my plane

Senin, 18 Mei 2015

Tips Mendidik Anak yang “Nakal”
Empat tahun yang lalu, tepatnya tahun 2011, Ibu Y yang pada waktu itu bekerja sebagai guru senior dari sekolah Islam favorit di Semarang datang pada lembaga kami, “Primagama English Kertanegara Course” dan ingin memberikan kursus bahasa Inggris pada anak bungsunya. Anak bungsunya, X, berusia 4 tahun. Beliau mengatakan bahwa ia terlalu sayang pada anaknya dan tidak tega mendidik anaknya terlalu tegas. Anak tersebut, X, memang bisa dikatakan “nakal”, atau dalam perspektif psikologis berarti kurang dapat mengendalikan diri untuk mematuhi norma sosial yang umum. Beberapa kali saya melihat X menampar ibunya ketika X marah dan ibunya diam saja, Y hanya memeluk dan mencium anaknya.  
X memang bukan anak saya sendiri, tetapi saya sungguh peduli akan masa depan anak tersebut. Itulah mengapa pendidikan terhadap X kami tangani dengan sungguh-sungguh. Jika pada waktu masih kecil saja ia bisa menampar ibunya, jika dibiarkan, di masa depan ia bisa menampar sahabat-sahabatnya dan bahkan guru-gurunya. Adalah betul bahwa pendidikan bahasa akan mempengaruhi perilaku anak, karena bahasa yang baik dan benar akan membawa seseorang pada kepribadian yang baik dan benar (Habermas).
Empat tahun berlalu, dan X menunjukkan banyak perkembangan perilaku. Ia semakin disiplin, kemauan belajarnya meningkat pesat, disiplinnya juga meningkat. Bagaimana X mampu mengalami perubahan perilaku sedemikian pesat? Apakah itu karena jasa “Primagama English Kertanegara Course” semata? Tentu tidak. Ada proses kerjasama antara lembaga kami, keluarga, ibu Y, dan X sendiri. Berikut adalah proses perkembangan perilaku X yang saya jadikan tips pendidikan anak hari ini.
Dalam hal pendidikan anak, saya dan lembaga kami mengacu pada prinsip teori Ekologi Urie Bronfenbrenner. Menurut Bronfenbrenner, perkembangan manusia amat dipengaruhi oleh sistem bioekologi yang terdiri dari empat sistem utama yang saling berhubungan satu dengan yang lain, yakni mikro, meso, ekso, dan makrosistem. Pada perkembangan waktu, ia lalu menambahkan kronosistem. Berikut tips mengubah perilaku anak:
i. Mengendalikan Mikrosistem Anak
Mikrosistem melibatkan lingkungan yang berinteraksi langsung dengan individu. Gen dari ayah dan ibu akan membentuk dasar kepribadian anak dan terlibat dalam pembentukan pemaknaan hidup individu secara mendasar. Berkaitan dengan hal ini, ada pepatah yang mengatakan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Sifat anak tidak akan jauh dari ibunya, atau ayahnya secara mendasar. Dalam kasus X, ada kemungkinan penurunan genetik sifat “nakal” atau “agresif” atau “tantrum” yang diturunkan oleh leluhurnya. Hal ini perlu dimengerti, diakui, dan diubah. Tapi tentu semua anak mempunyai gabungan genetis sifat-sifat yang positif maupun negatif dari orangtuanya. Semua manusia toh mempunyai kekuatan dan kelemahan.   
Pemaknaan individu alami ini kemudian berinteraksi dengan pengalaman langsung individu selama beberapa waktu dengan pribadi-pribadi dalam lingkungan terdekatnya. Dengan demikian, dinamika emosi yang dialami dan terekam, kekuatan psikologis diri atau kelemahan diri yang terbangun dari interaksi tersebut menjadi data-data yang diolah oleh kognitif-psikomotorik-afektif individu selama ia hidup dan berkembang membentuk pemaknaan hidup individu. Dalam kasus X, ia kami gabungkan dalam kelas-kelas bahasa Inggris yang bisa mengubah dia, misalnya ke kelas kakak kelasnya yang lebih dewasa dan lebih pandai. Interaksi X dengan mereka yang lebih bersifat dewasa akan mempengaruhi X menjadi pribadi yang mampu mengendalikan diri, karena semakin ia mampu mengendalikan diri, ia akan semakin diterima secara sosial oleh anggota kelas. Saya sungguh meminta kelas saya untuk menjalin persahabatan satu dengan yang lain, sebagaimana saya berusaha keras bersahabat dengan murid-murid saya. Kami tidak menekankan sistem kompetisi, melainkan persahabatan dalam anggota kelas. Mereka yang pintar wajib mendukung mereka yang kurang pintar.
Kami punya aturan, “semakin tidak mampu mengendalikan perilaku (nakal), semakin banyak tugas, semakin disiplin, semakin sedikit tugas”. Pada prakteknya, mereka yang lebih disiplin memang diberi tugas yang lebih sedikit, tetapi kualitasnya lebih sulit. Di awal pembelajaran, X harus mengerjakan banyak tugas dan PR karena kepribadiannya yang tidak disiplin. Tapi seiring berjalannya waktu, ia lebih memilih untuk mengikuti peraturan dan berusaha disiplin. Mungkin juga X semakin disiplin karena bosan senantiasa mengerjakan banyak tugas.  Ketika ia sadar bahwa dengan mengikuti peraturan ia bahkan mempunyai waktu bermain lebih banyak, ia membiasakan diri untuk disiplin sampai sekarang.
ii. Mengatur Mesosistem Anak
Mesosistem merupakan hubungan antara mikrosistem dengan mikrosistem yang lain. Hal-hal yang terjadi dalam satu mikrosistem dapat mempengaruhi interaksi dengan mikrosistem yang lain.
Dalam kasus X, semua interaksi mikrosistem di sekitar X perlu mendukung supaya X menjadi pribadi yang lebih terkendali.hal-hal yang kami lakukan diantaranya:
1.     Menciptakan suasana humor di luar kelas untuk murid-murid termasuk X untuk  mereduksi tantrumnya
2.     Menciptakan waktu untuk ngobrol dengan X supaya ada kepercayaan.
3.     Suasana kelas perlu diatur sedemikian rupa sehingga mendukung kedisiplinan, berikan aturan-aturan yang jelas tujuannya berikut konsekwensi apabila dilanggar seperti:
a.      Terlambat, tambah 10 soal latihan
b.     Tidak fokus, tambah 5 soal latihan
c.      Tidak bawa alat tulis tambah 10 soal latihan
d.     Membuat masalah/keributan di kelas tambah 20 soal latihan
e.      Benar mengerjakan semua soal latihan boleh melihat film kartun dari youtube
f.      Mengerjakan dengan rapi dan selesai kurang dari waktu ditentukan mendapat bonus tambahan waktu bermain
g.     Nilai ulangan dapat 100 mendapat bonus ice cream.
4.     Pengaturan waktu makan dan minum (termasuk kualitas nutrisi dan kuantitas konsumsi) agar tidak menganggu kegiatan pengajaran
5.     Selalu berkonsultasi dengan orangtua tentang perilaku X di sekolah dan di rumah
6.     Merencanakan bersama pola-pola pendidikan yang terbaik bagi X dengan orangtua

vi. Kesimpulan 
Kesimpulannya, pertama, pembelajaran bahasa sangat penting untuk pengendalian perilaku diri. Kedua, faktor ekologi yang mempengaruhi perubahan perilaku dan kepribadian anak diantaranya adalah keluarga dan mereka yang berinteraksi langsung dengan individu (mikrosistem) serta interaksi yang terjadi antara elemen mikrosistem (mesosistem). Apabila ingin perubahan lebih dalam, anak juga perlu ditempatkan dalam norma lokal (eksosistem), norma global, pengaruh religiusitas dan nilai moral yang diyakini (makrosistem), serta pengaruh nilai-nilai zaman (kronosistem) yang mendukung kepribadian anak menjadi lebih baik..

Mr. G, Founder of Primagama English Kertanegara, jl. Kertanegara iv no 10 Semarang (gregdaru@gmail.com/085727200588)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar