampak pembelajaran akan lebih nyata apabila dilakukan oleh
mereka yang berkecimpung di area ilmu psikologi. Penulis adalah pelaku
pendidikan yang belajar di area psikologi. Karangan ini dimaksudkan untuk
menggali makna pembelajaran bagi siswa gifted.
Teori-teori pembelajaran manusia yang diulas dalam mata kuliah Psikologi
Pembelajaran oleh Pak Rahmat Djati dan tim dosen Unika Soegijapranoto menginspirasi
penulis untuk meneliti dan merekonfirmasi teori pembelajaran dengan pengalaman
subjek, yang masih remaja.
Semua penelitian
penulis terutama untuk kepentingan dunia pendidikan. Penulis ingin mendalami
dunia pendidikan yang mampu membahagiakan. Baik bagi siswa maupun pengajar.
Penulis memilih aliran humanistik karena menurut penulis aliran ini
memanusiawikan sistem pendidikan, meski, tentu saja perlu dilengkapi dengan
aliran kognitif dan behaviourisme. Adalah tidak realistis sistem pendidikan
yang ditopang satu pilar aliran saja.
Lampiran Wawancara dengan Anak Gifted
Nama : Nie, Levin Kusuma Adiatma
Alamat :
Jl. Cendrawasih
Selatan 12
Nomer
yang bisa dihubungi : 081914568585
Kapan
bisa membaca : Playgroup
IQ : 139
Prestasi : lomba komputer(SD), lomba
b.Inggris (SD), lomba matematika (SD)
Hobby : Sepak
Bola, Main Komputer
Minatmu
untuk berprestasi di bidang :Komputer, sepak bola
Apakah
kamu mempunyai banyak teman yang usianya di atas kamu : sedikit
Apakah
kamu suka mempelajari sesuatu yang baru :
kadang-kadang
Apakah
kamu mengerjakan tugas dengan baik dan
efisien : kurang baik, sering merasa malas
Bagaimana
kamu belajar sehari-hari :
sering tidak
belajar, belajar hanya jika ada ulangan
Tingkat
kemandirianmu (skala 1-10?), jelaskan dengan singkat : 8,
bisa masak sendiri, pergi sendiri, cukup
bisa diandalkan
Bagaimana
reaksi keluarga terhadap prestasi :
cukup
menghargai, kadang merasa bisa lebih baik lagi
Bagaimana
reaksi sekolah terhadap kemampuanmu :
cukup baik
Apa
hambatan yang dapat menghambat proses semua bakat dan kemampuanmu?
1.
intern :
rasa malas
2.
Ekstern : ajakan teman untuk tidak belajar
Bagaimana
kamu bersosialisasi di lingkungan tempat tinggalmu? :
Kurang sosialisasi
Bagaimana
kamu bersosialisasi di sekolah? :
Lumayan, sering
bercanda dengan teman, bermain bersama, ada sahabat laki-laki & perempuan
Apakah
kamu bisa fokus belajar? :
Bisa, tapi
kadang-kadang perhatian bisa teralih oleh hal yang lain (game, ngobrol,
bercanda)
Apa
yang membuat kamu sulit belajar? :
1.
Intern : malas mengikuti pelajaran
2. Ekstern : guru tidak menarik
Menurutmu
bagaimana sistem pendidikan yang dapat memacu anak2 cerdas seperti tipe kalian
ini mampu lebih berprestasi?
Lebih menarik, guru
jangan terlalu kolot/membosankan
Apakah
kamu senang berkompetisi?
cukup senang
Apakah
kamu mempunyai ide-ide orisinil (asli, kreativitas tertentu) yang belum
terekspose?
Tidak ada
Jelaskan,
jika ada.
Apakah
kamu mempunyai minat tertentu yang sangat menarik perhatianmu sampai kamu rela
menghabiskan waktu berjam-jam pada bidang itu? Bidang apa itu? :
Komputer, game,
sepak bola
Ceritakan
profil dirimu secara singkat kurang lebih setengah halaman:
Saya orang yang
cukup mandiri, tapi sering malas, perlu motivasi dari diri sendiri untuk rajin.
Sebenarnya bisa untuk rajin, tetapi seringkali malas belajar, lebih banyak
bermain komputer. Cukup berani untuk mengambil keputusan, cukup bertanggung
jawab, berusaha untuk lebih jujur. Sering merenung untuk mengingat-ingat,
mengintrospeksi diri sebelum tidur, atau ketika sendirian.
Perbandingan Wawancara dengan Marshel
NAMA :
MARSHEL ANDHIKA
SEKOLAH : SMA SEDES
SAPIENTIAE
JURUSAN : BAHASA
UMUR : 18
TH
PRESTASI : Pada
kelas 1 SMA bermain seri dengan Master Catur “ Farid Firmansyah”, menjadi
pemenang dalam pertandingan persahabatan catur dengan SMA
Loyola mewakili SMA Sedes Sapientiae, dapat menyelesaikan kasus rubik
dalam 15 detik (tahun 2012 di bawah 10
detik).
Hobby : catur,
game
WAWANCARA
Wawancara dilakukan
di sekolah SMA Sedes Sapientiae, jam setelah pulang Sekolah, pada Selasa 12
April 2011. Wawancara dilakukan kepada
subjek dengan suasana informal setelah Marshel makan siang (campus interview). Tidak ada kondisi
paksaan, Marshel melakukan wawancara dengan sukarela.
1.
Pernah
tes IQ? Berapa skor IQ
yang pernah diterima?
a.
Pernah
b.
Skor
waktu SD 145
c.
Skor
waktu SMA 128
2. Bagaimana reaksi orangtuamu setelah memahami bahwa kecerdasanmu di atas rata-rata?
a.
Mereka
memberi support semampu mereka
b.
Tidak
ada paksaan dari orangtua supaya Marshel mendukung ide-ide dari orangtuanya
c.
Cenderung
memberi kebebasan kepada Marshel untuk mengembangkan bakat-bakatnya
3. Bagaimana reaksimu setelah
kamu tahu kecerdasanmu di atas
rata-rata?
a.
Biasa
saja
b.
Masih
ada yang lebih cerdas
4. Apa hambatan-hambatanmu untuk
mengembangkan kecerdasanmu?
a.
Marshel
kesulitan untuk fokus terhadap hal-hal
atau pelajaran yang tidak disenangi
5. Yang mengherankan adalah prestasi
studimu biasa saja, meski beberapa guru memahami kamu sebagai orang yang
kecerdasannya di atas rata-rata. Mengapa?
a.
Tidak
suka pelajaran sekolah
b.
Pelajaran
sekolah tidak menantang
c.
Tidak
pernah belajar, kecuali sekitar 15 menit
sebelum ulangan
d.
Tidak
ada motivasi besar untuk berprestasi di dalam hal akademik sekolah
6. Apakah ada temanmu yang
memahami bahwa kau cerdas?
a.
“Ada,
beberapa teman (IPA, Bahasa)
meminta pengajaran masalah Matematika
atau Bahasa Indonesia (pemahaman bacaan), karena teman-teman mengatakan Marshel
dapat menjelaskan bab-bab tertentu
secara lebih jelas dan ringkas (induktif, dan bukan deduktif) daripada guru di
sekolah. “
7. Apa cita-citamu?
a.
“Belum
ada yang pasti, jadi orang berguna di masa depan.”
8. Ingin meneruskan kuliah di mana?
a.
“HI”
9. Mengapa?
a.
“Karena
mungkin itu yang cocok”
10. Ok! Kamu mengatakan kalau kamu
kesulitan untuk berfokus dengan hal-hal yang kamu tidak sukai. Bagaimana
dengan fokus terhadap hal-hal yang
disukai?
a.
“Kalau
itu jangan ditanya pak! Saya bisa lalap habis buku-buku tebal kejuaraan catur
berhari-hari”, kata Marshel.
b.
“Ketika
SD saya pernah dengan antusias membuat robot-robotan yang canggih. Tapi sekarang
saya lupa pak.”
11. Menurutmu, bagaimana kamu dapat
meningkatkan daya fokusmu supaya prestasimu meningkat?
a.
“Ga
tau pak, jalani ajalah. “
DAFTAR
PUSTAKA
Bu
Cicila, Pak Djati, Bu Ery.2012. Bahan-Bahan
Kuliah Psikologi Pembelajaran MSI UNIKA.
Semarang: UNIKA
Hamalik
Omar. 2007.Psikologi Belajar Mengajar.
Bandung: Sinar Baru Algesindo Offset
Rida
Ulfa, Athik Winarsih, Kuteb Syarifuddin, Devi A. 2009. Makalah Teori Belajar Aliran Psikologi Behaviouristik, Kognitifistik
dan Humanistik. Surabaya: IAIN Sunan
Ampel.
Tabloid
Nova.com. Kamis, 25 Maret 2010. “Si Cilik Pintar atau Berbakat?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar