my plane

Minggu, 03 Agustus 2014

paper filsafat psikologi


1.      APA ITU ILMU PSIKOLOGI?

1.1.        Definisi Ilmu
 Ilmu Psikologi terdiri dari dua kata, ilmu dan psikologi. Ilmu itu sendiri adalah kata turunan atau terjemahan dari bahasa Inggris, science (berasal dari bahasa latin dari kata Scio, Scire yang berarti tahu), yang sering disinonimkan dengan kata knowledge (pengetahuan). Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia, Ilmu  adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu  dibidang (pengetahuan) itu. Sebagai perbandingan, ada berbagai definisi tentang science. Science is knowledge arranged in a system, especially obtained by observation and testing of fact (An English reader’s dictionary); Science is a systematized knowledge obtained by study, observation, experiment” (Webster’s super New School and Office Dictionary). Jadi, ada beberapa indikator sesuatu hal disebut ilmu: ia menambah pengetahuan manusia, ia mempunyai sistem dan metode, dan bisa dipelajari (misalnya melalui observasi dan eksperimen).
Para ahli mendiskusikan ciri-ciri ilmu. The Liang Gie (Uhar, 2004) secara lebih khusus menyebutkan ciri-ciri ilmu sebagai berikut : empiris (berdasarkan pengamatan dan percobaan), sistematis (tersusun secara logis serta mempunyai hubungan saling bergantung dan teratur), objektif (terbebas dari persangkaan dan kesukaan pribadi), analitis (menguraikan persoalan menjadi bagian-bagian yang terinci), verifikatif (dapat diperiksa kebenarannya). Sementara itu Beerling menyebutkan ciri ilmu (pengetahuan ilmiah) adalah mempunyai dasar pembenaran, bersifat sistematik, bersifat intersubjektif.
Ilmu pengetahuan mempunyai suatu tujuan. Braithwaite mengatakan bahwa the function of science… is to establish general laws covering the behaviour of the empirical events or objects with which the science in question is concerned, and thereby to enable us to connect together our knowledge of the separately known events, and to make reliable predictions of events as yet unknown.Artinya, ilmu mempunyai fungsi yang amat penting bagi kehidupan manusia, Ilmu dapat membantu untuk memahami, menjelaskan, mengatur dan memprediksi berbagai kejadian baik yang bersifat kealaman maupun sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia. Sebagai perbandingan, Sheldon G. Levy menyatakan bahwa science has three primary goals. The first is to be able to understand what is observed in the world. The second is to be able to predict the events and relationships of the real world. The third is to control aspects of the real world.
Dengan pengetahuan, setiap masalah yang dihadapi manusia selalu diupayakan untuk dipecahkan agar dapat dipahami, dan setelah itu manusia menjadi mampu untuk mengaturnya serta dapat memprediksi (sampai batas tertentu) kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan pemahaman yang dimilikinya.
Kesimpulannya, tujuan dari ilmu adalah untuk memahami, memprediksi, dan mengatur berbagai aspek kejadian di dunia, berdasarkan teori pengetahuan yang ditemukan. Teori itu sendiri pada dasarnya merupakan suatu penjelasan yang didapat dari metode ilmiah yang bisa diverifikasi kebenarannya sehingga dapat diperoleh kefahaman, dan dengan kepahaman maka prediksi kejadian dapat dilakukan dan diusahakan untuk dikendalikan atau diantisipasi.
Psikologi bisa dikatakan ilmu karena memenuhi syarat ilmu pengetahuan. Psikologi bisa menambah pengetahuan manusia, mempunyai sistem dan metode, serta bisa diobservasi. Dari sisi tujuan, dengan ilmu psikologi kita juga juga bisa lebih memahami kepribadian manusia, dan mampu mengantisipasi perilaku-perilaku manusia berdasarkan pengetahuan psikologi yang dimiliki.

1.2.         Definisi Psikologi
Psikologi adalah kata yang terbangun dari dua frasa dasar psyche  yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Secara sederhana, kita bisa mendefinisikan psikologi sebagai segala ilmu yang berbicara tentang jiwa manusia. Ilmu psikologi perlu memenuhi kriteria ilmu pengetahuan yang mampu diverifikasi kebenarannya. Karena itulah subjek ilmu psikologi bukanlah jiwa atau ruh dalam arti metafisika yang tidak bisa diteliti, melainkan kepribadian manusia yang bisa diukur dari apa biasa yang dia lakukan (behaviour dari seseorang).
Pada dasarnya, semua permasalahan psikologis, akan bersumber pada tiga penyebab: penyebab genetis (penyebab intrinsic), penyebab interaksi sosial (penyebab extrinsic), dan gabungan antara keduanya. Para ahli, sesuai dengan aliran ilmu mereka masing-masing pada tiga golongan itu  mempunyai konsep-konsep tersendiri mengenai teori yang bisa saling melengkapi atau saling bertentangan. Ada kemungkinan muncul kebenaran paradoks pada masing-masing aliran (artinya bisa saling bertentangan meski sama benar). Agar lebih jelas, penulis sertakan perbandingan pembahasan teori psikologis beberapa tokoh yang mewakili tiga golongan: intrinsic, ekstrinsic, dan gabungan dari keduanya di bawah ini.


1.2.1  Penjelasan Psikologi Aliran Intrinstic  
Psikologi aliran Intrinsic percaya dan senantiasa membuktikan dengan metodenya bahwa perilaku manusia didasari oleh motivasi intrinsic. Freud (H.L Kalia, 1998: 522) adalah tokoh pertama yang mewakili golongan yang percaya bahwa perilaku manusia terutama ditentukan oleh faktor intrinsic. Ia yang terkenal dengan teori id, ego dan superego, dengan analisa psikologis-genetisnya, akan mengatakan bahwa perilaku manusia sangat bergantung pada banyak-sedikitnya dorongan individu (impulse) yang terpenuhi. Dalam bahasa sederhana, impulse ini disebut nafsu. Menurut Freud, manusia perlu selalu menuruti dan memenuhi dorongan-dorongan tersebut agar ia sehat dan menjadi manusia normal. Ironisnya, dorongan-dorongan psikis tersebut sering dibatasi oleh aturan masyarakat. Masyarakat menyebabkan manusia menjadi manusia normal karena banyaknya larangan sosial yang disebut dengan “aturan moral”. Aturan moral inilah yang menyebabkan dorongan kesenangan (pleasure principle) sulit dipenuhi sehingga semakin bermoral seseorang maka dirinya akan semakin jauh dari manusia normal.
Kritik terhadap teori ini cukup banyak dari golongan behaviourisme dan kognitif. Misalnya Brickman dan Camp (1971) mengatakan adanya fenomena “hedonic treadmill”. Mereka mengatakan bahwa pencarian kenikmatan indrawi tidak akan membawa manusia pada kemanuisaan yang normal karena kenikmatan indrawi itu adalah proses yang tak bisa dipuaskan. Setiap kali manusia mencapai kenikmatan indrawi tertentu, ia akan mencari lagi yang lebih nikmat. Jika level kenikmatan itu sudah tercapai lagi. Ia akan mencari lagi hal yang membuat ia lebih nikmat dari sebelumnya. Dan itu tak terhentikan. Eksplorasi kenikmatan indrawi akan menjebak manusia pada kecanduan menikmati tanpa henti dan ini tidak membedakan kemanusiaan dari kebinatangan.
Tambahan teori terhadap faktor intrinsic perilaku manusia kemudian dinyatakan oleh tokoh-tokoh psikolog humanistik. Pencetus psikologi humanis adalah Abraham Maslow. Teori ini muncul sekitar tahun 1950-an. Psikologi Humanis menyatakan bahwa perilaku manusia tidak hanya dibatasi oleh impulse, melainkan juga faktor kehendak bebas, pertumbuhan pribadi, kegembiraan, kemampuan untuk pulih kembali setelah mengalami ketidakbahagiaan, serta keberhasilan dalam merealisasikan potensi manusia semaksimal mungkin (Tageson, 1982). Psikologi humanistik sendiri berpijak dari filsafat eksistensialisme yang dipelopori oleh Soren Kierkegard, Camus dan Nietsche.
      
1.2.2. Penjelasan Psikologi Aliran Ekstrinsic
Psikologi aliran Ekstrinsic percaya dan senantiasa membuktikan dengan metodenya bahwa perilaku manusia didasari oleh motivasi ekstrinsic. Faktor ekstrinsic bisa berupa : pengaruh stimulus sosio-politik dan budaya di sekitar subjek (Alan Carr, 2004), relasi terhadap orang orang terdekat (Alan Carr, 2004), proses persahabatan (Alan Carr, 2004), pengaruh agama atau religiusitas yang diyakini, kesejahteraan yang cukup (Alan Carr, 2004).
Penulis mengajukan pendapat Skinner misalnya, yang termasuk dalam golongan Behavior (Harry F. Harlow, 1997). Menurutnya perilaku manusia akan tergantung dari stimulus yang diberikan. Manusia akan menerukan perilakunya apabila setiap perilakunya mendapatkan hadiah atau setidaknya mengarah pada hadiah tertentu. Konsep ini kemudian menjelaskan adanya fenomena, bahwa ada orang yang berusaha mencari prestasi setinggi-tingginya (stimulusnya adalah pengakuan identitas) untuk merasakan suatu kebahagiaan.
Hadiah memang tidak hanya berbentuk barang atau materi, hadiah dapat berupa pujian, penghargaan, penghormatan, dan lainnya. Ketika seseorang telah bekerja keras kemudian hasil yang didapat membuatnya memperoleh penghargaan maka menurut golongan ini, kebahagiaan kiranya melekat pada penghargaan tersebut. Ini yang membuat manusia meneruskan perilakunya, stimulus yang membuat manusia merasa nyaman dan bahagia, serta puas.
Kritik terhadap teori ini datang dari Aristoteles dan psikolog yang menggeluti psikologi kognitif-humanis. Paham mereka mengatakan bahwa perilaku manusia yang selalu mencari kebahagiaan dan kenyamanan tidak semata-mata datang dari hadiah maupun relasi sosial. Manusia mempunyai kemampuan untuk membahagiakan dirinya sendiri. Ini akan dibahas pada subbab berikut ini.
1.2.3. Penjelasan Psikologi Aliran Gabungan Ekstrinsic dan Intrinsic
Psikologi aliran gabungan ini percaya dan senantiasa membuktikan dengan metodenya bahwa perilaku manusia didasari oleh dua motivasi tersebut sekaligus. Teori Aristoteles menyatakan, bahwa kepribadian maupun perilaku manusia terarah pada tujuan kemanusiaan. Bagi Aristoteles, perilaku manusia, entah individual maupun secara sosial, selalu bertujuan untuk memenuhi kebahagiaan. Ia berpendapat, rupanya perilaku tersebut tidak hanya dimotivasi oleh  pemenuhan dorongan-dorongan dalam diri, atau pemenuhan kebutuhan diri individual ataupun pemenuhan kebutuhan untuk berkelompok. Kebahagiaan ternyata tidak cukup hanya berdasar pada pemenuhan kebutuhan fisiologis dan psikis. Kebahagiaan manusia memerlukan unsur kesadaran manusia (melibatkan aspek kognitif, afektif, aspek spiritual) dan ketekunan untuk membiasakan diri terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang ditentukan dari kesepakatan sosial yang universal. Jadi ada faktor intrinstic, yakni kesadaran manusia dan faktor ekstrinsic, yakni nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

2.      SEJAUH MANA KEBENARAN ILMIAH DAPAT DITERIMA SEBAGAI KEBENARAN?

Pertama, ilmu perlu dasar empiris, atau mampu untuk dikaji dan diamati, jika tidak maka ilmu itu tidak bisa dikatakan benar atau bukanlah suatu ilmu maupun pengetahuan ilmiah, melainkan suatu perkiraan atau pengetahuan biasa yang lebih didasarkan pada keyakinan tanpa peduli apakah faktanya demikian atau tidak (sebagai contoh adalah ilmu filsafat metafisis dan agama). Keberadaan fakta-fakta memang merupakan ciri empiris dari ilmu. Masih dalam kerangka metode empiris, penting untuk memperhatikan bagaimana fakta-fakta itu dibaca atau dipelajari jelas memerlukan cara yang logis dan sistematis, dalam arti urutan cara berfikir dan mengkajinya tertata dengan logis sehingga setiap orang dapat menggunakannya dalam melihat realitas faktual yang ada. Kesalahan dalam metode, adalah ketidakbenaran ilmu.
Disamping itu, ilmu juga harus objektif dalam arti mengabaikan perasaan suka-tidak suka, senang-tidak senang. Kesimpulan atau penjelasan ilmiah harus mengacu hanya pada fakta yang ada, sehingga setiap orang dapat melihatnya secara sama pula tanpa melibatkan perasaan pribadi yang ada pada saat itu. Analitis merupakan ciri ilmu lainnya, artinya bahwa penjelasan ilmiah perlu terus mengurai masalah secara rinci sepanjang hal itu masih berkaitan dengan dunia empiris, sedangkan verifikatif berarti bahwa ilmu atau penjelasan ilmiah harus memberi kemungkinan untuk dilakukan pengujian di lapangan sehingga kebenarannya bisa benar-benar memberi keyakinan.
Dari uraian di atas, nampak bahwa kebenaran ilmu bisa dilihat dari dua sudut peninjauan, yaitu kebenaran ilmu sebagai produk/hasil, dan kebanaran ilmu sebagai suatu proses yang benar. Sebagai produk ilmu dikatakan benar jika merupakan kumpulan pengetahuan yang tersistematisir dan terorganisasikan secara logis, seperti jika kita mempelajari ilmu ekonomi, sosiologi, biologi. Sedangkan kebenaran ilmu sebagai proses adalah ilmu dilihat dari upaya perolehannya melalui cara-cara tertentu yang benar dan logis. ini menyangkut ilmu sebagai metodologi dalam arti bagaimana cara-cara yang mesti dilakukan untuk memperoleh suatu kesimpulan atau teori tertentu untuk mendapatkan, memperkuat/menolak suatu teori dalam ilmu tertentu. Maka diperlukan upaya penelitian sebagai verifikasi kebenaran dengan melihat fakta-fakta, konsep yang dapat membentuk suatu teori tertentu.

3.      BAGAIMANA PREDIKSI WAJAH PSIKOLOGI DI MASA MENDATANG?
Menurut saya, semua permasalahan psikologis, tidak akan berubah dan masih akan bersumber pada tiga penyebab: penyebab genetis (penyebab intrinsic), penyebab interaksi sosial (penyebab extrinsic), dan gabungan antara keduanya. Para ahli, juga akan tetap mempunyai konsep-konsep tersendiri mengenai teori yang bisa saling melengkapi atau saling bertentangan. Ada kemungkinan muncul kebenaran paradoks pada masing-masing aliran.
Hanya saja, masing-masing aliran akan ber-evolusi atau ber-revolusi sesuai dengan zaman ini. Akan ada tambahan peran teknologi terhadap masing-masing aliran. Neuropsikologi misalnya, penemuan terbaru tentang bagaimana kerja elektron dan proton dalam syaraf otak meyakinkan aliran psikologi intrinsic, bahwa segala perilaku manusia, baik manusia normal ataupun sakit jiwa, ditentukan oleh keadaan otaknya. Terapi-terapi kejiwaan manusia juga berkembang pesat dengan adanya teknologi.
Jadi, esensi dari aliran psikologi tetap sama. Masih ada tiga aliran yakni psikologi intrinsic, ekstrinsic dan gabungan dari keduanya. Namun demikian eksistensi dari psikologi jauh berkembang. Pengukuran kebenaran lebih akurat, kecepatan verifikasi data lebih cepat, dan metode ilmiah psikologi lebih detail.
4.      FOKUS, HASIL DAN PENDEKATAN SEPERTI APA YANG HENDAK DICARI SETELAH MEMPELAJARI BERBAGAI MAZHAB PSIKOLOGI?
Fokus atau inti dari psikologi menurut penulis adalah pengetahuan proses konsep diri. Proses konsep diri terkait erat dengan tiga istilah ini: atensi, persepsi, memori (psikologi kognitif-intrinsic), pengaruh sosial (psikologi ekstrinsic-sosial) dan interaksi antara keduanya. Interaksi antara ketiga hal inilah yang membuat individu memahami siapa dirinya setelah menyerap informasi-informasi dari pengaruh sosial. Penulis meyakini, untuk mengetahui kepribadian manusia yang utuh memerlukan analisa psikologi yang berdasarkan pada pendekatan tiga aliran tersebut.
4.1.        Proses Konsep Diri (Pendekatan Persepsi Kognitif – Humanistik)
Atensi adalah suatu usaha mengendalikan fungsi pikiran secara nyata dan jelas terhadap beberapa  kemungkinan objek secara simultan atau terhadap rangkaian pemikiran. Ini memerlukan pengalihan dari suatu hal agar secara efektif dapat berinteraksi dengan hal yang diberi perhatian (W. James, 1980). Seseorang bisa memberikan dua macam atensi: pertama focused attension yang berarti kita memilih satu macam  untuk diberi perhatian sedangkan yang lainnya dialihkan; kedua divided attention yang berarti kita membagi perhatian kita pada beberapa subjek sekaligus.
Persepsi secara etimologis berasal dari bahasa Latin (perceptio, percipio) adalah proses menerima kesadaran atau pengertian akan lingkungan dengan mengoordinir dan menginterpretasikan apa yang didapat dari informasi sensorik. Ini adalah suatu aktivitas kolektif yang melibatkan bermilyar-milyar neuron dalam otak untuk mengenali dan memahami suatu objek atau pengetahuan (Walter J. Freeman, 1991).
Memory adalah suatu proses yang ada dalam otak manusia untuk menerima, mengolah, menyimpan, dan untuk kemudian digunakan kembali di kemudian hari. Ada tiga macam proses utama dalam memory : encoding, storage and retrieval.
Baik sistem atensi, persepsi, dan memory saling membutuhkan satu sama lain dan saling bekerjasama satu sama lain. Apabila persepsi bekerja, ia membutuhkan memory dan atensi. Memory juga membutuhkan pencerapan informasi yang berasal dari atensi dan persepsi, persepsi juga membutuhkan informasi awal dari atensi untuk kemudian disimpan dalam memory. Interaksi dari ketiganya terhadap objek secara terus menerus inilah yang membuat manusia menyusun kepribadiannya.  



Gambar proses pencerapan informasi manusia
 




Abraham Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Atensi, persepsi dan memori, serta proses antara mereka bertujuan untuk memenuhi hirarki kebutuhan tersebut.  Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Apabila kebutuhan-kebutuhan manusia tersebut tidak terpenuhi, manusia akan mengalami “sakit psikis”.
Dari buku Handbook of Psychology, penulis menambahkan pendapat Serge Moscovici seorang psikolog sosial perancis yang menyatakan bahwa psikologi sosial adalah jembatan diantara cabang-cabang pengetahuan sosial lainnya. Penulis juga setuju, karena itu persepsi psikologi sosial perlu ditambahkan dalam paper ini.
Contoh pendekatan psikologi sosial yang tak bisa dibantah oleh kaum humanis adalah bahwa analisa psikologi sosial mengenai tindak kriminal. Pendekatan psikologi sosial cenderung menunjukkan adanya kaitan antara tingkat kejahatan yang tinggi dengan kemiskinan, urbanisasi yang cepat, dan industrialisasi dalam suatu masyarakat. Untuk membuktikan kesimpulan ini, mereka menunjukkan beberapa fakta tertentu : orang yang miskin lebih sering melakukan kejahatan; kejahatan lebih banyak timbul di daerah kumuh ketimbang di lingkungan elit; kriminalitas meningkat pada masa resesi ekonomi dan menurun di saat kondisi ekonomi membaik. Sementara pendekatan individual dalam bidang psikologi yang lain (psikologi kepribadian, perkembangan dan klinis) cenderung menjelaskan kriminalitas berdasarkan karakteristik dan pengalaman kriminal individu yang unik. Dua-duanya mempunyai kebenaran dari sudut pandang yang berbeda.
Billig (1976) pernah mengatakan bahwa Individu mempunyai  kecenderungan  berkelompok. Kelompok tersebut adalah kumpulan orang-orang yang setiap anggotanya sadar atau tahu akan adanya satu identitas sosial tertentu. Pada diri individu terjadi terjadi proses kategorisasi sosial  yang memiliki fungsi diferensiasi sosial (kesadaran bahwa identitas sosialnya berbeda dengan identitas sosial yang lain) dan integrasi ideologi (individu mengintegrasikan cara berpikir dan berperilaku seperti orang-orang dalam kelompok).

Dalam hal ini, perlu kiranya konsep psikologi sosial digunakan untuk melengkapi ilmu psikologi intrinsik.









DAFTAR PUSTAKA:
Stanford Encyclopedia of Philosophy, 2006. Wilhelm Maximilian Wundt. Standford University. United States.
Lee., Steven. W. 2005. Encyclopedia of School Psychology. University of Kansas. US
Carole Wade dan Carol Travis. 2011. Psychology. www.pearson customlibrary.com
N. Reynolds, William, Miller, Gloria.E, Weiner, Irving. B.2003.  Handbook  of Psychology John Wiley and Sons Inc. Canada
Uhar Suharsaputra, Drs.,M.Pd., 2004. Filsafat Ilmu Jilid 1. Universitas Kuningan
Alan Carr, 2004, Positive Psychology, Brunner-Routledge, New York.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar