Tips Mendidik Anak yang “Nakal”
Empat tahun yang lalu,
tepatnya tahun 2011,
Ibu
Y yang pada waktu itu bekerja sebagai guru senior dari sekolah Islam favorit di Semarang datang pada lembaga
kami, “Primagama English Kertanegara
Course” dan ingin memberikan kursus bahasa Inggris pada anak bungsunya. Anak
bungsunya, X, berusia 4 tahun. Beliau mengatakan bahwa ia terlalu sayang pada
anaknya dan tidak tega mendidik anaknya terlalu tegas. Anak tersebut, X, memang
bisa dikatakan “nakal”, atau dalam perspektif psikologis berarti kurang dapat
mengendalikan diri untuk mematuhi norma sosial yang umum. Beberapa kali saya
melihat X menampar ibunya ketika X marah dan ibunya diam saja, Y hanya memeluk
dan mencium anaknya.
X memang bukan anak saya sendiri, tetapi saya sungguh
peduli akan masa depan anak tersebut. Itulah mengapa pendidikan terhadap X kami
tangani dengan sungguh-sungguh. Jika pada waktu masih kecil saja ia bisa
menampar ibunya, jika dibiarkan, di masa depan ia bisa menampar sahabat-sahabatnya
dan bahkan guru-gurunya. Adalah betul bahwa pendidikan bahasa akan mempengaruhi
perilaku anak, karena bahasa yang baik dan benar akan membawa seseorang pada
kepribadian yang baik dan benar (Habermas).
Empat tahun berlalu, dan X menunjukkan banyak
perkembangan perilaku. Ia semakin disiplin, kemauan belajarnya meningkat pesat,
disiplinnya juga meningkat. Bagaimana X mampu mengalami perubahan perilaku
sedemikian pesat? Apakah itu karena jasa “Primagama
English Kertanegara Course” semata? Tentu tidak. Ada proses kerjasama
antara lembaga kami, keluarga, ibu Y, dan X sendiri. Berikut adalah proses
perkembangan perilaku X yang saya jadikan tips pendidikan anak hari ini.
Dalam hal
pendidikan anak, saya dan lembaga kami mengacu pada prinsip teori Ekologi Urie
Bronfenbrenner. Menurut
Bronfenbrenner, perkembangan manusia amat dipengaruhi oleh sistem
bioekologi yang terdiri dari empat sistem utama yang saling berhubungan satu dengan yang
lain, yakni mikro, meso, ekso, dan makrosistem. Pada perkembangan waktu, ia
lalu menambahkan kronosistem. Berikut tips mengubah perilaku anak:
i. Mengendalikan Mikrosistem Anak
Mikrosistem melibatkan lingkungan yang berinteraksi langsung dengan
individu. Gen dari ayah dan ibu akan membentuk dasar kepribadian anak dan terlibat dalam pembentukan pemaknaan
hidup individu secara mendasar. Berkaitan dengan hal ini, ada pepatah yang
mengatakan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Sifat anak tidak akan jauh dari
ibunya, atau ayahnya secara mendasar. Dalam kasus X, ada kemungkinan penurunan
genetik sifat “nakal” atau “agresif” atau “tantrum” yang diturunkan oleh
leluhurnya. Hal ini perlu dimengerti, diakui, dan diubah. Tapi tentu semua anak
mempunyai gabungan genetis sifat-sifat yang positif maupun negatif dari
orangtuanya. Semua manusia toh mempunyai kekuatan dan kelemahan.
Pemaknaan individu
alami ini kemudian berinteraksi dengan pengalaman langsung individu selama
beberapa waktu dengan pribadi-pribadi dalam lingkungan terdekatnya. Dengan
demikian, dinamika emosi yang dialami dan terekam, kekuatan psikologis diri
atau kelemahan diri yang terbangun dari interaksi tersebut menjadi data-data
yang diolah oleh kognitif-psikomotorik-afektif individu selama ia hidup dan
berkembang membentuk pemaknaan hidup individu. Dalam kasus X, ia kami gabungkan
dalam kelas-kelas bahasa Inggris yang bisa mengubah dia, misalnya ke kelas
kakak kelasnya yang lebih dewasa dan lebih pandai. Interaksi X dengan mereka
yang lebih bersifat dewasa akan mempengaruhi X menjadi pribadi yang mampu
mengendalikan diri, karena semakin ia mampu mengendalikan diri, ia akan semakin
diterima secara sosial oleh anggota kelas. Saya sungguh meminta kelas saya
untuk menjalin persahabatan satu dengan yang lain, sebagaimana saya berusaha
keras bersahabat dengan murid-murid saya. Kami tidak menekankan sistem
kompetisi, melainkan persahabatan dalam anggota kelas. Mereka yang pintar wajib
mendukung mereka yang kurang pintar.
Kami punya
aturan, “semakin tidak mampu
mengendalikan perilaku (nakal), semakin banyak tugas, semakin disiplin, semakin
sedikit tugas”. Pada prakteknya, mereka yang lebih disiplin memang diberi
tugas yang lebih sedikit, tetapi kualitasnya lebih sulit. Di awal pembelajaran,
X harus mengerjakan banyak tugas dan PR karena kepribadiannya yang tidak
disiplin. Tapi seiring berjalannya waktu, ia lebih memilih untuk mengikuti peraturan
dan berusaha disiplin. Mungkin juga X semakin disiplin karena bosan senantiasa
mengerjakan banyak tugas. Ketika ia
sadar bahwa dengan mengikuti peraturan ia bahkan mempunyai waktu bermain lebih
banyak, ia membiasakan diri untuk disiplin sampai sekarang.
ii. Mengatur Mesosistem Anak
Mesosistem
merupakan hubungan antara mikrosistem dengan mikrosistem yang lain. Hal-hal yang terjadi dalam satu mikrosistem dapat
mempengaruhi interaksi dengan mikrosistem yang lain.
Dalam kasus X,
semua interaksi mikrosistem di sekitar X perlu mendukung supaya X menjadi
pribadi yang lebih terkendali.hal-hal yang kami lakukan diantaranya:
1.
Menciptakan suasana humor di luar kelas untuk murid-murid
termasuk X untuk mereduksi tantrumnya
2.
Menciptakan waktu untuk ngobrol dengan X supaya ada
kepercayaan.
3.
Suasana kelas perlu diatur sedemikian rupa sehingga
mendukung kedisiplinan, berikan aturan-aturan yang jelas tujuannya berikut
konsekwensi apabila dilanggar seperti:
a.
Terlambat, tambah 10 soal latihan
b.
Tidak fokus, tambah 5 soal latihan
c.
Tidak bawa alat tulis tambah 10 soal latihan
d.
Membuat masalah/keributan di kelas tambah 20 soal latihan
e.
Benar mengerjakan semua soal latihan boleh melihat film
kartun dari youtube
f.
Mengerjakan dengan rapi dan selesai kurang dari waktu
ditentukan mendapat bonus tambahan waktu bermain
g.
Nilai ulangan dapat 100 mendapat bonus ice cream.
4.
Pengaturan waktu makan dan minum (termasuk kualitas
nutrisi dan kuantitas konsumsi) agar tidak menganggu kegiatan pengajaran
5.
Selalu berkonsultasi dengan orangtua tentang perilaku X
di sekolah dan di rumah
6.
Merencanakan bersama pola-pola pendidikan yang terbaik
bagi X dengan orangtua
vi.
Kesimpulan
Kesimpulannya, pertama, pembelajaran bahasa sangat
penting untuk pengendalian perilaku diri. Kedua, faktor ekologi
yang
mempengaruhi perubahan perilaku dan kepribadian anak diantaranya adalah keluarga
dan mereka yang berinteraksi langsung dengan individu (mikrosistem) serta
interaksi yang terjadi antara elemen mikrosistem (mesosistem). Apabila ingin perubahan
lebih dalam, anak juga perlu ditempatkan dalam norma lokal (eksosistem), norma
global,
pengaruh religiusitas dan nilai moral yang diyakini (makrosistem), serta
pengaruh nilai-nilai zaman (kronosistem) yang mendukung kepribadian anak menjadi lebih baik..
Mr. G, Founder of Primagama English Kertanegara, jl.
Kertanegara iv no 10 Semarang (gregdaru@gmail.com/085727200588)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar