WANITA TIDAK BISA SALAH JIKA SEDANG
MARAH
Suatu saat, salah seorang teman wanita
pernah menyatakan satu hal yang menarik pada saya, katanya, “G, nanti kalau
kamu bertengkar dengan istrimu, diiyakan saja, wanita itu tidak pernah bisa
disalahkan kalau lagi marah-marah.” Well, kita tahu, konteks percakapan
tersebut adalah situasi bercanda. Teman saya yang lain, pria, menanggapi, “Benar
itu! Saudaraku perempuan kalau marah-marah juga parah! Pokoknya dia harus selalu
benar, kaya kalkulator saja.” Kami semua tertawa renyah.
Tulisan ini tidak bermaksud menjadi tulisan bernada diskriminasi gender
yang menyalahkan kaum hawa karena menurut kitab suci ia adalah orang pertama yang
mengambil buah terlarang, atau karena menurut mitos, wanita adalah kaum yang
lemah secara emosional, bukan seperti itu. Tulisan ini bermaksud membahas peran
emosi dalam pendidikan kehidupan manusia. Sederhananya, apabila ada pertanyaan
seperti ”Apa penyebab perceraian?”, “Apa penyebab perang?”, “Apa penyebab
penderitaan?”, ”Apa penyebab perkelahian antar pelajar?”, dan seterusnya. Jawaban
penulis hanya satu: ketidakmampuan
mengendalikan emosi.
Tentu ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi bisa terjadi pada siapa
saja, baik laki-laki maupun perempuan, tua-muda, besar-kecil, siapapun itu. Hanya
saja lebih menarik apabila kita berfokus pada tema pengendalian emosi pada “wanita”.
Kenapa wanita? Karena tanpa wanita, dunia tak berharga=).
Pertama-tama, penulis ingin
menggarisbawahi bahwa pengendalian emosi penting dilakukan oleh wanita,
siapapun Anda. Wanita adalah calon ibu. Ibu adalah orang pertama yang berdiri
untuk mendidik anak-anaknya. Ibu adalah orang pertama yang menjaga suaminya
dari segala keletihan karena bekerja. Ada alasan mulia kenapa bangsa kita memilih
menamakan Ibu Pertiwi sebagai personifikasi bangsa daripada bapak Pertiwi. Indonesia juga lebih perduli terhadap hari Ibu pada tanggal 22 Desember, daripada hari Ayah, yang tidak pernah dirayakan.
Berbicara tentang pengendalian emosi,
ketahuilah bahwa emosi positif membawa pemaknaan hidup individu ke arah yang
positif (dewasa)
dan emosi negatif membawa pemaknaan hidup individu ke arah negatif (tidak dewasa). Seligman dalam bukunya Authentic Happiness (2002) menggolongkan emosi positif dalam tiga
kategori sebagai berikut; emosi terhadap masa lalu, emosi terhadap masa sekarang, emosi terhadap masa depan.
Emosi terhadap masa lalu yang bersifat positif mengandung
unsur-unsur seperti: kepuasan, kebanggaan, ketentraman, ketenangan, kedamaian,
kepenuhan, serta
semua emosi positif yang dihasilkan dari interaksi
antara individu dengan pengalaman masa lalu. Emosi terhadap pengalaman masa lalu yang bersifat
negatif mengandung unsur-unsur seperti; ketidakpuasan, luka batin, dendam,
kebencian, serta kecemasan yang dihasilkan dari pengalaman negatif masa lalu.
Emosi positif terhadap masa sekarang mengandung dua unsur
ini: kesenangan indrawi dan kenyamanan psikis yang dialami di masa sekarang akibat interaksi individu dengan pengalaman di masa
sekarang. Kebalikan dari emosi positif terhadap masa sekarang, yaitu emosi negatif di
masa sekarang. Emosi ini disebabkan oleh pengalaman negatif akibat interaksi
individu dengan pengalaman traumatis baru-baru ini, yang disebabkan kontak fisik seseorang dengan kegagalan, penindasan, maupun kecemasan.
Emosi terhadap masa depan adalah
kualitas harapan seseorang di masa depan. Semakin banyak
individu mengalami emosi positif, semakin besar harapan hidupnya. Emosi negatif
terhadap masa depan dapat dialami apabila seseorang tidak lagi mempunyai
harapan untuk masa depannya. Banyaknya kumpulan rekaman emosi negatif dari masa
lalu sampai dengan sekarang menjadi penyebabnya (Seligman,
2002, h.
10-20).
Wanita yang banyak merekam
emosi-emosi positif dalam dirinya berpotensi besar menjadi wanita yang dewasa.Wanita
yang banyak merekam emosi-emosi negatif dalam dirinya berpotensi besar menjadi
wanita yang tidak dewasa. Selanjutnya, anda bisa menebak, wanita-wanita tidak
dewasa akan mendidik generasi bangsa ini dengan penanaman emosi negatif seperti
kemarahan, kebencian, dendam, iri hati dan seterusnya. Wanita yang mempunyai
terlalu banyak emosi negatif dirinya perlu mengadakan penyembuhan luka batin,
atau rekonsiliasi terhadap masa lalu sebelum mendidik anaknya.
Bagaimana mendapatkan dan merekam lebih
banyak emosi positif? Hanya satu saran penulis, carilah komunitas yang
memberikan anda kekuatan untuk menjadi lebih baik. Cermati keluarga,
teman-teman, sahabat-sahabat, orang yang anda sayangi. Apakah dengan adanya interaksi
antara Anda dan mereka, Anda merekam emosi yang menentramkan anda? Atau malah
lebih meresahkan Anda? Jika cenderung meresahkan, wanita yang bijak perlu
segera mengambil sikap dengan mencari komunitas baru yang mendukung
kepribadiannya.
Sangat
penting bagi para wanita untuk banyak-banyak merekam emosi yang positif,
yang cenderung menentramkan, mendamaikan, daripada merekam emosi yang
meresahkan. Hindari juga “hedonism
treadmill”, pola hidup hedonisme yang hanya memberi ketentraman sementara,
dan lebih banyak memberi kehausan selamanya. Jika anda sudah menemukan
komunitas yang cukup menentramkan dan banyak memberikan emosi positif pada Anda,
anak-anak atau calon anak-anak yang akan anda didik akan berada dalam
lingkungan pendidikan yang aman. Sebaliknya, apabila anda masih bertekun dalam
komunitas yang banyak meresahkan anda, memberikan anda rasa tidak aman, anda
harus bersiap, karena anda akan mendidik anak-anak anda dengan ketidakmampuan anda mengendalikan emosi.
Salam “Solidaritas”
Mr. G
Founder of “Primagama English Kertanegara”
Jl. Kertanegara iv no 10 Semarang (7 menit dari
Simpang Lima)
Email = gregdaru@gmail.com
