my plane

Senin, 30 Juni 2014

INVESTASI PEMIMPIN TERHADAP SUMBER DAYA MANUSIA
(Gregorius Daru Wijoyoko, dosen di AKFAR Theresiana Semarang)

Setiap kali diadakan proses pemilihan pemimpin baru, akan muncul pandangan baru. Umumnya, ada dua pandangan yang muncul. Pertama, pandangan atau harapan untuk hidup lebih baik bagi mereka yang optimis, kedua, pandangan untuk hidup lebih buruk bagi mereka yang pesimis. LSI mengatakan akan ada 41% swing voters (Kompas.com, 21 Mei 2014). Jika lembaga survei tersebut benar, ada kemungkinan 60% rakyat optimis dan 40% rakyat pesimis atau minimal menimbang-nimbang kehidupan di masa depan mereka, karena dipimpin oleh pemimpin yang baru. Angka tersebut bisa bergeser, presentase pihak optimis semakin membesar atau pihak pesimis yang meningkat.
Terbaru, pihak pesimis maupun optimis dapat mengevaluasi debat capres cawapres yang diadakan KPU. Dari 12,2 juta penonton televisi, acara debat tersebut sempat menggeser berbagai acara unggulan hiburan televisi. Debat ini berada di peringkat dua besar acara favorit pemirsa pada prime time tanggal 9 Juni 2014 lalu (Si Momot.com, 16 Juni 2014). Ada sekian banyak pemirsa yang menjadi saksi bahwa kedua capres menjanjikan anggaran besar bagi pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Pihak yang optimis terhadap pilihannya akan merasa baik-baik saja, sedangkan pihak pesimis tentu akan mempertanyakan, seberapa mampu capres tersebut mengelola anggaran yang besar bagi pengembangan sumber daya manusia? Apakah ada jaminan bahwa besarnya anggaran yang ditujukan pada pengembangan sumber daya manusia berdampak pada meningkatnya kualitas sumber daya manusia?
Setiap pemimpin bangsa maupun mereka yang dipimpin pasti akan menghidupi topik perkembangan kemampuan sumber daya manusia (SDM) bangsa untuk berkembang. Tema perkembangan SDM mempunyai dua kutub berseberangan. Kutub pertama adalah kutub SDM yang gagal berkembang dalam kehidupan berbangsa, kutub yang kedua adalah kutub keberhasilan SDM dalam kehidupan berbangsa. Pembahasan tentang tema perkembangan tersebut berarti membicarakan dinamika pergerakan posisi kemampuan SDM di antara kedua kutub tersebut. Pembangunan SDM dikatakan berhasil apabila SDM dari kutub gagal mampu menyeberang menjadi SDM di kutub berhasil. Pavlov mengatakan proses penyeberangan tersebut akan tergantung dari stimulus-stimulus “classical conditioning”  yang ada di sekitarnya, Skinner mengatakan kemampuan tersebut tergantung dari pola perilaku “operant conditioning” yang terbentuk dari manusia, Bandura mengatakan bahwa kemampuan tersebut tergantung dari guru atau orang-orang yang dijadikan oleh individu tersebut materi observasi untuk ditiru (Wood dan Wood, 1993). Banyak ahli akan setuju bahwa manusia akan mampu menyeberang dari kutub kegagalan ke kutub keberhasilan. Yang menarik, dari proses debat capres, kedua capres telah setuju bahwa awal mula dari keberhasilan pengembangan SDM dimulai dari investasi pendidikan.
Kita mulai dengan posisi awal SDM di negeri kita. Adakah SDM Indonesia, dalam hal ini para pelajar, berada di kutub kegagalan, atau kutub keberhasilan, atau di antaranya. Di Indonesia sendiri, hasil penelitian tahun 2011 menyatakan bahwa kemampuan belajar siswa di Indonesia, masih di bawah negara-negara lain di Asia. Hasil studi tersebut diperoleh dari lembaga survei pendidikan internasional, The Australian Council for Educational Research (ACER), dengan skala Trends in International Mathematics and Science (TIMS) dan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS). Tahun 2011, data menunjukkan bahwa kemampuan siswa di Indonesia tidak berkembang (Kompas.com, “Kurikulum Diubah Karena Kemampuan Siswa “Mandek””, 6 Maret 2013). Menurut PISA center(www.indonesiapisacenter.com), ditahun 2012, kemampuan problem solving siswa Indonesia menempati peringkat 64 dari 65 negara. Kesulitan siswa Indonesia untuk berkembang juga dikemukakan oleh “Media Indonesia” (MetroTV news.com, 5 Desember 2012).
Di sisi lain, ada juga pendapat yang mengungkapkan bahwa Indonesia sudah berada dalam kutub keberhasilan. Peristiwa pencapaian medali emas, perak dan perunggu Olimpiade Sains tahun 2011 di Menado oleh anak-anak Papua adalah salah satu contohnya (Kompas.com, “Anak-anak Papua Persembahkan Medali Emas”, 18 November 2011). Kristian Murib (Wamena), Merlin Kogoya (Tolikara), Kohoin Marandey (Sorong Selatan), dan Ayu Rogi (Waropen) mendapatkan medali emas. Mereka yang meraih medali perak adalah Syors Srefle (Sorong Selatan), Natalisa Dori (Waropen), Nikolaus Taote (Mimika), dan Emon Wakerwa (Tolikara). Medali perunggu dipersembahkan Alex Wanimbo (Lani Jaya), Boni Logo (Wamena), dan Ester Aifufu (Sorong Selatan). Supriadi  Rustad, Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Indonesia (www.dikti.co.id, “Program Prioritas Pendidikan untuk Papua dan Papua Barat, 22 Januari 2014) menyatakan Papua termasuk area 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Logikanya, apabila siswa-siswa dari Papua -yang dinyatakan sebagai daerah tertinggal Indonesia- mampu memenangkan olimpiade, seharusnya siswa-siswa dari daerah lain di Indonesia juga mampu bersaing di dunia internasional.
Dua fakta berlainan ini bisa diperhatikan oleh calon pemimpin. Pertama, dari sekian banyak anggaran yang telah dikeluarkan oleh pemerintah selama bertahun-tahun untuk memperbaiki pendidikan, secara umum, perkembangan siswa Indonesia belum diakui dunia internasional. Dua, mereka yang mampu berprestasi, tidak selalu dari pihak yang diberi anggaran dana berlimpah untuk pendidikan. Daerah Papua, yang termasuk dalam 3T telah menyumbangkan anak-anaknya berprestasi di dunia internasional.
Sistem manajemen dana sumber pengembangan SDM kiranya perlu dijelaskan lebih lanjut dalam proses penjelasan visi misi dalam debat berikutnya. Penting untuk dijelaskan, karena menurut kedua capres, proyek untuk pengembangan SDM akan dianggarkan dengan dana besar. Semoga rakyat mengerti bahwa masalah pendidikan bukan hanya penyaluran “dendam kemiskinan” mereka karena selama ini akses terhadap pendidikan bagi sebagian rakyat miskin (28,07 juta orang menurut BPS, 2013) cukup sulit, atau karena gaji guru di bawah UMR. Penting untuk diperhatikan sistem pendidikan seperti apa, sekolah seperti apa, kurikulum yang bagaimana, kualifikasi pengajar seperti apa, bentuk ujian nasional yang bagaimana yang diharapkan, setelah anggaran besar-besaran untuk pendidikan nanti dicairkan. Kesejahteraan para pengajar tentu sangatlah penting, namun harus terintegrasi dengan sistem pendidikan yang berlangsung. Jangan sampai anggaran besar tersebut difokuskan untuk penyaluran id (istilah Freud untuk hasrat animal manusia) para pendidik.
Tentu rakyat tidak ingin adanya penghamburan uang negara untuk alasan yang mulia. Anggaran yang besar, jika tanpa diimbangi sistem kontrol yang jelas, sangat berpotensi mendukung habitus hedonism treadmill (Alan Car, 2004). Untuk mencegah penghamburan dana yang besar, perlu ada sistem yang menstimulasi variabel komitmen mereka yang bekerja di dunia pendidikan. Jadi, tugas pemimpin terutama membuat sistem yang menstimulasi komitmen para pekerja di bidang pendidikan yang melayani siswa-siswa sebagai SDM Indonesia. Sejujurnya ide tentang sistem yang menstimulasi komitmen inilah yang ditunggu oleh banyak pemirsa. Jepang mempunyai cara mereka, Jerman mempunyai cara mereka, Inggris mempunyai cara mereka, negara-negara maju mempunyai cara mereka. Semoga pemimpin Indonesia yang baru juga mempunyai cara mereka.     

DAFTAR PUSTAKA
1.    Alan Carr, 2004. Positive Psychology, New York: Brunner-Routledge.
2.    Freud, Sigmund, 1962, The Ego and the Id, New York: Norton Library.

3.    Wood, Samuel L and Wood, Ellen G, The World of Psychology, New Jersey: Pearson. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar