1.
APA ITU ILMU PSIKOLOGI?
1.1.
Definisi Ilmu
Ilmu
Psikologi terdiri dari dua kata, ilmu dan psikologi.
Ilmu itu sendiri adalah kata turunan
atau terjemahan dari bahasa Inggris, science (berasal
dari bahasa latin dari kata Scio, Scire yang berarti tahu), yang sering disinonimkan dengan kata knowledge (pengetahuan). Menurut Kamus Besar
bahasa Indonesia, Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang
yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat
digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu.
Sebagai perbandingan, ada berbagai definisi tentang science. Science is knowledge arranged in a system,
especially obtained by observation and testing of fact (An English reader’s dictionary);
Science is a
systematized knowledge obtained by study, observation, experiment” (Webster’s super New School and Office
Dictionary). Jadi, ada
beberapa indikator sesuatu hal disebut ilmu: ia menambah pengetahuan manusia,
ia mempunyai sistem dan metode, dan bisa dipelajari (misalnya melalui observasi
dan eksperimen).
Para ahli mendiskusikan
ciri-ciri ilmu. The Liang Gie (Uhar, 2004) secara lebih khusus menyebutkan ciri-ciri ilmu sebagai berikut : empiris (berdasarkan pengamatan dan percobaan), sistematis (tersusun secara
logis serta mempunyai hubungan saling bergantung dan teratur), objektif (terbebas dari
persangkaan dan kesukaan pribadi), analitis (menguraikan persoalan menjadi
bagian-bagian yang terinci), verifikatif
(dapat diperiksa kebenarannya). Sementara
itu Beerling menyebutkan ciri ilmu (pengetahuan ilmiah) adalah mempunyai dasar pembenaran, bersifat sistematik, bersifat
intersubjektif.
Ilmu pengetahuan mempunyai suatu tujuan. Braithwaite mengatakan bahwa the function of science… is to establish
general laws covering the behaviour of the empirical events or objects with
which the science in question is concerned, and thereby to enable us to connect
together our knowledge of the separately known events, and to make reliable
predictions of events as yet unknown.Artinya, ilmu mempunyai
fungsi yang amat penting bagi kehidupan manusia, Ilmu dapat membantu untuk
memahami, menjelaskan, mengatur dan memprediksi berbagai kejadian baik yang
bersifat kealaman maupun sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia. Sebagai
perbandingan, Sheldon
G. Levy menyatakan bahwa science has
three primary goals. The first is to be able to understand what is observed in
the world. The second is to be able to predict the events and relationships of
the real world. The third is to control aspects of the real world.
Dengan pengetahuan, setiap masalah
yang dihadapi manusia selalu diupayakan untuk dipecahkan agar dapat dipahami,
dan setelah itu manusia menjadi mampu untuk mengaturnya serta dapat memprediksi
(sampai batas tertentu) kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan
pemahaman yang dimilikinya.
Kesimpulannya, tujuan dari ilmu adalah untuk
memahami, memprediksi, dan mengatur berbagai aspek kejadian di dunia, berdasarkan teori pengetahuan
yang ditemukan. Teori itu sendiri pada dasarnya merupakan suatu penjelasan yang didapat
dari metode ilmiah yang bisa diverifikasi kebenarannya sehingga dapat diperoleh kefahaman,
dan dengan kepahaman maka prediksi kejadian dapat dilakukan dan diusahakan
untuk dikendalikan atau diantisipasi.
Psikologi bisa dikatakan ilmu karena memenuhi syarat
ilmu pengetahuan. Psikologi bisa menambah pengetahuan manusia, mempunyai sistem
dan metode, serta bisa diobservasi. Dari sisi tujuan, dengan ilmu psikologi
kita juga juga bisa lebih memahami kepribadian manusia, dan mampu
mengantisipasi perilaku-perilaku manusia berdasarkan pengetahuan psikologi yang
dimiliki.
1.2.
Definisi
Psikologi
Psikologi adalah
kata yang terbangun dari dua frasa dasar psyche
yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Secara
sederhana, kita bisa mendefinisikan psikologi sebagai segala ilmu yang
berbicara tentang jiwa manusia. Ilmu psikologi perlu memenuhi kriteria ilmu
pengetahuan yang mampu diverifikasi kebenarannya. Karena itulah subjek ilmu
psikologi bukanlah jiwa atau ruh dalam arti metafisika yang tidak bisa
diteliti, melainkan kepribadian manusia yang bisa diukur dari apa biasa yang
dia lakukan (behaviour dari
seseorang).
Pada
dasarnya, semua permasalahan psikologis, akan bersumber pada tiga penyebab:
penyebab genetis (penyebab intrinsic),
penyebab interaksi sosial (penyebab extrinsic),
dan gabungan antara keduanya. Para ahli, sesuai dengan aliran ilmu mereka
masing-masing pada tiga golongan itu
mempunyai konsep-konsep tersendiri mengenai teori yang bisa saling melengkapi atau saling bertentangan. Ada kemungkinan
muncul kebenaran paradoks pada masing-masing aliran (artinya bisa saling bertentangan meski sama benar).
Agar lebih jelas, penulis sertakan perbandingan pembahasan
teori psikologis beberapa tokoh yang mewakili tiga golongan: intrinsic, ekstrinsic, dan gabungan
dari keduanya di bawah ini.
1.2.1 Penjelasan Psikologi Aliran Intrinstic
Psikologi aliran Intrinsic percaya dan senantiasa membuktikan dengan
metodenya bahwa perilaku manusia didasari oleh motivasi intrinsic. Freud (H.L
Kalia, 1998: 522) adalah tokoh pertama yang mewakili golongan yang percaya bahwa perilaku manusia terutama ditentukan oleh
faktor intrinsic. Ia yang terkenal
dengan teori id, ego dan superego, dengan
analisa psikologis-genetisnya, akan mengatakan bahwa perilaku manusia sangat bergantung pada
banyak-sedikitnya dorongan individu (impulse)
yang terpenuhi. Dalam bahasa sederhana, impulse
ini disebut nafsu. Menurut Freud, manusia perlu
selalu menuruti dan memenuhi dorongan-dorongan tersebut agar ia sehat dan menjadi manusia normal.
Ironisnya, dorongan-dorongan psikis tersebut sering dibatasi
oleh aturan masyarakat. Masyarakat menyebabkan manusia
menjadi manusia normal karena banyaknya larangan sosial
yang disebut dengan “aturan moral”. Aturan moral inilah yang menyebabkan
dorongan kesenangan (pleasure principle) sulit dipenuhi sehingga semakin
bermoral seseorang maka dirinya akan semakin jauh dari manusia normal.
Kritik
terhadap teori ini cukup banyak dari golongan behaviourisme dan kognitif.
Misalnya Brickman dan Camp (1971) mengatakan adanya fenomena “hedonic treadmill”. Mereka mengatakan
bahwa pencarian kenikmatan indrawi tidak akan membawa manusia pada kemanuisaan yang normal karena kenikmatan indrawi itu
adalah proses yang tak bisa dipuaskan. Setiap kali manusia mencapai kenikmatan
indrawi tertentu, ia akan mencari lagi yang lebih nikmat. Jika level kenikmatan
itu sudah tercapai lagi. Ia akan mencari lagi hal yang membuat ia lebih nikmat
dari sebelumnya. Dan itu tak terhentikan. Eksplorasi kenikmatan indrawi akan
menjebak manusia pada kecanduan menikmati tanpa henti dan ini tidak membedakan kemanusiaan dari kebinatangan.
Tambahan teori terhadap faktor intrinsic perilaku manusia kemudian dinyatakan oleh tokoh-tokoh
psikolog humanistik. Pencetus
psikologi humanis adalah Abraham Maslow. Teori ini muncul sekitar tahun
1950-an. Psikologi Humanis menyatakan bahwa perilaku manusia tidak hanya
dibatasi oleh impulse, melainkan juga
faktor kehendak bebas, pertumbuhan pribadi, kegembiraan, kemampuan untuk pulih
kembali setelah mengalami ketidakbahagiaan, serta keberhasilan dalam
merealisasikan potensi manusia semaksimal mungkin (Tageson, 1982). Psikologi
humanistik sendiri berpijak dari filsafat eksistensialisme yang dipelopori oleh
Soren Kierkegard, Camus dan Nietsche.
1.2.2. Penjelasan Psikologi Aliran Ekstrinsic
Psikologi aliran Ekstrinsic percaya dan senantiasa
membuktikan dengan metodenya bahwa perilaku manusia didasari oleh motivasi
ekstrinsic. Faktor ekstrinsic bisa berupa : pengaruh stimulus
sosio-politik dan budaya di sekitar subjek (Alan Carr, 2004), relasi terhadap
orang orang terdekat (Alan Carr, 2004), proses persahabatan (Alan Carr, 2004),
pengaruh agama atau religiusitas yang diyakini, kesejahteraan yang cukup (Alan Carr,
2004).
Penulis mengajukan pendapat Skinner misalnya, yang termasuk dalam golongan Behavior (Harry F. Harlow,
1997). Menurutnya perilaku manusia akan tergantung dari
stimulus yang diberikan. Manusia akan menerukan
perilakunya apabila setiap perilakunya mendapatkan hadiah atau
setidaknya mengarah pada hadiah tertentu. Konsep ini kemudian menjelaskan
adanya fenomena, bahwa ada orang yang berusaha mencari prestasi
setinggi-tingginya (stimulusnya adalah pengakuan identitas) untuk merasakan
suatu kebahagiaan.
Hadiah
memang tidak hanya berbentuk barang atau materi, hadiah dapat berupa pujian,
penghargaan, penghormatan, dan lainnya. Ketika seseorang telah bekerja keras
kemudian hasil yang didapat membuatnya memperoleh penghargaan maka menurut
golongan ini, kebahagiaan kiranya melekat pada penghargaan tersebut. Ini yang membuat manusia meneruskan perilakunya, stimulus yang membuat
manusia merasa nyaman dan bahagia, serta puas.
Kritik
terhadap teori ini datang dari Aristoteles dan psikolog yang menggeluti psikologi
kognitif-humanis. Paham mereka mengatakan bahwa perilaku
manusia yang selalu mencari kebahagiaan dan kenyamanan tidak
semata-mata datang dari hadiah maupun relasi sosial. Manusia mempunyai
kemampuan untuk membahagiakan dirinya sendiri. Ini akan dibahas pada subbab
berikut ini.
1.2.3. Penjelasan Psikologi Aliran Gabungan Ekstrinsic dan Intrinsic
Psikologi aliran gabungan ini percaya dan
senantiasa membuktikan dengan metodenya bahwa perilaku manusia didasari oleh
dua motivasi tersebut sekaligus. Teori Aristoteles menyatakan,
bahwa kepribadian maupun perilaku manusia terarah pada tujuan kemanusiaan. Bagi
Aristoteles, perilaku manusia, entah individual maupun secara sosial, selalu
bertujuan untuk memenuhi kebahagiaan. Ia berpendapat, rupanya perilaku tersebut tidak hanya dimotivasi oleh pemenuhan dorongan-dorongan dalam diri, atau
pemenuhan kebutuhan diri individual ataupun pemenuhan kebutuhan untuk
berkelompok. Kebahagiaan ternyata tidak cukup hanya berdasar pada pemenuhan
kebutuhan fisiologis dan psikis. Kebahagiaan manusia memerlukan unsur kesadaran
manusia (melibatkan aspek kognitif,
afektif, aspek spiritual) dan
ketekunan untuk membiasakan diri terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang
ditentukan dari kesepakatan sosial yang universal. Jadi ada faktor intrinstic, yakni kesadaran manusia dan
faktor ekstrinsic, yakni nilai-nilai
kemanusiaan yang universal.
2.
SEJAUH MANA KEBENARAN ILMIAH DAPAT DITERIMA
SEBAGAI KEBENARAN?
Pertama,
ilmu perlu dasar empiris, atau mampu untuk
dikaji dan diamati, jika tidak maka ilmu itu tidak bisa dikatakan benar atau bukanlah suatu ilmu maupun pengetahuan
ilmiah, melainkan suatu perkiraan atau pengetahuan biasa yang lebih didasarkan
pada keyakinan tanpa peduli apakah faktanya demikian atau tidak (sebagai contoh adalah ilmu filsafat metafisis
dan agama). Keberadaan fakta-fakta memang merupakan ciri empiris dari ilmu. Masih dalam kerangka metode empiris, penting
untuk memperhatikan bagaimana fakta-fakta itu
dibaca atau dipelajari jelas memerlukan cara yang logis dan sistematis, dalam
arti urutan cara berfikir dan mengkajinya tertata dengan logis sehingga setiap
orang dapat menggunakannya dalam melihat realitas faktual yang ada. Kesalahan dalam metode, adalah ketidakbenaran
ilmu.
Disamping
itu, ilmu juga harus objektif dalam arti mengabaikan perasaan suka-tidak suka, senang-tidak senang. Kesimpulan
atau penjelasan ilmiah harus mengacu hanya pada fakta yang ada, sehingga setiap
orang dapat melihatnya secara sama pula tanpa melibatkan perasaan pribadi yang
ada pada saat itu. Analitis merupakan ciri ilmu lainnya, artinya bahwa
penjelasan ilmiah perlu terus mengurai masalah secara rinci sepanjang hal itu
masih berkaitan dengan dunia empiris, sedangkan verifikatif berarti bahwa ilmu
atau penjelasan ilmiah harus memberi kemungkinan untuk dilakukan pengujian di
lapangan sehingga kebenarannya bisa benar-benar memberi keyakinan.
Dari
uraian di atas, nampak bahwa kebenaran
ilmu bisa dilihat dari dua sudut
peninjauan, yaitu kebenaran ilmu sebagai produk/hasil, dan kebanaran ilmu sebagai suatu proses yang benar. Sebagai produk ilmu dikatakan benar jika merupakan kumpulan pengetahuan yang tersistematisir dan
terorganisasikan secara logis, seperti jika kita mempelajari ilmu ekonomi,
sosiologi, biologi. Sedangkan kebenaran
ilmu sebagai proses adalah ilmu
dilihat dari upaya perolehannya melalui cara-cara tertentu yang benar dan logis. ini menyangkut ilmu sebagai metodologi dalam arti bagaimana
cara-cara yang mesti dilakukan untuk memperoleh suatu kesimpulan atau teori
tertentu untuk mendapatkan, memperkuat/menolak suatu teori dalam ilmu tertentu. Maka
diperlukan upaya penelitian
sebagai verifikasi kebenaran dengan melihat
fakta-fakta, konsep yang dapat membentuk suatu teori tertentu.
3. BAGAIMANA
PREDIKSI WAJAH PSIKOLOGI DI MASA MENDATANG?
Menurut saya, semua permasalahan psikologis, tidak akan berubah dan masih akan bersumber pada tiga penyebab:
penyebab genetis (penyebab intrinsic),
penyebab interaksi sosial (penyebab extrinsic),
dan gabungan antara keduanya. Para ahli, juga akan
tetap mempunyai konsep-konsep tersendiri mengenai teori yang bisa saling melengkapi atau saling bertentangan. Ada kemungkinan
muncul kebenaran paradoks pada masing-masing aliran.
Hanya saja, masing-masing aliran akan ber-evolusi atau ber-revolusi sesuai
dengan zaman ini. Akan ada tambahan peran teknologi terhadap masing-masing
aliran. Neuropsikologi misalnya,
penemuan terbaru tentang bagaimana kerja elektron dan proton dalam syaraf otak
meyakinkan aliran psikologi intrinsic, bahwa segala perilaku manusia, baik
manusia normal ataupun sakit jiwa, ditentukan oleh keadaan otaknya.
Terapi-terapi kejiwaan manusia juga berkembang pesat dengan adanya teknologi.
Jadi, esensi dari aliran psikologi tetap sama. Masih ada tiga aliran yakni
psikologi intrinsic, ekstrinsic dan gabungan dari keduanya. Namun demikian
eksistensi dari psikologi jauh berkembang. Pengukuran kebenaran lebih akurat,
kecepatan verifikasi data lebih cepat, dan metode ilmiah psikologi lebih
detail.
4.
FOKUS, HASIL DAN PENDEKATAN SEPERTI APA YANG HENDAK
DICARI SETELAH MEMPELAJARI BERBAGAI MAZHAB PSIKOLOGI?
Fokus atau inti dari psikologi menurut penulis adalah
pengetahuan proses konsep diri. Proses konsep diri terkait erat dengan tiga istilah ini: atensi,
persepsi, memori (psikologi kognitif-intrinsic), pengaruh sosial
(psikologi ekstrinsic-sosial) dan interaksi antara keduanya. Interaksi antara ketiga hal inilah
yang membuat individu memahami siapa dirinya setelah menyerap
informasi-informasi dari pengaruh sosial. Penulis meyakini, untuk mengetahui
kepribadian manusia yang utuh memerlukan analisa psikologi yang berdasarkan
pada pendekatan tiga aliran tersebut.
4.1.
Proses Konsep Diri (Pendekatan Persepsi Kognitif
– Humanistik)
Atensi
adalah suatu usaha mengendalikan fungsi
pikiran secara nyata dan jelas terhadap beberapa kemungkinan objek secara simultan atau
terhadap rangkaian pemikiran. Ini memerlukan pengalihan dari suatu hal agar
secara efektif dapat berinteraksi dengan hal yang diberi perhatian (W. James,
1980). Seseorang bisa memberikan dua macam atensi: pertama focused attension yang berarti kita memilih satu macam untuk diberi perhatian sedangkan yang lainnya
dialihkan; kedua divided attention yang
berarti kita membagi perhatian kita pada beberapa subjek sekaligus.
Persepsi
secara etimologis berasal dari bahasa
Latin (perceptio, percipio) adalah
proses menerima kesadaran atau pengertian akan lingkungan dengan mengoordinir
dan menginterpretasikan apa yang didapat dari informasi sensorik. Ini adalah
suatu aktivitas kolektif yang melibatkan bermilyar-milyar neuron dalam otak
untuk mengenali dan memahami suatu objek atau pengetahuan (Walter J. Freeman,
1991).
Memory
adalah suatu proses yang ada dalam otak
manusia untuk menerima, mengolah, menyimpan, dan untuk kemudian digunakan
kembali di kemudian hari. Ada tiga macam proses utama dalam memory : encoding, storage and retrieval.
Baik sistem atensi, persepsi, dan
memory saling membutuhkan satu sama lain dan saling bekerjasama satu sama lain.
Apabila persepsi bekerja, ia membutuhkan memory dan atensi. Memory juga
membutuhkan pencerapan informasi yang berasal dari atensi dan persepsi,
persepsi juga membutuhkan informasi awal dari atensi untuk kemudian disimpan
dalam memory. Interaksi dari ketiganya
terhadap objek secara terus menerus inilah yang membuat manusia menyusun
kepribadiannya.
|
Gambar proses pencerapan informasi
manusia
|
Abraham
Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya
sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah
teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki
Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Atensi, persepsi dan memori, serta proses antara
mereka bertujuan untuk memenuhi hirarki kebutuhan tersebut. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki
tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis)
sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Apabila kebutuhan-kebutuhan
manusia tersebut tidak terpenuhi, manusia akan mengalami “sakit psikis”.
Dari buku Handbook of Psychology, penulis menambahkan pendapat Serge Moscovici seorang psikolog sosial perancis yang menyatakan bahwa psikologi sosial
adalah jembatan diantara cabang-cabang pengetahuan sosial lainnya. Penulis juga
setuju, karena itu persepsi psikologi sosial perlu ditambahkan dalam paper ini.
Contoh pendekatan psikologi sosial
yang tak bisa dibantah oleh kaum humanis adalah bahwa analisa psikologi sosial
mengenai tindak kriminal. Pendekatan psikologi sosial cenderung menunjukkan
adanya kaitan antara tingkat kejahatan yang tinggi dengan kemiskinan,
urbanisasi yang cepat, dan industrialisasi dalam suatu masyarakat. Untuk
membuktikan kesimpulan ini, mereka menunjukkan beberapa fakta tertentu : orang
yang miskin lebih sering melakukan kejahatan; kejahatan lebih banyak timbul di
daerah kumuh ketimbang di lingkungan elit; kriminalitas meningkat pada masa
resesi ekonomi dan menurun di saat kondisi ekonomi membaik. Sementara
pendekatan individual dalam bidang psikologi yang lain (psikologi kepribadian,
perkembangan dan klinis) cenderung menjelaskan kriminalitas berdasarkan
karakteristik dan pengalaman kriminal individu yang unik. Dua-duanya mempunyai
kebenaran dari sudut pandang yang berbeda.
Billig
(1976) pernah mengatakan bahwa Individu mempunyai kecenderungan
berkelompok. Kelompok tersebut adalah kumpulan orang-orang yang setiap
anggotanya sadar atau tahu akan adanya satu identitas sosial tertentu. Pada
diri individu terjadi terjadi proses kategorisasi
sosial yang memiliki fungsi diferensiasi sosial (kesadaran bahwa
identitas sosialnya berbeda dengan identitas sosial yang lain) dan integrasi ideologi (individu
mengintegrasikan cara berpikir dan berperilaku seperti orang-orang dalam
kelompok).
Dalam hal ini, perlu kiranya konsep psikologi sosial digunakan
untuk melengkapi ilmu psikologi intrinsik.
DAFTAR PUSTAKA:
Stanford Encyclopedia of Philosophy, 2006. Wilhelm Maximilian Wundt. Standford
University. United States.
Lee., Steven. W. 2005. Encyclopedia of School Psychology. University of Kansas. US
Carole Wade dan Carol Travis. 2011.
Psychology. www.pearson customlibrary.com
N. Reynolds, William, Miller, Gloria.E, Weiner,
Irving. B.2003. Handbook of Psychology John Wiley
and Sons Inc. Canada
Uhar
Suharsaputra, Drs.,M.Pd., 2004. Filsafat Ilmu Jilid 1. Universitas
Kuningan
Alan
Carr, 2004, Positive Psychology,
Brunner-Routledge, New York.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar