my plane

Selasa, 26 Mei 2015

I Wish Indonesia Has 'National Sorry Day'

As we know, Australia, our neighbor has a brilliant idea about "National Sorry Day". In 1998, a coalition of Australian community groups declared May 26 “National Sorry Day”: an annual day of atonement for the social-engineering policy that ripped an estimated 50,000 children from their Aboriginal families between 1910 and the 1970s. But it took Australia’s government another decade to utter an official apology.
By some accounts, the policy of removing mostly mixed-race children from their Aboriginal tribes was well-intentioned. Officials and missionaries, arguing that the children would have more advantages in mainstream Australian society, took them to be raised in orphanages, boarding schools or white homes. The policy created six decades’ worth of what Australians call the “stolen generations,” children who lost their cultural and familial identities, and many of whom never saw their relatives again.
Speaking about "stolen generations" Corruption within the well-funded Indonesian education system is a major factor in the failure of the Ministry of National Education to meet its policy goals, which is "making golden generations". Massive systemic corruption inside the institution only causing massive impact in reducing the number of children dropping out of school because inability in paying tuition fee and inappropriate manner improving facilities and standards. in other words, indeed, the “horrorable” Ministry of Culture and Education are the main cause of our "stolen generations" existence.

Ade Irawan, public service monitoring coordinator with Indonesia Corruption Watch, said that the failure was particularly telling given the central government had increased the ministry’s budget, making it the best-funded government department. “Corruption is one of the main factors that has caused the ministry to fail to reach its target — providing good-quality education for Indonesian students,” Ade said. “Why, despite their bigger budget share, do we still see a high number of dropouts and classrooms continuing to collapse?”

Corruption in the ministry’s budget management was evident from Supreme Audit Agency (BPK) audit results, particularly in school operation aid (BOS) and the special allocation fund (DAK) — both designed to guarantee free schooling for all.
The BPK audit revealed that in 2007, six out of 10 schools in a sample of 3,237 schools misused these funds, with an average of Rp 13.7 million in misused funds per school, or a total of Rp 28 billion ($2.8 million).
ICW data also showed that from 2004-2009, authorities have investigated 142 education corruption cases, which caused total losses of Rp 243.3 billion. From those cases, 287 suspects were been named, most of them are officials at the local level.

West Java was named as the most corrupt province in the education sector with 21 cases from the same period, followed by Central Java and North Sumatra.
“It’s sad, that corruption in education are only seen as trivial [by the authorities]. Sad because it has prevented our youth, especially those from low-income families, from gaining an education,” Ade said.
“It seems that increases in the education budget has also brought about an increase in corruption,” he said.

Febri Hendri, member of the public service monitoring team, stated that in 2004-08, over 4.3 million students dropped out from elementary and junior high schools. He said that the government had only managed to reduce the number of dropouts by 5 percent during this period.
“And number of unqualified teachers is only being reduced by 10 percent per year,” Febri said.
ICW urged the president to quickly evaluate the department’s budget management.
The Corruption Eradication Commission (KPK) is also expected to prioritize investigations of corruption in the Ministry of National Education.

I would definitely  say that  the ministry “IS SLEEPING!". otherwise, something in our education system should had been changed lately. there shouldn't be any excuse LIKE “The ministry has managed its funds according to legal regulations,” .

I have a very simple solution for this important matter. I call the ministry officials, since you have our money tax, held a "National  Sorry Day" for stealing our young generations future for decades, and stop corruption in your department!


MR. G, founder of "Primagama English Kertanegara Course"
Jl. Kertanegara iv no 10 Semarang (085727200588/ gregdaru@gmail.com)

Senin, 18 Mei 2015

Tips Mendidik Anak yang “Nakal”
Empat tahun yang lalu, tepatnya tahun 2011, Ibu Y yang pada waktu itu bekerja sebagai guru senior dari sekolah Islam favorit di Semarang datang pada lembaga kami, “Primagama English Kertanegara Course” dan ingin memberikan kursus bahasa Inggris pada anak bungsunya. Anak bungsunya, X, berusia 4 tahun. Beliau mengatakan bahwa ia terlalu sayang pada anaknya dan tidak tega mendidik anaknya terlalu tegas. Anak tersebut, X, memang bisa dikatakan “nakal”, atau dalam perspektif psikologis berarti kurang dapat mengendalikan diri untuk mematuhi norma sosial yang umum. Beberapa kali saya melihat X menampar ibunya ketika X marah dan ibunya diam saja, Y hanya memeluk dan mencium anaknya.  
X memang bukan anak saya sendiri, tetapi saya sungguh peduli akan masa depan anak tersebut. Itulah mengapa pendidikan terhadap X kami tangani dengan sungguh-sungguh. Jika pada waktu masih kecil saja ia bisa menampar ibunya, jika dibiarkan, di masa depan ia bisa menampar sahabat-sahabatnya dan bahkan guru-gurunya. Adalah betul bahwa pendidikan bahasa akan mempengaruhi perilaku anak, karena bahasa yang baik dan benar akan membawa seseorang pada kepribadian yang baik dan benar (Habermas).
Empat tahun berlalu, dan X menunjukkan banyak perkembangan perilaku. Ia semakin disiplin, kemauan belajarnya meningkat pesat, disiplinnya juga meningkat. Bagaimana X mampu mengalami perubahan perilaku sedemikian pesat? Apakah itu karena jasa “Primagama English Kertanegara Course” semata? Tentu tidak. Ada proses kerjasama antara lembaga kami, keluarga, ibu Y, dan X sendiri. Berikut adalah proses perkembangan perilaku X yang saya jadikan tips pendidikan anak hari ini.
Dalam hal pendidikan anak, saya dan lembaga kami mengacu pada prinsip teori Ekologi Urie Bronfenbrenner. Menurut Bronfenbrenner, perkembangan manusia amat dipengaruhi oleh sistem bioekologi yang terdiri dari empat sistem utama yang saling berhubungan satu dengan yang lain, yakni mikro, meso, ekso, dan makrosistem. Pada perkembangan waktu, ia lalu menambahkan kronosistem. Berikut tips mengubah perilaku anak:
i. Mengendalikan Mikrosistem Anak
Mikrosistem melibatkan lingkungan yang berinteraksi langsung dengan individu. Gen dari ayah dan ibu akan membentuk dasar kepribadian anak dan terlibat dalam pembentukan pemaknaan hidup individu secara mendasar. Berkaitan dengan hal ini, ada pepatah yang mengatakan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Sifat anak tidak akan jauh dari ibunya, atau ayahnya secara mendasar. Dalam kasus X, ada kemungkinan penurunan genetik sifat “nakal” atau “agresif” atau “tantrum” yang diturunkan oleh leluhurnya. Hal ini perlu dimengerti, diakui, dan diubah. Tapi tentu semua anak mempunyai gabungan genetis sifat-sifat yang positif maupun negatif dari orangtuanya. Semua manusia toh mempunyai kekuatan dan kelemahan.   
Pemaknaan individu alami ini kemudian berinteraksi dengan pengalaman langsung individu selama beberapa waktu dengan pribadi-pribadi dalam lingkungan terdekatnya. Dengan demikian, dinamika emosi yang dialami dan terekam, kekuatan psikologis diri atau kelemahan diri yang terbangun dari interaksi tersebut menjadi data-data yang diolah oleh kognitif-psikomotorik-afektif individu selama ia hidup dan berkembang membentuk pemaknaan hidup individu. Dalam kasus X, ia kami gabungkan dalam kelas-kelas bahasa Inggris yang bisa mengubah dia, misalnya ke kelas kakak kelasnya yang lebih dewasa dan lebih pandai. Interaksi X dengan mereka yang lebih bersifat dewasa akan mempengaruhi X menjadi pribadi yang mampu mengendalikan diri, karena semakin ia mampu mengendalikan diri, ia akan semakin diterima secara sosial oleh anggota kelas. Saya sungguh meminta kelas saya untuk menjalin persahabatan satu dengan yang lain, sebagaimana saya berusaha keras bersahabat dengan murid-murid saya. Kami tidak menekankan sistem kompetisi, melainkan persahabatan dalam anggota kelas. Mereka yang pintar wajib mendukung mereka yang kurang pintar.
Kami punya aturan, “semakin tidak mampu mengendalikan perilaku (nakal), semakin banyak tugas, semakin disiplin, semakin sedikit tugas”. Pada prakteknya, mereka yang lebih disiplin memang diberi tugas yang lebih sedikit, tetapi kualitasnya lebih sulit. Di awal pembelajaran, X harus mengerjakan banyak tugas dan PR karena kepribadiannya yang tidak disiplin. Tapi seiring berjalannya waktu, ia lebih memilih untuk mengikuti peraturan dan berusaha disiplin. Mungkin juga X semakin disiplin karena bosan senantiasa mengerjakan banyak tugas.  Ketika ia sadar bahwa dengan mengikuti peraturan ia bahkan mempunyai waktu bermain lebih banyak, ia membiasakan diri untuk disiplin sampai sekarang.
ii. Mengatur Mesosistem Anak
Mesosistem merupakan hubungan antara mikrosistem dengan mikrosistem yang lain. Hal-hal yang terjadi dalam satu mikrosistem dapat mempengaruhi interaksi dengan mikrosistem yang lain.
Dalam kasus X, semua interaksi mikrosistem di sekitar X perlu mendukung supaya X menjadi pribadi yang lebih terkendali.hal-hal yang kami lakukan diantaranya:
1.     Menciptakan suasana humor di luar kelas untuk murid-murid termasuk X untuk  mereduksi tantrumnya
2.     Menciptakan waktu untuk ngobrol dengan X supaya ada kepercayaan.
3.     Suasana kelas perlu diatur sedemikian rupa sehingga mendukung kedisiplinan, berikan aturan-aturan yang jelas tujuannya berikut konsekwensi apabila dilanggar seperti:
a.      Terlambat, tambah 10 soal latihan
b.     Tidak fokus, tambah 5 soal latihan
c.      Tidak bawa alat tulis tambah 10 soal latihan
d.     Membuat masalah/keributan di kelas tambah 20 soal latihan
e.      Benar mengerjakan semua soal latihan boleh melihat film kartun dari youtube
f.      Mengerjakan dengan rapi dan selesai kurang dari waktu ditentukan mendapat bonus tambahan waktu bermain
g.     Nilai ulangan dapat 100 mendapat bonus ice cream.
4.     Pengaturan waktu makan dan minum (termasuk kualitas nutrisi dan kuantitas konsumsi) agar tidak menganggu kegiatan pengajaran
5.     Selalu berkonsultasi dengan orangtua tentang perilaku X di sekolah dan di rumah
6.     Merencanakan bersama pola-pola pendidikan yang terbaik bagi X dengan orangtua

vi. Kesimpulan 
Kesimpulannya, pertama, pembelajaran bahasa sangat penting untuk pengendalian perilaku diri. Kedua, faktor ekologi yang mempengaruhi perubahan perilaku dan kepribadian anak diantaranya adalah keluarga dan mereka yang berinteraksi langsung dengan individu (mikrosistem) serta interaksi yang terjadi antara elemen mikrosistem (mesosistem). Apabila ingin perubahan lebih dalam, anak juga perlu ditempatkan dalam norma lokal (eksosistem), norma global, pengaruh religiusitas dan nilai moral yang diyakini (makrosistem), serta pengaruh nilai-nilai zaman (kronosistem) yang mendukung kepribadian anak menjadi lebih baik..

Mr. G, Founder of Primagama English Kertanegara, jl. Kertanegara iv no 10 Semarang (gregdaru@gmail.com/085727200588)


Minggu, 17 Mei 2015

Indonesian Education System is in Crisis



Crisis? What crisis? Indonesia have more than 103 gold medals in International Olympic of Science. Indonesia, this one big nation, don't have crisis in education system. 

I believe that some will read this article and conveniently turn off or tune out without considering an iota of the argument or rhetoric presented.  It is my country, they certainly are my children, and I care about their education. this is my only reason. I care, and I throw bait to you to participate taking care our children's education. 

So what is the major malfunction of the Indonesian education system?  Does anyone truly believe “education” in  Indonesia is on par with the west, or even Asian countries like Japan, Korea or Singapore? Ask the question another way: If you had lots of money and had to have heart or brain surgery, would you trust Indonesian doctors and prefer to have that surgery performed here in Indonesia?  Even Indonesia won hundreds of gold medals in International Olympic of Science for youth?

If you answered “here in Indonesia” and trust Indonesian doctor, that will be a great surprise! My other friend would presume you either have a very decently western-trained physician, or else no resources whatsoever.  Or at least, none of my Indonesian friends with any money has ever had major medical procedures performed here.  They very readily say they would rather fly to Singapore than trust an Indonesian doctor to open them up.  Which is all one needs to know when it comes to “evidence”of the torturous state of Indonesian education.

Certainly we can take "scapegoat game" and spend time arguing about whose fault it is — but the more emergency, immediate and pressing question ought to be why Indonesia has not followed in the footsteps of Hong Kong, South Korea, Singapore and Japan.  

Rather than chasing red herrings that lead to nowhere, let us try to handle the real problems plaguing the system. Better to kill the disease than merely react the symptoms, though.

So what are the major issues here in Indonesia?  Let us look at a few.  

First, corruption: the graft and corruption that is Indonesia is almost unparalleled in scope, and its influence on the educational infrastructure of the country can not be overstated.  Indonesian government believes it is no mistake that diplomas being easily purchased and cash-laden envelopes greasing the wheels for degrees that have not been actually earned play a large part of the reasoning behind informed, well-off people in Indonesia traveling overseas to get medical attention.

Second, integrity (a best friend of the whole “systemic corruption” thing).  My friends usually raise a big question, are there any respectfully integrated teachers around? respectfully integrated ministers officials around? How can annual "National Examination test" (UN) for all grades always be a national dishonesty problems?  It seems there is no body with highest integrity works perfectly for Indonesian education. Some have integrity, but still low.  

This general deficiency quite literally bleeds into the educational system in this country. You know, the whole idea of paying for scores related to the national exams (UN) administered, the additional concept (practiced regularly) of envelopes of cash exchanged with administrators or teachers that, magically (or not so magically) seem to correlate to above average marks for students who clearly can barely spell their own names, let alone count and reason higher-level arithmetic.

And thus we come back to the reason well-off Indonesians and expatriates travel overseas for serious medical treatment. The reason will be: Indonesian education system is "still" in crisis

When will Indonesian Education system crisis be solved?

it must begins now with your honesty, integrity, and conscience.

 
Mr. G
founder of Primagama English Kertanegara
jl. Kertanegara IV number 10
email : pe_kertanegara@yahoo.com
081225474725