INVESTASI PEMIMPIN TERHADAP SUMBER DAYA MANUSIA
(Gregorius Daru Wijoyoko, dosen di AKFAR Theresiana
Semarang)
Setiap kali diadakan proses pemilihan pemimpin baru, akan muncul pandangan
baru. Umumnya, ada dua pandangan yang muncul. Pertama, pandangan atau harapan
untuk hidup lebih baik bagi mereka yang optimis, kedua, pandangan untuk hidup
lebih buruk bagi mereka yang pesimis. LSI mengatakan akan ada 41% swing voters (Kompas.com, 21 Mei 2014). Jika lembaga survei tersebut benar,
ada kemungkinan 60% rakyat optimis dan 40% rakyat pesimis atau minimal
menimbang-nimbang kehidupan di masa depan mereka, karena dipimpin oleh pemimpin
yang baru. Angka tersebut bisa bergeser, presentase pihak optimis semakin
membesar atau pihak pesimis yang meningkat.
Terbaru, pihak pesimis maupun optimis dapat mengevaluasi debat capres
cawapres yang diadakan KPU. Dari 12,2 juta penonton televisi, acara debat
tersebut sempat menggeser berbagai acara unggulan hiburan televisi. Debat ini
berada di peringkat dua besar acara favorit pemirsa pada prime time tanggal 9 Juni 2014 lalu (Si Momot.com, 16 Juni 2014). Ada
sekian banyak pemirsa yang menjadi saksi bahwa kedua capres menjanjikan
anggaran besar bagi pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Pihak yang
optimis terhadap pilihannya akan merasa baik-baik saja, sedangkan pihak pesimis
tentu akan mempertanyakan, seberapa mampu capres tersebut mengelola anggaran
yang besar bagi pengembangan sumber daya manusia? Apakah ada jaminan bahwa
besarnya anggaran yang ditujukan pada pengembangan sumber daya manusia
berdampak pada meningkatnya kualitas sumber daya manusia?
Setiap pemimpin bangsa maupun mereka yang
dipimpin pasti akan menghidupi topik perkembangan kemampuan sumber daya manusia
(SDM) bangsa untuk berkembang. Tema perkembangan SDM mempunyai dua kutub berseberangan. Kutub pertama adalah kutub SDM yang gagal berkembang dalam kehidupan berbangsa,
kutub yang kedua adalah kutub keberhasilan SDM dalam kehidupan berbangsa.
Pembahasan tentang tema perkembangan tersebut berarti membicarakan dinamika pergerakan posisi
kemampuan SDM di antara
kedua kutub tersebut. Pembangunan SDM dikatakan berhasil apabila
SDM dari kutub gagal mampu menyeberang menjadi SDM di kutub berhasil.
Pavlov mengatakan proses penyeberangan tersebut akan
tergantung dari stimulus-stimulus “classical
conditioning” yang ada di
sekitarnya, Skinner mengatakan kemampuan tersebut tergantung dari pola perilaku
“operant conditioning” yang terbentuk
dari manusia, Bandura
mengatakan bahwa kemampuan tersebut tergantung dari guru atau orang-orang yang dijadikan oleh individu tersebut materi observasi
untuk ditiru (Wood dan Wood, 1993). Banyak ahli akan setuju bahwa manusia akan
mampu menyeberang dari kutub kegagalan ke kutub keberhasilan. Yang menarik,
dari proses debat capres, kedua capres telah setuju bahwa awal mula dari keberhasilan
pengembangan SDM dimulai dari investasi pendidikan.
Kita mulai dengan posisi awal SDM di negeri
kita. Adakah SDM Indonesia, dalam hal ini para pelajar, berada di kutub
kegagalan, atau kutub keberhasilan, atau di antaranya. Di Indonesia sendiri, hasil penelitian
tahun 2011 menyatakan bahwa kemampuan belajar siswa di Indonesia, masih di
bawah negara-negara lain di Asia. Hasil studi tersebut diperoleh dari lembaga
survei pendidikan internasional, The
Australian Council for Educational Research (ACER), dengan skala Trends in International Mathematics and
Science (TIMS) dan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS). Tahun 2011, data menunjukkan
bahwa kemampuan siswa di Indonesia tidak berkembang (Kompas.com, “Kurikulum
Diubah Karena Kemampuan Siswa “Mandek””, 6 Maret 2013). Menurut
PISA center(www.indonesiapisacenter.com), ditahun 2012, kemampuan problem solving siswa Indonesia
menempati peringkat 64 dari 65 negara. Kesulitan siswa Indonesia
untuk berkembang juga dikemukakan
oleh “Media Indonesia” (MetroTV news.com, 5 Desember 2012).
Di sisi lain, ada juga pendapat yang mengungkapkan bahwa
Indonesia sudah berada dalam kutub keberhasilan. Peristiwa pencapaian medali
emas, perak dan perunggu Olimpiade Sains tahun 2011 di Menado oleh anak-anak
Papua adalah salah satu contohnya (Kompas.com, “Anak-anak Papua Persembahkan
Medali Emas”, 18 November 2011). Kristian Murib (Wamena), Merlin Kogoya
(Tolikara), Kohoin Marandey (Sorong Selatan), dan Ayu Rogi (Waropen)
mendapatkan medali emas. Mereka yang meraih medali perak adalah Syors Srefle
(Sorong Selatan), Natalisa Dori (Waropen), Nikolaus Taote (Mimika), dan Emon
Wakerwa (Tolikara). Medali perunggu dipersembahkan
Alex Wanimbo (Lani Jaya), Boni Logo (Wamena), dan Ester Aifufu (Sorong
Selatan). Supriadi Rustad, Direktur Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Indonesia (www.dikti.co.id, “Program Prioritas Pendidikan untuk
Papua dan Papua Barat, 22 Januari 2014) menyatakan Papua termasuk area 3T (Terdepan,
Terluar, Tertinggal). Logikanya, apabila siswa-siswa dari Papua -yang dinyatakan sebagai daerah
tertinggal Indonesia- mampu memenangkan olimpiade, seharusnya siswa-siswa dari
daerah lain di Indonesia juga mampu bersaing di dunia internasional.
Dua fakta berlainan ini bisa diperhatikan oleh calon pemimpin. Pertama,
dari sekian banyak anggaran yang telah dikeluarkan oleh pemerintah selama
bertahun-tahun untuk memperbaiki pendidikan, secara umum, perkembangan siswa
Indonesia belum diakui dunia internasional. Dua, mereka yang mampu berprestasi,
tidak selalu dari pihak yang diberi anggaran dana berlimpah untuk pendidikan.
Daerah Papua, yang termasuk dalam 3T telah menyumbangkan anak-anaknya
berprestasi di dunia internasional.
Sistem manajemen dana sumber pengembangan SDM kiranya perlu dijelaskan
lebih lanjut dalam proses penjelasan visi misi dalam debat berikutnya. Penting
untuk dijelaskan, karena menurut kedua capres, proyek untuk pengembangan SDM
akan dianggarkan dengan dana besar. Semoga rakyat mengerti bahwa masalah
pendidikan bukan hanya penyaluran “dendam kemiskinan” mereka karena selama ini akses
terhadap pendidikan bagi sebagian rakyat miskin (28,07 juta orang menurut BPS,
2013) cukup sulit, atau karena gaji guru di bawah UMR. Penting untuk diperhatikan
sistem pendidikan seperti apa, sekolah seperti apa, kurikulum yang bagaimana,
kualifikasi pengajar seperti apa, bentuk ujian nasional yang bagaimana yang
diharapkan, setelah anggaran besar-besaran untuk pendidikan nanti dicairkan. Kesejahteraan
para pengajar tentu sangatlah penting, namun harus terintegrasi dengan sistem
pendidikan yang berlangsung. Jangan sampai anggaran besar tersebut difokuskan
untuk penyaluran id (istilah Freud
untuk hasrat animal manusia) para
pendidik.
Tentu rakyat tidak ingin adanya penghamburan uang negara untuk alasan yang
mulia. Anggaran yang besar, jika tanpa diimbangi sistem kontrol yang jelas, sangat
berpotensi mendukung habitus hedonism
treadmill (Alan Car, 2004). Untuk
mencegah penghamburan dana yang besar, perlu ada sistem yang menstimulasi
variabel komitmen mereka yang bekerja di dunia pendidikan. Jadi, tugas pemimpin
terutama membuat sistem yang menstimulasi komitmen para pekerja di bidang
pendidikan yang melayani siswa-siswa sebagai SDM Indonesia. Sejujurnya ide
tentang sistem yang menstimulasi komitmen inilah yang ditunggu oleh banyak
pemirsa. Jepang mempunyai cara mereka, Jerman mempunyai cara mereka, Inggris
mempunyai cara mereka, negara-negara maju mempunyai cara mereka. Semoga
pemimpin Indonesia yang baru juga mempunyai cara mereka.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Alan Carr, 2004. Positive Psychology, New York:
Brunner-Routledge.
2.
Freud, Sigmund, 1962, The Ego and the Id, New York: Norton Library.
3.
Wood, Samuel
L and Wood, Ellen G, The World of
Psychology, New Jersey: Pearson.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar